Bab 47. Luka dalam Kata

275 28 0
                                    

Derit pintu yang bergesekan dengan lantai terdengar nyaring di telinga Rena, sesaat tangannya mendorong kayu penghalang tersebut hingga benar-benar terbuka. Ruangan remang yang hanya diisi oleh titik-titik sinar matahari sore dari ventilasi di atas jendela, menyapu pandangan Rena ketika kakinya beranjak masuk. Udara pengap begitu terasa menyentuh indra penciumannya, khas ruangan yang terkunci rapat dalam jangka waktu lama.

Menyalakan mode senter pada ponsel, Rena mengarahkan cahaya bantuan itu pada sisi dinding di dekatnya untuk mencari saklar. Begitu berhasil menemukan apa yang ia cari, ruangan terang benderang oleh nyala lampu kamar sontak menyingkirkan keremangan sekitar.

Rena pun mengamati sudut ruangan secara keseluruhan. Tempat ini jauh terlihat lebih mirip gudang penyimpanan barang bekas ketimbang kamar yang ia bayangkan.

Di sisi kiri dari jarak pandangnya, Rena bisa melihat benda-benda berukuran besar saling bertumpukan berantakan tepat di samping rangka ranjang besi yang sudah tak ada papan alasnya. Mulai dari sepeda roda empat yang setirnya sudah patah, televisi tabung mati berdebu, lemari bufet kecil tanpa pintu, dan rongsokan lain di mana sudah tak layak pakai.

Mata gadis itu juga menelusuri beberapa tumpukan dos-dos berisi banyak sekali barang di sebelah kanan berhimpitan dengan dinding. Mulai dari kumpulan mainan anak-anak, piring gelas maupun peralatan makan yang sudah hilang bagian lainnya, serta pernak-pernik rumah tangga yang sudah kehilangan fungsinya. Kemudian ada satu meja panjang di sebelah tumpukan dos tersebut, memuat beberapa buku bekas yang sudah kusam menguning, serta telepon rumah usang yang kabelnya telah putus.

Di atas meja yang sama pula, Rena menangkap satu bingkai foto keluarga besar yang Rena duga sebagai pemilik villa atau rumah ini setelah dijual Antonio, sebelum kemudian diambil alih oleh Andreas kembali. 

Jadi bisa Rena simpulkan bahwa semua tumpukan benda-benda bekas pakai yang ada di sini merupakan gabungan milik penghuni sebelumnya maupun milik keluarga Pramoedya. Jika meninjau dari informasi sejarah kepemilikan bangunan ini yang pernah Mbok Irma bicarakan.

Cukup lama Rena sibuk mengamati di sana-sini, sampai tak sengaja matanya menangkap album foto berwarna biru langit mencuat dari tumpukan mainan di salah satu dos. Rena mengambil album tersebut karena dituntun oleh rasa penasarannya. 

Sesaat gambar-gambar pada halaman pertama menyita penglihatannya, satu tarikan senyum langsung terukir di bibir Rena saat menyadari album siapa yang sedang ia genggam.

Potret bayi mungil berpipi merah gembul yang hanya mengenakan popok, tengah menguap menatap kamera dengan mata kantuknya adalah gambar pertama yang Rena lihat. Bentuk wajah familiar itu tidak perlu membuat Rena susah-susah menebak foto masa kecil milik siapa yang sedang diamatinya.

Potret berikut berlanjut pada balita laki-laki berumur tiga tahun, sedang tertawa lebar menampilkan dua gigi depan tanggalnya juga menatap ke kamera, tampak bahagia di atas sendengan bahu ayahnya. 

Bagian lain berlanjut pada gambar seorang anak lelaki berumur kira-kira lima tahun tampak duduk mengendarai sepeda roda empat dituntun sang ayah. Kedua orang itu sibuk dengan aktivitas bermainnya seolah tak menyadari gambar candid tentang keduanya terabadikan lewat kamera analog. 

Dari banyaknya lembar foto yang digulir Rena satu persatu pada album itu, semua hanya menampilkan potret perkembangan seorang anak lelaki mulai dari usia bayi hingga bertumbuh jadi anak lelaki tampan usia sekolah dasar. Satu kesamaan yang selalu Rena tangkap di setiap potret gambar tersebut adalah kehadiran ayah sang anak yang tampak sangat menyayangi dan mengayominya. Keduanya terlihat begitu bahagia dari tiap sudut pengambilan gambar, tertawa riang seolah tanpa beban.

Rena tidak menyangka untuk ukuran tampilan seorang Antonio Pramoedya yang terlihat keras dari luar seperti sekarang, ternyata di masa lalu ia adalah sosok ayah yang teramat hangat memperlakukan serta mencintai putranya. Sebuah kedekatan yang sudah jarang Rena lihat, baik hubungan keduanya sebagai ayah dan anak di kantor, atau di tempat umum lainnya.

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang