Bab 45. Tetap Menyebalkan

366 35 4
                                        

Rena tak pernah bisa mengerti jalan pikiran manusia-manusia langka sejenis Andreas ini. Mengeluarkan kocek sampai setebal itu hanya untuk bayaran perawatan demam yang bahkan menggunakan lap dapur sebagai kain kompresnya, sungguh di luar nalar yang bisa diterima rakyat jelata seperti dirinya.

Meskipun tentu saja uang yang diberikan Andreas bagaikan durian runtuh yang tak mungkin bisa ditolak Rena. Apalagi di tengah kondisi palit keuangan keluarga dan kebutuhan biaya berobat sang ibu. Hanya saja otaknya benar-benar tak sampai kalau dipaksa menyelami isi kepala seorang Andreas Pramoedya.

Gadis itu mengambil ponselnya untuk menimbang-nimbang apa perlu meninjau langsung bahwa yang terjadi ini bukan ilusi semata, atau lebih parahnya lagi semua hanya bentuk cara lain Andreas membalas dendam dengan mengerjainya seperti sekarang.

Cukup lama Rena tenggelam dalam kecamuk pikirannya sendiri, sampai akhirnya suara ketukan pintu kamar menyentak halus lamunannya.

Mbok Irma berdiri di batas pintu yang memang sengaja Rena biarkan terbuka. Tersenyum ramah, wanita paruh baya itu berkata. "Mbok pikir Neng Rena belum bangun, makanya Mbok nyamperin langsung ke sini. Sekalian mau ajak sarapan pagi."

Rena menilik jam yang sudah menunjuk pukul sepuluh. Mengulas sunggingan kikuk, ia membalas. "Maaf, saya justru bangun setelat ini. Harusnya Mbok nggak perlu repot sampai nyamperin segala."

Ia merasa tidak enak karena harus membuat Mbok Irma bersusah payah menghampirinya ke lantai dua hanya untuk menawarkan sarapan, yang sebenarnya justru lebih tepat di sebut makan siang karena jarum jam sudah menunjuk cukup jauh dari kata pagi.

Rena tidak tahu kenapa hari ini ia bisa kecolongan bangun cukup siang, di luar dari kebiasaannya yang selalu mampu bangun di bawah pukul tujuh, tak peduli selarut dan seminim apa waktu tidurnya.

"Mbok cuma khawatir karena Neng Rena belum sarapan sama sekali, makanya disusulin. Sebenarnya mau dibangunin dari tadi juga, cuma Den Andreas sendiri yang pesan langsung ke Mbok biar kasih Neng Rena istirahat cukup setelah dipindahin ke kamar."

"A-apa?" Rena melotot tak percaya mendengar kalimat dari Mbok Irma barusan. "Siapa yang pindahin siapa?" tanyanya dengan raut panik bercampur malu melanda.

"Lho, memangnya Neng Rena nggak sadar digendong Den Andreas pindah ke kamar? Mbok ngeri sendiri ngebayangin Neng Rena tidur semalaman dengan posisi duduk begitu. Takut lehernya malah keseleo nanti."

Rena tidak tahu sekarang wajahnya sudah semerah apa. Karena hal ini justru jauh lebih memalukan ketimbang tertangkap basah bangun di pukul sepuluh menjelang tengah hari. Apalagi Mbok Irma sendiri yang menjadi saksi bagaimana proses perpindahannya dari sofa ke kamar tidur, tentu saja dengan melibatkan Andreas di dalamnya. Sungguh, rasa-rasanya ia ingin membenturkan kepala ke dinding terdekat saking kuatnya perasaan malu datang menerjang.

"O-oh." Hanya respon canggung itu yang bisa Rena berikan. Karena sekarang ini ia seperti kehilangan muka di depan Mbok Irma.

"Ka-kalau begitu saya mandi dan ganti baju dulu, nanti baru nyusul ke bawah buat sarapan." Rena menaikan bibir mengulas senyum senormal mungkin. Berharap kecanggungan yang ia rasakan tidak terbaca oleh lawan bicaranya.

"Ya sudah, Mbok tinggal tudungin nasi goreng dan telur mata sapi di meja makan kalau Neng Rena mau turun sarapan. Soalnya Mbok mau pamit lanjut nyuci gorden ruang tamu dulu. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan buat panggil Mbok, ya."

Rena mengangguk. Mempersilahkan Mbok Irma melanjutkan pekerjaan tertundanya karena harus mengurusi sarapan Rena. Namun sebelum wanita paruh baya itu benar-benar berlalu dari hadapannya, Rena kembali teringat sesuatu.

"Eumh ... Mbok," panggil Rena sedikit ragu.

Mbok Irma menghentikan langkah dan menoleh ke arahnya.

"Apa Pak Andreas sudah balik ke Jakarta pagi-pagi sekali? Saya nggak lihat dia sejak tadi." Rena mengusap tengkuk dengan canggung. Meskipun rasa malu dan kesalnya pada Andreas saat ini lebih besar, tapi ia tak menampik kekhawatirannya tentang kondisi pria itu. Apalagi demam Andreas tadi subuh cukup tinggi untuk pulih secepatnya di keesokan pagi.

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang