Rena mengumpat keras saat laju mobil yang menggila di jalan bebas hambatan ini, semakin menambah rasa pusing di kepalanya. Usus di perutnya serasa melilit, ingin berontak memuntahkan apapun yang sempat singgah di sana. Terlebih efek alkohol keparat yang mendominasi setengah kesadarannya, justru semakin menambah perasaan tersiksa gadis itu.
Sangat berbanding terbalik dengan pria yang sibuk menyetir di sampingnya. Andreas justru tak menampilkan perasaan terganggu sedikitpun, meski entah sudah berapa kali makian dan umpatan Rena menggema mengisi ruang besi sempit ini. Berbagai macam kutukan dan nama-nama hewan tak lupa ia sematkan di sepanjang jalan, semenjak Andreas menariknya paksa keluar dari pelataran parkir gedung acara perusahaan diselenggarakan.
Setelah menciptakan drama yang luar biasa mengguncang bagi beberapa orang yang menyaksikan ciuman panas mereka---ralat, maksudnya ciuman panas sepihak Andreas, Rena harus kembali disuguhi masalah baru ketika pria gila itu menyeret paksa dirinya yang masih setengah linglung didera syok ke dalam mobil. Bahkan tanpa menghiraukan pemberontakan yang Rena lakukan, lelaki itu justru sudah menarik persneling dengan kasar, dan menancapkan gas Alphard hitamnya melaju kencang membelah jalanan kawasan Ibukota.
"Dasar sinting! Kamu bisa turunkan saya sekarang!"
Kali ini Rena sudah menanggalkan sebutan formal saya anda yang ia kenakan sebelumnya. Kemarahan yang menguar, membuat ia melupakan sopan santun yang harusnya terjalin antara atasan dan bawahan.
"Kamu bisa meloncat keluar kalau memang nekat ingin turun sekarang." Pria itu berujar santai, tanpa mengalihkan fokus dari jalanan di depannya. "Saya tidak keberatan kalau harus dipanggil bersaksi di pengadilan karena rencana bunuh diri dadakan kamu."
Rena menelan ludah. Meskipun kalimat tersebut disampaikan dengan nada yang biasa, tapi entah kenapa malah terdengar begitu mengerikan di telinganya. Apalagi jika kata-kata itu meluncur dari mulut seorang Andreas Pramoedya yang memang terkenal cukup gila. Siapa yang akan menduga, jika ia masih terus saja nekat memberontak, bukan tidak mungkin kalau dirinya justru akan berakhir ditendang ke jalan oleh pria itu, alih-alih ia sendiri yang memutuskan untuk melompat.
Meremang ngeri memikirkan kemungkinan tersebut, Rena refleks meremas erat-erat sabuk pengaman yang terpasang rapat di tubuhnya. Seputus asa apapun hidup yang Rena jalani, bunuh diri ataupun terbunuh konyol dengan ditendang terjun bebas dari mobil yang sedang melaju di atas kecepatan 80 km per jam, tidak akan pernah masuk ke dalam rencana jangka pendek yang akan ia pilih.
Syukur-syukur kalau insiden itu akan langsung membuatnya tewas seketika di tempat, tapi bagaimana kalau kenyataan yang ada malah justru membuatnya berakhir patah tulang, patah gigi, memar-memar, bibir memble, dan terancam cacat seumur hidup? Tidak! Rena tak ingin berujung menjadi beban keluarga, apalagi di saat dirinya sudah harus diwajibkan menjadi tulang punggung mencari nafkah.
"Kenapa diam?" Andreas melirik Rena yang mendadak sudah berubah tenang di tempatnya. "Tidak jadi melompat?"
Mendelik tajam, Rena berujar sinis. "Langsung saja! Kamu mau bawa saya ke mana?"
Pria itu mengangkat bahu. "Apartemen mungkin."
"Apa?" Rena nyaris terlonjak di tempat, kalau saja tubuhnya tak tertahan oleh lilitan seat belt. "Kamu benar-benar gila, ya? Mau apa saya dibawa ke sana?"
"Saya tidak memaksa kamu untuk ikut, kamu bisa melompat keluar sekarang kalau memang ingin turun." Andreas berujar tenang.
"Dasar sinting!" maki Rena kembali, kehilangan kendali dirinya untuk yang kesekian kali.
"Ya, kamu sudah mengatakannya dua kali."
***
Rena melongok dari balik kaca mobil begitu Alphard hitam milik Andreas memasuki area parkir gedung pencakar langit di depannya. Setelah perjalanan yang panjang dari lokasi convention hall menuju apartemen bilangan Jakarta Selatan, yang tentunya diiringi oleh drama perselisihan panjang di antara mereka, kini ia tidak punya pilihan lain selain berakhir di tempat asing yang tak ia kenali.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...