Selama dua puluh delapan tahun hidup di dunia yang terbiasa memandangnya sebelah mata, Rena tak pernah merasa terhina lebih dari ini. Perkataan Andreas Pramoedya yang masih terngiang-ngiang di telinganya seolah menjadi tikaman tajam yang mengoyak harga dirinya hingga tak tersisa, melucuti kehormatannya sampai ke titik paling rendah dan hina.
Rena tahu, tindakan lancang mendengarkan pembicaraan privasi orang lain, apalagi jika menyangkut bagian yang begitu sensitif bagi pemiliknya, bukan hal terpuji dan mungkin dianggap jauh dari kata sopan. Tapi selancang apapun perilaku yang diperlihatkan Rena barusan, bukan alasan yang tepat bagi seseorang seperti Andreas memuntahkan kalimat penghakiman penuh hinaan semacam itu. Bahkan menganggapnya sebagai manusia menjijikkan setara dengan kotoran di pinggir jalan.
Ia hanya tidak sengaja melakukan satu kesalahan menyinggung ranah pribadi pria itu, tapi respon yang justru ia terima harus mengantarkannya pada penghinaan terendah yang menelanjangi seluruh harga dirinya bulat-bulat.
Menggenggam erat gelas minuman keempat di tangannya, emosi dan kesakitan itu masih terus setia menyesaki dada Rena. Pembicaraan singkat bersama Andreas tadi, semakin melengkapi hari buruk melelahkan di hidupnya. Kemelut masalah keluarga, hutang, dan pinjaman saja sudah cukup mengundangnya dalam drama panjang tanpa jalan keluar. Lalu sekarang muncul pemeran baru berupa sosok Andreas Pramoedya untuk melengkapi semua malapetaka itu.
Rena menatap nanar cairan mojito mocktail yang sedari tadi bergantian membantu meredam emosinya. Rasa segar perasan limau bercampur dinginnya daun mint membantu memberinya sedikit ketenangan, membuat gadis itu betah berdiam diri di pinggir meja prasmanan.
Semakin sering ia meneguk gelas demi gelas rasa ketagihan dari campuran plain soda dan sari buah minuman tersebut, maka kepalanya perlahan semakin terasa ringan. Memberi sedikit kelegaan dari sakit kepala yang sudah seminggu ini mengusik lelap tidurnya.
Padahal Rena hanya berencana meminum satu gelas mocktail sebagai penyegar dari rasa panas yang tengah membakar dadanya. Tapi entah kenapa keinginan itu tak mau berhenti di sana, begitu ia merasakan ada sensasi lain yang memberi perasaan ringan dan melayang saat menyentuh gelas kedua. Mojito mocktail ini seperti alkohol candu yang membantu memberi kelegaan yang Rena cari. Meskipun ia sendiri belum pernah mencicipi langsung bagaimana rasa dari minuman haram tersebut.
Baru saja bergerak ingin mengambil gelas kelima untuk kembali ia teguk, tangan seseorang sudah lebih dulu menyerebot dengan paksa minuman yang nyaris ia sentuh, diikuti omelan protes panjang menyertai di belakangnya. "Astaga, Ren. Apa-apaan sih? Kamu ngapain minum bergelas-gelas cocktail sampai kelihatan teler gitu! Dan demi Tuhan, sejak kapan juga kamu bisa minum alkohol?"
Dari sudut mata, Rena bisa melihat muka tertekuk Mala yang kini mendadak muncul di sampingnya, mengomel panjang lebar seraya menyingkirkan gelas minuman itu jauh-jauh dari jangkauannya.
Perasaan melayang ringan yang mendominasi kepala Rena, membuat gadis itu tidak bisa menghiraukan perkataan Mala secara jelas. Ia bahkan mati-matian menopang setengah beratnya di pinggiran meja prasmanan karena penglihatan yang perlahan mulai terasa berputar, menciptakan sensasi bergelombang seperti di atas kapal.
"Ya ampun. Jangan bilang kamu nggak bisa membedakan mojito mocktail biasa dengan mojito cocktail yang ada campuran rum-nya? Makanya jadi kebablasan begini, kan. Astaga, Rena, ya ampun, Rena. Otak kamu dipakai di mana, sih?"
Ocehan Mala masih terus bergema di telinganya. Rena yang merasa tubuhnya perlahan dibopong tertatih kembali ke meja bundar tempat mereka duduk, hanya membiarkan saja Mala tenggelam dalam omelannya. Karena pusing di kepala yang mulai terasa nyata, menghalau semua bentuk kesadarannya terhadap suasana sekitar, termasuk keinginan untuk menyela kalimat-kalimat protes Mala.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...