Bab 55. Tak Bermaksud

262 32 1
                                    

Andreas melepaskan kemeja kusut bercampur sedikit keringat miliknya ke keranjang baju kotor. Seluruh badannya terasa lengket karena berkendara menempuh Bogor masih mengenakan pakaian yang sama semenjak bertolak dari bandar udara Sultan Hasanuddin siang tadi.

Datang ke villa ini secara tiba-tiba dengan hanya membawa baju melekat di badan, merupakan kecerobohan yang kedua kalinya ia lakukan. Alhasil, meminjam pakaian orang lain adalah pilihan satu-satunya tersisa. Setidaknya masih ada persediaan dalaman baru di lemari gantung kamar mandi yang dibelikan Lukman minggu lalu. Mungkin besok ia perlu menghubungi personal asistennya itu membawakan baju ganti yang ia butuhkan selama berada di sini.

Andreas menggosok-gosokan rambut basahnya dengan handuk kecil sehabis beranjak ke luar kamar mandi usai membersihkan diri. Ia menghampiri jendela yang masih dibiarkan terbuka di dekat ranjang. Membiarkan udara malam perbukitan menyisir permukaan kulit setengah telanjangnya yang hanya berbalut selembar handuk melingkari pinggang.

Dreamcatcher yang bergerak diayunkan angin, mengambil alih perhatian pria itu untuk melabuhkan pandangan ke sana. Yang secara otomatis juga menariknya pada ingatan tentang pembicaraan bersama gadis itu beberapa saat lalu.

Teman tidur? Andreas berdecak konyol. Mengejek dalam hati ucapan spontan yang sempat ia lontarkan. Bagaimana bisa pikiran semacam itu melintas di kepala warasnya? Tapi mengingat tindakan refleksnya jauh-jauh bertandang ke mari tanpa pikir panjang, di tengah waktu di mana harus memaksa ia beristirahat, membuktikan bahwa dirinya akhir-akhir ini memang sudah kehilangan sebagian akal sehat. 

Tapi entah kenapa, Andreas sama sekali tak berniat menarik kembali apa yang telah ia ucapkan. 

"Den?" Mbok Irma mengintip hati-hati dari balik pintu usai ketukan tiga kali yang dilakukan wanita itu. Membuat Andreas berbalik mengalihkan tatapan dari penangkal mimpi di depannya. "Mbok siapkan makan malam dan minuman hangat, ya? Den Andreas kelihatan capek sekali waktu datang."

Andreas ingin menolak tawaran yang diberikan, karena saat ini ia sedang tak berselera menelan makanan apapun. Namun menyadari perut kosongnya tak terisi sama sekali sejak mendarat di bandara Soetta beberapa jam lalu, dan bagaimana kesehatannya minggu kemarin memburuk oleh keteledorannya mengabaikan istirahat serta pola makan teratur, membuat pria itu tak punya pilihan selain mengangguk.

"Saya menyusul turun setelah ganti baju. Terima kasih."

Mbok Irma tersenyum lebar. "Baik, Den. Makanannya tinggal Mbok tudungin di meja kalau Den Andreas sudah selesai." Kemudian wanita itu berpamitan sopan sebelum berbalik menutup pintu.

Andreas mengunci jendela terbuka di hadapannya. Ia kemudian melangkah menuju ranjang, menunduk mengambil kaus putih berkerah hitam dan celana katun berwarna dongker milik Pak Umar yang dipinjamkan begitu tahu Andreas tidak membawa cadangan pakaian ganti setibanya di sini.

Gerakan pria itu seketika terhenti saat jemarinya tak sengaja menyentuh kalung berbandul matahari yang terletak asal di atas kasur. Sesuatu yang sempat ia lupakan.

Andreas mengangkat benda mungil berkilau tersebut hingga sejajar mata. Menatapnya dengan lekat. Cahaya lampu ruang menerpa permukaan bandul, membuat bentuk ukiran matahari itu tampak berpijar. Tapi dibanding mengagumi keindahannya, ada hal lain yang lebih jauh menyita atensi lelaki itu. 

"Dari semua mimpi buruk yang datang, kenapa harus kamu yang ikut menjadi bagian di dalamnya?"

***

Semenjak dilanda rasa malu akibat kejadian semalam, Rena rasanya ingin sekali mengurung diri di kamar seharian, atau selama apapun yang dibutuhkan sampai keberadaan Andreas tak tercium lagi dari jangkauannya. 

Tapi melakukan usaha itu juga justru akan menimbulkan kecurigaan penghuni lain. Termasuk Mbok Irma yang sudah bolak-balik sampai tiga kali menyambangi kamarnya hanya untuk mengajak sarapan.

Lagipula mengharapkan Andreas segera menghilang dalam waktu singkat adalah kemungkinan sia-sia. Mengingat sekarang baru lah awal akhir pekan, masih ada satu hari tersisa ke depan untuk memaksanya bermain kucing-kucingan dengan pria itu. 

Mengembus napas berat, Rena terpaksa menyeret langkah memasuki kawasan ruang makan dengan setengah hati. Jika bukan karena ajakan gigih Mbok Irma, sudah pasti ia akan memilih menahan lapar pagi ini, atau mengisi perut menjelang tengah hari saja. Setidaknya sampai keadaan dapur maupun area tempat makan benar-benar lengang.

Di meja sana, terlihat Andreas sudah duduk anteng dengan segelas teh hangat dan sepiring nasi goreng di hadapannya. Sementara Pak Umar sendiri kembali tak tampak kehadirannya karena harus berangkat ke kebun teh dari pagi-pagi buta.

Rena berusaha membuang muka ketika Andreas juga turut menyadari kedatangannya. Ia memilih mendaratkan diri ke kursi berseberangan sedikit jauh dari lelaki itu.

"Mbok pagi ini cuma masak nasi goreng sama telur dadar, Neng. Soalnya bahan-bahan di kulkas belum sempat diisi kemarin." Mbok Irma meletakkan sarapan nasi goreng milik Rena beserta coklat panas yang selalu jadi minuman favoritnya selama tinggal di sini.

Rena tersenyum sopan. "Nggak apa-apa, Mbok. Saya nggak masalah sama sekali."

Mbor Irma terlihat cukup lega. Pasalnya menyediakan menu makanan lebih dari satu macam, merupakan kebiasaan rutin yang selalu dilakukan wanita paruh baya itu. Entah untuk sarapan pagi, makan siang, ataupun makan malam. Rasanya kurang lengkap saja kalau harus memasak satu menu tanpa varian lain untuk dihidangkan ke atas meja.

"Ngomong-ngomong, Mbok sama suami tadi malam cukup kaget waktu tahu Den Andreas tiba-tiba datang ke sini." Mbok Irma kini mengalihkan perhatiannya pada Andreas. "Soalnya Mbok dengar dari Den Lukman kalau Den Andreas lagi sibuk perjalanan bisnis ke luar kota dari minggu lalu."

"Saya baru sampai Jakarta kemarin sore." Andreas membalas, melirik sekilas pada lawan bicaranya. "Dan malamnya langsung menuju kemari."

"Oalah, pantas." Mbok Irma manggut-manggut. "Soalnya kasihan si Eneng belakangan ini suka nungguin di teras depan karena Den Andreas cukup lama nggak kelihatan dan nggak kasih kabar."

Rena yang baru memasukan satu suapan nasi goreng ke mulut, sontak dibuat tersedak kuat oleh perkataan tak terduga dari Mbok Irma. 

Sementara wanita itu yang baru tersadar akan keceplosannya, mendadak jadi gelagapan. "E-eh, Mbok ma-masih ingat kalau harus nyuci bekas penggorengan dulu. Mari, Den. Mari, Neng," pamitnya buru-buru ke dapur beralasan ingin mencuci wajan, setelah melemparkan tatapan bersalahnya pada Rena. Meninggalkan gadis itu dengan sejuta kecanggungan yang menyergap.

Rena bahkan rasanya tak sanggup mengangkat kepala, dan memilih menekuri butiran nasi di piringnya. Daripada harus bersibobrok dengan muka mengesalkan Andreas yang ia yakini saat ini pasti sedang menyeringai menertawakannya.

Astaga. Apa yang sebenarnya dipikirkan Mbok Irma sampai mengungkit hal semacam itu dengan santainya? Lebih-lebih di depan Andreas pula! 

"Jaringan di sana benar-benar buruk." Andreas membuka suara setelah keterdiaman singkat tercipta di antara mereka. Respon yang membuat Rena serentak mengernyit karena tak mendapati nada mengejek atau usil terkandung di dalamnya. Di luar dari apa yang ia duga barusan. Tapi tentu saja, gadis itu masih terlalu enggan untuk mendongakkan muka.

"Komunikasi bentuk apapun cukup sulit dilakukan karena tempatnya yang terlalu terpelosok dan jauh dari pemukiman ramai," imbuh Andreas.

"Perlu jarak tempuh puluhan kilometer untuk mencapai kota atau minimal kampung warga yang punya signal memadai."

Rena diam-diam meremas pelan sendok di tangannya. Masih tak paham kenapa Andreas harus menjelaskan padanya hal-hal seperti itu. Mengingat mereka tidak lebih dari dua orang asing yang sedang berbagi satu meja makan yang sama. 

Perlahan, Rena pun mengangkat wajah, dan tatapannya langsung tertaut pada netra hitam Andreas yang ternyata juga tengah memandang lekat ke arahnya.

"Bukan niat saya sengaja mengabaikan kamu dan tidak ingin memberi kabar," ucap pria itu. Kemudian kembali menunduk menekuri sarapannya yang tersisa. Membuat Rena sukses terpaku di tempat kehabisan kata. Apalagi ketika tanpa sengaja menangkap sedikit rona merah terbentuk sekilas di pipi lelaki itu.

Apa-apaan?

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang