Bab 14. Empati yang Terkubur

444 37 0
                                        

Mala memperhatikan dalam diam Rena yang masih membungkam duduk di sampingnya. Semenjak kendaraan yang dikemudikannya melaju meninggalkan apartemen puluhan lantai yang sempat membuatnya jantungan ketika mengetahui siapa yang tinggal di sana, rekan kerjanya itu masih saja menampilkan raut yang sama. Mengatup bibir rapat-rapat, dengan pandangan kosong menatap keluar kaca mobil cooper yang tengah melaju.

Bahkan saat pertama kali Mala menjumpainya di pintu masuk apartemen tersebut, Rena hanya mengulas senyum samar diiringi ucapan terima kasih sekilas karena ia sudah mau merepotkan diri datang sejauh ini menjemputnya. Kemudian tanpa mengundangnya dalam pembicaraan basa-basi apapun, gadis itu sudah berjalan lebih dulu mendahului Mala.

"Kamu ... baik-baik saja?" putus Mala akhirnya, memilih bertanya setelah kesenyapan yang menggantung cukup lama di antara mereka. Ia tidak bisa terus menyetir dalam keadaan luar biasa canggung seperti ini.

"Nggak." Diluar dugaan, Rena justru menggeleng pelan. "Nggak ada yang baik-baik saja, Mal" Wanita itu terlihat masih tak berminat menjauhkan pandangannya pada panorama malam dari balik kaca.

"Aku bahkan nggak tahu persis gimana makna baik-baik saja yang kamu maksud itu."

Sekali lagi terdengar embusan napas berat Rena. "Karena semuanya ternyata jauh lebih kacau dari yang dibayangkan. Atau mungkin bisa jauh berujung lebih buruk lagi dari itu."

Mala terdiam. Dari semua rangkuman kepelikan permasalahan malam ini yang dijabarkan Rena padanya, Mala tahu tidak mudah bagi siapa saja untuk tetap bersikap pura-pura kuat atau terlihat dalam keadaan baik. Padahal apa yang saat ini tengah bercokol berat memenuhi isi kepala mereka, teramat jauh membebankan.

"Apa kamu membicarakan masalah ini juga dengan Pak Andreas?" tanya Mala kembali.

Rena mengulas senyum getir. "Bicara?" gumamnya sedikit sarkastik. "Orang seperti dia bahkan terlalu buta untuk peduli."

"Termasuk tentang kehadiran ayahnya yang melihat 'kalian'?" Mala memberi tanda kutip pada kalian dengan sebelah tangannya. Tanpa diperjelas pun, Rena tahu apa makna kalian yang dimaksud.

"Dia sangat tahu." Rena berujar pelan. "Bahkan mungkin sengaja melakukan semua itu agar dilihat Antonio Pramoedya langsung."

"Sialan!" umpat Mala secara spontan. Ia benar-benar tak mengerti lagi dengan apa yang ada di kepala bos besarnya itu sampai melakukan hal nekat bin gila, hingga membuat siapapun yang melihatnya ikut terserang jantungan berjamaah.

Mala tahu dari desas-desus beserta pengalaman hampir 5 tahun bekerja di perusahaan, jejak kepribadian seorang Andreas Pramoedya memang selalu melekat dengan hal-hal cukup gila dan menyimpang dari kata positif. Tapi yang ia tak pernah duga, bahwa lelaki itu ternyata sanggup melakukan hal lebih gila lainnya dari apa yang mampu dipikirkan orang-orang.

Lagipula manusia waras mana yang akan nekat mencium perempuan asing, yang notabene merupakan karyawannya sendiri? Di depan orang tuanya pula secara langsung di saat hari berkabung atas kematian sang istri?

Ya, cuma seorang Andreas Pramoedya yang sanggup melakukan tindakan kontroversial semacam itu.

"Kuburan Namira Sanjaya bahkan masih merah dan basah, tapi dia malah bersikap seolah-olah kejadian itu sudah terjadi lebih dari 10 tahun. Dan secara nggak berdosa melakukan pengkhianatan di hari yang sama seharusnya di mana dia berduka," imbuh Mala seraya geleng-geleng kepala, tak habis pikir.

"Lebih parahnya lagi kamu harus ikut terjebak di keadaan pelik ini karena ulah dia sendiri, Ren."

"Aku nggak ngerti lagi jalan pikiran orang-orang ningrat semacam mereka."

Rena mendengarkan semua sumpah serapah Mala terhadap apapun yang dilakukan Andreas Pramoedya dalam diam. Beban pikiran yang semakin berkecamuk di kepala, tak memberinya waktu untuk menanggapi lebih jauh apapun yang meluncur dari rekan kerja di sampingnya itu.

Ia bahkan sudah tak mampu meraba lagi apa yang sedang dirasakannya saking hati dari sumber segala rasa itu perlahan mulai terasa kebas, hanya menyisakan kehampaan dan kekosongan yang dalam.

Jadi selama perjalanan tersisa menuju kontrakannya, Rena hanya kembali mengalihkan semua perhatian pada lalu-lalang kendaraan dan pemandangan apapun di luar sana yang tertangkap matanya.

Membiarkan keheningan datang menyusup meraja, memberi sedikit jeda untuk semua rasa penat yang ada.

***

Kerlap-kerlip lampu kendaraan yang merayap di bawah sana, dan pemandangan bumbungan gedung pencakar langit yang seolah berdiri menantang malam, menjadi lanskap yang tersaji di hadapan Andreas selama nyaris tiga puluh menit ia berdiri bungkam di depan kaca jendela besar ruang tamunya. Sibuk bergeming dengan pikiran sendiri, seraya mengizinkan sunyi berkelana memenuhi seisi ruangan ini.

Bahkan dering ponsel yang sedari tadi mengusik indra pendengarannya dalam satu jam terakhir, hanya ia abaikan begitu saja. Lebih memilih sibuk tenggelam dalam keheningan yang ia ciptakan sendiri, tanpa sedikitpun melepaskan tatapan lurusnya dari pemandangan di depan.

Usai menyesap anggur putih yang sudah terlihat hampir tandas, Andreas kembali memejam mata sejenak dengan tarikan napas berat terdengar samar meluncur keluar dari mulutnya. Bayangan air mata perempuan yang baru saja meninggalkan ruangan ini nyaris dua jam yang lalu, terasa cukup membuatnya sedikit terusik.

Rona putus asa dan pancaran mata kesenduan itu seperti enggan berlalu dari ingatan singkatnya, tak peduli sekeras apa ia berusaha menepis pergi sejauh mungkin. Dan Andreas sungguh tak menyukai perasaan mengganggu itu.

Sejak dulu, air mata adalah bentuk kelemahan orang lain yang paling ia benci untuk dihadapi. Karena bukti kelemahan tersebut akan membuatnya kalah dalam rasa bersalah dan empati. Rasa yang bahkan tak ingin pernah ia munculkan kembali ke permukaan setelah ia kubur dalam-dalam selama nyaris dua puluh tujuh tahun terakhir. Karena rasa itu hanya akan menjadikannya sebagai sosok yang lemah dan akan berakhir kembali dipecundangi takdir. Ia tidak sebodoh itu untuk menjatuhkan diri ke lubang yang sama dua kali.

Makanya, ketika Namira memperlihatkan sisi terlemah wanita itu dalam bentuk air mata, Andreas akan berusaha memberikan kedua tangannya untuk menghapus aliran jernih itu dari pipi sang istri. Sesegera mungkin agar bisa menghentikan celah apapun untuk membuka pintu empati yang telah terkunci rapat-rapat.

Sayangnya ia tidak bisa melakukan hal serupa pada perempuan asing yang melayangkan sorot putus asa familiar itu. Alih-alih berjalan mendekat, dan berusaha mengusap air mata yang meluncur turun dalam diam seperti yang pernah ia lakukan pada Namira dulu, Andreas justru hanya memilih berdiam mematung di tempat. Hanya mampu menatap lurus semua raut kesakitan itu tanpa tahu harus berbuat apa. Sampai akhirnya sosok itu sudah berlalu menghilang dari jangkauan mata, Andreas justru masih terpaku kosong menatap ruang hampa yang meninggalkan jejak bayang-bayang kesenduan tersebut.

Menoleh ke sisi kanan pada bingkai foto pernikahan tergantung yang masih berada di jalur pandangannya, Andreas menatap lekat senyuman lebar Namira yang berhasil diabadikan ke dalam gambar. Lelaki itu pun memasukan sebelah tangan ke dalam saku celana seraya mendengkus samar.

"Kenapa perempuan-perempuan seperti kalian selalu senang menarik empati orang lain dengan air mata? Bahkan tanpa permisi ataupun peringatan?" gumamnya pelan. Kembali berujar pada keheningan yang hampa.

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang