Bab 9. Terjebak

435 36 0
                                    

Sebut saja Serena sudah gila, atau mungkin saja ia memang benar-benar gila. Tapi rasa puas di dadanya begitu berhasil memberi pelajaran brutal pada lelaki yang sudah basah kuyup akibat siraman air mineral yang ia lemparkan, menciptakan sensasi kemenangan tersendiri yang tak pernah Rena duga.

Meskipun bagian dari logika di kepalanya berteriak agar segera menghentikan semua kegilaan ini, karena setelah semua kenekatan yang gadis itu timbulkan, berkemungkinan besar akan menciptakan petaka baru di hidupnya usai malam ini berlalu. Namun sekali lagi, pengaruh alkohol yang menguasai setengah kewarasan Rena, menyebabkan pikiran dan tindakannya menjadi tidak sinkron.

Terlepas dari amarah dan kebencian pada sosok angkuh di hadapannya, Rena tidak boleh melupakan fakta penting tentang posisi pria yang baru saja diguyurnya dengan sebotol air mineral tersebut. Jika berada dalam kondisi normal---tentu saja bersamaan dengan kesadaran penuh seperti biasa, mungkin Rena akan mengutuk habis-habisan semua aksi gila yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya di tempat kerja di mana ia mengais nafkah.

Status lelaki itu yang bukan orang sembarangan di lingkup sosial yang Rena tempati, beresiko mendatangkan malapetaka baru yang mungkin tak akan pernah gadis itu duga suatu saat nanti. Bahkan membayangkan semua kemungkinan mimpi buruk tersebut ketika ia terbangun di pagi hari dengan kesadaran utuh, adalah hal yang sulit untuk dirinya cermati. 

Meskipun alarm waspada sudah menyala nyaring di benak Rena, mengingatkan agar cukup untuk tidak menambah keruh permasalahan yang mengalir di hidupnya dengan bencana baru lain seperti sosok Andreas Pramoedya, tapi ego dan harga diri yang telah terluka, semakin membutakan peringatan akal sehat tersebut. Ditambah adrenalin yang terpacu akibat pengaruh dari cocktail yang mengendalikan separuh kesadarannya, membuat gadis itu semakin hilang tak terkendali. Alih-alih menuruti keinginan sang otak dan logika yang meronta memberi peringatan tanda bahaya.

Dengan wajah terangkat berani, meski dengan pandangan yang makin terasa berputar, Rena membalas tak kalah menantang tatapan tajam yang menghujam dari manik hitam pria itu.

Keduanya saling menguarkan sorot dingin membekukan yang sama, terlihat belum ada satupun yang tergugah mengakhiri konflik tak terlihat ini dengan mudah. Termasuk bagi Andreas sendiri, yang perlahan mulai memperlihatkan reaksi terusik.

"Jadi apa yang kamu inginkan?" tanya pria itu di tengah-tengah ambang kesabarannya. Tindakan gadis setengah gila yang dengan lancang melakukan penyerangan tak terduga ini, berhasil mengusik pengendalian dirinya yang selalu mampu bersikap setenang air.

Rena berdeham samar saat tatapan intens yang tertuju padanya masih enggan untuk beralih. "Permintaan maaf," tegas Rena tanpa berbasa-basi. "Saya hanya ingin permintaan maaf dari anda setelah apa yang anda katakan di pertemuan tadi. Sekaligus menarik kembali kalimat menyakitkan yang seenaknya anda lemparkan."

Dalam sejarah hidupnya, Rena tak pernah menyangka bahwa ia mampu bertindak seberani sekarang, tanpa mengedepankan resiko dan dampak dari masa yang akan datang. Yang sudah pasti akan ia sesali mati-matian begitu kewarasannya kembali di keesokan hari. Namun ia sudah terlanjur berada di titik ini, titik buntu yang memungkinkan tidak ada jalan untuk mundur kembali. Sehingga hal terakhir yang bisa ia lakukan, adalah tetap berpegang teguh pada prinsip dan pendiriannya.

"Hanya dua permintaan sederhana itu. Permintaan yang cukup anda penuhi dengan niat setulus mungkin, maka saya janji tidak akan mengungkit masalah ini lagi," imbuh Rena meneguhkan apa yang ia inginkan.

"Dan kalau saya menolak?" Sebelah kening pria itu terangkat naik, menantang Rena dengan raut penuh arogansi. "Kamu akan kembali menampar saya dengan apa lagi? Tas? Sepatu? Atau bekas botol air mineral yang tadi?"

Rena menggeleng samar, senyum miris tak mampu ia sembunyikan. "Setidaknya saya akhirnya tahu seberapa besar kapasitas moral untuk ukuran orang yang berpendidikan seperti anda. Bukankah sangat memalukan kalau seorang Andreas Pramoedya ternyata tidak sebaik yang orang lain pikirkan?"

Mendengar itu, Andreas tak bisa menghilangkan rasa menggelitik yang datang begitu mendengar kepolosan yang meluncur dari mulut wanita naif di depannya ini. 

"Yang bilang saya orang baik memangnya siapa?" Lelaki itu pun perlahan beringsut mendekat, menepis jarak membentang di antara keduanya. Hingga hanya menyisakan ruang seluas satu langkah kaki. "Saya bahkan sudah lama hidup menanggalkan moral atau etika apapun yang kamu sebutkan itu."

Mendapati perlakuan tiba-tiba dan tak terduga dari lelaki di hadapannya, Rena refleks menarik mundur tubuhnya karena perasaan tak nyaman mendadak datang melingkup, apalagi saat sorot netra gelap itu semakin mengurungnya dalam rentang jarak yang teramat dekat.

"Menurut kamu, apa saya juga akan sedermawan itu saat menangkap basah seorang penguntit menyaksikan hal privasi yang tidak seharusnya mereka lihat?"

"Saya bukan penguntit!" bantah Rena dengan wajah merah padam tak terima. 

"Kalau begitu mungkin penguping?" Balasan santai Andreas yang menyimpan kesan merendahkan, semakin memantik amarah Rena naik ke permukaan. "Apapun sebutan untuk itu, satu hal yang harus kamu tahu, bahwa saya tidak akan pernah melepaskan siapapun yang sudah mengusik ranah pribadi saya dengan mudah."

Rena tidak sempat menghindar saat tiba-tiba cengkraman tangan Andreas berhasil mendarat di lengannya. Menghentak dirinya hingga terseret maju nyaris menabrak dada bidang lelaki itu. 

Menyejajarkan pandangan mereka dalam satu garis lurus, Andreas berbisik di depan wajahnya penuh penekanan. "Bahkan saya dapat memastikan bahwa mereka akan selalu membayar mahal dan setimpal untuk semua kelancangan itu. Tanpa memandang latar atau gender manapun."

Rena merintih pelan, merasakan keram yang melanda kulit lengannya akibat cengkraman Andreas yang makin terasa mengencang. 

"Lepas!" geram Rena berusaha melepaskan diri. Namun tetap saja, tenaga yang tak seberapa itu tak mampu melawan dominasi kekuatan Andreas yang sepuluh kali lipat di atasnya.

"Saya bilang lepas!" kukuh Rena masih memberontak. "Apa-apaan kam---"

"Deas!"

Belum sempat Rena mencerna semua kegilaan yang terjadi, teriakan kemarahan seseorang dan pekikan histeris Mala di belakangnya adalah hal terakhir yang mampu Rena tangkap, sebelum telapak besar Andreas secara tak terduga merangkum kedua sisi wajahnya, dan detik selanjutnya yang Rena rasakan adalah sentuhan basah yang sudah melumat bibirnya tanpa permisi. Menekan di sana begitu intens dan dalam. Hingga membuat sekujur tubuh Rena membeku di tempat oleh keterkejutan.

Bahkan tanpa sungkan dan mengabaikan gerakan memberontak Rena dalam kungkungannya, sebelah tangan pria itu sudah beralih mendorong tengkuknya kian dekat, dan menghapus semua jarak apapun yang tersisa di antara mereka. Mengurung gadis itu dalam kedekatan tanpa penghalang, melalui ciuman panas dan panjang. 

Ya, Andreas melakukan semua itu sesadar mungkin, sejelas mungkin, dan dengan menggunakan seluruh kewarasannya. Cengkraman tangannya pada tengkuk wanita itu, disertai gigitan kecil dan lumatan basah yang menuntut semakin dalam, menunjukkan bahwa ia tak melakukannya tanpa pertimbangan. 

Bahkan ketika tatapan mata pria itu menyebrang ke belakang punggung wanita yang sedang berada dalam cumbuannya, bertumbukan langsung dengan sorot penuh amarah dan murka dari seseorang yang berdiri tak jauh dari posisi keduanya berpijak, diam-diam Andreas tersenyum menang dalam ciumannya.

Ya, Antonio Pramoedya dan beberapa orang lain yang menyaksikan pertunjukan gila ini, adalah pertimbangan yang sudah ia pikirkan matang-matang.

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang