Jika berpura-pura pingsan bisa membantunya meloloskan diri dari situasi ini, mungkin Rena akan mengambil opsi tersebut tanpa berpikir panjang. Namun yang jadi masalah, bagaimana caranya ia dapat bersandiwara jatuh terkulai tanpa membenturkan kepala ke lantai, dengan akting terlihat senatural mungkin dan meyakinkan.
Karena Rena tak ingin usaha melarikan dirinya ini justru berujung geger otak atau bahkan berakhir dengan kepala bocor. Ia tidak menyangka kalau pepatah 'Mulutmu Harimaumu' akan benar-benar terealisasikan di hidupnya, menjadi karma dari semua kutuk serapah spontan yang ia lemparkan pada sang atasan barusan.
"Pa-pak Andreas sejak kapan ada di situ?" Rena tak tahu mukanya sudah seberantakan apa. Ia mendadak berubah gagap saat mendapati keberadaan Andreas yang baru saja sejauh sambungan telepon, mendadak sudah ada di hadapannya bagai jelangkung tak diundang.
Apalagi setelah lelaki itu sudah berdiri menjulang di hadapannya dengan wajah sengak seperti biasa.
"Cukup lama untuk mendengar semua caci maki kamu," jawab Andreas terdengar santai. Tapi bagi Rena, hal itu justru berarti sebaliknya.
Tanpa sadar, ia sudah melangkah mundur karena jarak Andreas yang terlampau dekat malah membuatnya makin sesak napas. Rena benar-benar mengutuk semua kecerobohan yang kerap mengundangnya dalam masalah pelik tak berkesudahan.
Mulai dari mojito cocktail yang menjadi salah satu cikal bakal ia berakhir terikat skandal pelik dengan lelaki itu, hingga mulut terkutuknya yang kali ini berbuat ulah, sehingga ia harus terancam kembali dalam drama pemecatan entah ke berapa kali. Tinggal menunggu waktu saja, sampai dirinya dipastikan benar-benar ditendang keluar dari perusahaan tanpa pesangon sama sekali.
Andreas yang menyaksikan raut kecemasan itu, dan bagaimana gadis di hadapannya terlihat mulai mengkerut dengan gelagat waspada di tempat, semakin membuat Andreas tergugah untuk merapatkan jarak. Melihat sejauh mana permainan emosi ini akan menuntunnya.
"Jadi Serena," ucap Andreas dengan suara bariton khasnya. "Selain menjadi Bos kampret di mata kamu, atau punya keangkuhan setinggi Pluto, apalagi citra buruk saya yang ingin kamu keluarkan unek-uneknya?"
Rena menelan ludah dengan wajah pias. Sepertinya pria itu memang mendengar dari awal sampai akhir bagaimana ia menyerapahi dan mengutuk semua sikap arogan---yang sayangnya memang benar itu.
"Katakan saja kalau ada hal lain tentang saya yang masih mengusik kamu di sini." Andreas menunjuk pelipis Rena dari jarak tiga puluh senti di mana posisi mereka saling berhadapan. "Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak akan keberatan mendengarkannya sampai akhir."
"I-itu ... Sa-saya." Rena sungguh tak bisa berpikir jernih ketika sorot penuh intimidasi itu masih menghujaninya tanpa jeda. Bahkan kata-kata yang berusaha ia rangkai di ujung lidah, tertelan begitu saja alih-alih mampu ia utarakan.
Ditambah Andreas yang terlihat tak sedikitpun berminat meregangkan jarak terpaut di antara mereka. Karena setiap satu langkah mundur diambil Rena, justru akan dibalasnya dengan langkah maju yang sama. Sehingga gadis itu makin dibuat kelabakan.
"Kenapa kamu mendadak jadi gagap?" selidik Andreas masih terus memajukan langkah. "Bukannya selama ini kamu selalu bernyali mengajak saya ke dalam perdebatan? Kenapa tiba-tiba kamu kehilangan kemampuan bar-bar itu?"
Rena ingin sekali menyalak semua sindiran Andreas yang terus saja membuatnya semakin terpojok. Tapi ia sadar betul, kondisi yang sedang tidak menguntungkan saat ini tak boleh membuatnya salah langkah.
Membalas tatapan lekat Andreas, Rena berusaha menampilkan ekspresi setenang mungkin. "Saya minta maaf," putus Rena akhirnya. Ia sadar, semakin terus berusaha menyanggah dan menghindar, hanya akan menjebaknya dalam konfrontasi Andreas lebih lama lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...
