Penolakan bukan hal baru dalam hidupnya. Beberapa belas tahun lalu, ia pernah berada di titik serupa, bahkan dengan rasa sakit yang jauh lebih besar. Saking hebatnya goresan luka tak terlihat itu, ia nyaris tak bisa merasakan lagi apapun. Termasuk untuk sebuah penyesalan dan amarah sekalipun. Dan satu-satunya hal yang tersisa hanya perasaan hampa dan kosong.
Jadi seharusnya semua berjalan baik-baik saja bukan? Belasan tahun tidur diselingi semua mimpi buruk itu, buktinya ia masih bisa bertahan sejauh sekarang. Terbiasa berkawan dengan kehilangan dan perasaan tak diinginkan bukanlah sesuatu yang akan membunuhnya. Ya, Andreas sudah cukup familiar dengan kesakitan seperti itu. Hanya saja kenapa kali ini rasa tak nyaman yang datang sukar sekali memilih sirna?
Mematikan puntung rokok kedua, ia menyandarkan diri ke kursi penumpang tanpa melepaskan pandangan dari biasan lampu hilir-mudik kendaraan di luar sana. Embusan napas beratnya terdengar samar. Nyaris setengah jam perjalanan ia habiskan hanya memandang kosong dari jendela terbuka mobil yang tengah melaju. Berharap udara malam sedikit saja mampu menjernihkan pikirannya, atau mungkin sedikit bisa mengembalikan kewarasannya pada tempat semula.
Tetapi semuanya tetap berujung nihil saat tatapan terluka gadis itu yang diam-diam sempat ia tangkap di meja makan tadi, masih terus terbesit berulang kali di kepalanya. Mengusik ketenangan yang susah payah coba ia bangun.
Kenapa gadis itu harus bersikap seolah-olah tembok asing yang sekarang mulai terbangun di antara mereka begitu menyakitinya? Bukankah permintaan itu yang ia inginkan? Mendorong Andreas menjauh pergi, memberi batas jelas pada status mereka sebagai orang asing, dan tetap berada di tempat mereka berpijak semula tanpa melewati teritori masing-masing.
Andreas mencoba mengabulkannya, berusaha menepatinya, meskipun di sudut lain benaknya ada perasaan tak nyaman yang terasa mengusik. Lalu kenapa ia tidak mendapatkan setitik kelegaan pun dari sorot mata itu? Kenapa harus tatapan hampa penuh luka itulah yang harus sosok itu tunjukkan setelah menolaknya mentah-mentah?
Bohong jika menganggap Andreas mampu sepenuhnya menahan diri agar tetap bersikap tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka, kembali menjadi orang asing dengan mudah tanpa dibebani perasaan mengganjal.
Apa ia tidak tahu bagaimana usaha keras Andreas berdebat dengan ego dan harga diri agar tidak melirik sedikitpun ke arahnya? Atau bagaimana Andreas melewatkan waktu makan malam dua puluh menit yang cukup menyiksa itu untuk tetap mempertahankan ketenangan dan bersikap bahwa semua baik-baik saja, sekalipun kenyataannya mereka memang sedang tidak baik-baik saja.
Tapi kenapa tatapan sendu sialan itu yang justru ia dapatkan sebagai bayaran? Alih-alih raut lega dan bahagia karena berhasil mendorongnya menjauh pergi?"Anda baik-baik saja?" Lukman yang sedari tadi memperhatikan gelagat tak biasa Andreas sejak mereka meninggalkan villa, tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
Ia kembali bertugas menjadi sopir dadakan dengan berinisiatif memberi tumpangan pada lelaki itu, mengingat suasana hati Andreas yang tidak terlihat dalam keadaan baik, dan juga beberapa jejak luka serta memar di kedua tangan yang entah lelaki itu dapatkan dari mana. Akan cukup beresiko jika bosnya tersebut terlalu memaksakan diri kembali ke Jakarta dengan menyetir sendiri, sementara Lukman bahkan sangsi bahwa fokus dan konsentrasi sang atasan sedang melekat di kepala.
"Ya," gumam Andreas sepintas lalu. Masih betah dengan posisinya menghadap pemandangan di luar.
Lukman menelan ludah kaku. Sejak mendengar pernyataan Andreas yang memutuskan untuk batal menginap, dan bagaimana mereka sekarang sudah meluncur kembali ke Jakarta dengan kesunyian canggung semacam ini, ia tahu bahwa ada sesuatu yang salah atau tengah mengganggu pikiran lelaki itu. Hingga menjadikan sikap tak bersahabatnya berkali-kali lipat lebih dingin dan tak tersentuh.
Memang bukan hal baru bagi Lukman menghabiskan waktu dibekap keheningan di ruang yang sama dengan Andreas, hanya saja untuk kali ini keheningan yang ada jauh terasa lebih mencekik dari sebelum-sebelumnya.
Ia menafsirkan hal ini mungkin berhubungan dengan berita sanksi pemberhentian sementara jabatan Andreas sebagai direktur utama yang dilayangkan beberapa anggota direksi maupun komisaris setelah pertemuan konferensi pers minggu lalu. Kabar burung ini memang sudah terdengar dua hari setelah keberangkatan pria itu ke Sulawesi, hanya saja Lukman tidak menyangka bahwa pemberhentian sementara itu juga akan berujung pada permintaan pencopotan jabatan Andreas secara permanen.
Namun mengingat bagaimana sepak terjang Andreas selama ini yang memang cenderung menciptakan banyak musuh di sana-sini, tidak mengejutkan kalau ada orang-orang yang memanfaatkan kejatuhan pria itu dan mengambil keuntungan di dalamnya.
Terlebih saat tanpa sengaja sebelum makan malam tadi, ia sempat melihat nama Mateo Pramoedya beberapa kali berkedip di layar panggilan ponsel lelaki itu, membuat Lukman menyadari bahwa apa yang akan menanti atasannya setelah ini sepertinya tidak akan berjalan mudah.
"Lukman."
Lukman menoleh saat suara Andreas kembali terdengar.
Tanpa menatap ke arahnya, Andreas bertanya pelan. "Apa ada alasan yang mendasari seseorang merasa terluka, bahkan setelah keinginannya tercapai?"
Lukman yang tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan tak terduga Andreas, ikut mengernyit dalam. "Maaf?" Ia memastikan bahwa kalimat itu memang ditujukan untuknya.
"Saya tidak paham...." Andreas menjeda ucapannya. "Tatapan itu ... benar-benar membuat saya tidak paham apa yang salah."
Meskipun sedikit kesusahan menyimpulkan arah pembicaraan di antara mereka, Lukman bertanya memastikan. "Apa saat ini kita sedang membicarakan seseorang itu?"
Melihat Andreas yang enggan menjawab dan lebih memilih meraih pemantik untuk menyalakan rokok ketiganya, Lukman sudah bisa menarik sedikit titik terang dari alasan sikap lelaki itu yang tak seperti biasa.
Meskipun ia belum paham dengan pasti apa atau lebih tepatnya siapa yang melatarbelakangi perubahan sikap Andreas, Lukman berusaha mengutarakan pemikirannya semampu yang ia bisa.
"Mungkin kalau boleh saya simpulkan, bisa saja ada perasaan bersalah yang menahannya untuk menikmati semua itu."Andreas menyeringai skeptis. "Rasa bersalah, ya?" tanyanya lebih tertuju pada dirinya sendiri. Ya, sedikit melegakan saat tahu bukan cuma ia di sini yang tersiksa sendirian. Sekalipun melalui cara dan jenis kesakitan berbeda.
"Atau...." Lukman tampak belum ingin selesai dengan kesimpulannya. "Mungkin saja karena dia juga ternyata tidak benar-benar menginginkan semua itu."
Senyum Andreas perlahan memudar kaku. Gerakannya menyesap ujung tembakau pun ikut terhenti di udara.
Menepis rasa gusar, ia terkekeh pelan. "Sepertinya alasan pertama terdengar jauh lebih masuk akal."Ya, mungkin akan jauh lebih mudah baginya mempercayai alasan seperti itu, daripada harus kembali membiarkan ia terjebak pada ilusi perasaannya sendiri sekali lagi, dan cenderung berujung memperburuk segala kekacauan yang terjadi. Atau mungkin kembali membuat gadis itu menangis untuk ke sekian kali.
Entah kenapa, Andreas menjadi cukup terganggu dengan ujung akhir menyedihkan seperti itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romantizm[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...