Bab 61. Akhir Menyedihkan

435 33 0
                                        

Penolakan bukan hal baru dalam hidupnya. Beberapa belas tahun lalu, ia pernah berada di titik serupa, bahkan dengan rasa sakit yang jauh lebih besar. Saking hebatnya goresan luka tak terlihat itu, ia nyaris tak bisa merasakan lagi apapun. Termasuk untuk sebuah penyesalan dan amarah sekalipun. Dan satu-satunya hal yang tersisa hanya perasaan hampa dan kosong.

Jadi seharusnya semua berjalan baik-baik saja bukan? Belasan tahun tidur diselingi semua mimpi buruk itu, buktinya ia masih bisa bertahan sejauh sekarang. Terbiasa berkawan dengan kehilangan dan perasaan tak diinginkan bukanlah sesuatu yang akan membunuhnya. Ya, Andreas sudah cukup familiar dengan situasi seperti itu.

Mematikan puntung rokok, ia menyandarkan diri ke kursi penumpang tanpa melepaskan pandangan dari biasan lampu hilir-mudik kendaraan di luar sana. Embusan napas beratnya terdengar samar. Nyaris setengah jam perjalanan ia habiskan hanya memandang kosong dari jendela terbuka mobil yang tengah melaju. Berharap udara malam sedikit saja mampu menjernihkan pikirannya, atau mungkin sedikit bisa mengembalikan kewarasannya pada tempat semula.

Tetapi semuanya tetap berujung nihil saat tatapan terluka gadis itu yang diam-diam sempat ia tangkap di meja makan tadi, masih terbesit berulang di kepalanya. Mengusik ketenangan yang susah payah coba ia bangun.

Kenapa gadis itu harus bersikap seolah-olah tembok asing yang sekarang mulai terbangun di antara mereka begitu menyakitinya? Bukankah permintaan itu yang ia inginkan? Mendorong Andreas menjauh pergi, memberi batas jelas pada status mereka sebagai orang asing, dan tetap berada di tempat mereka berpijak semula tanpa melewati teritori masing-masing.

Andreas telah mengabulkannya, berusaha menepatinya, memberikan ruang jarak sebagaimana yang dibutuhkan.

Tapi kenapa tatapan sendu sialan itu yang justru ia dapatkan sebagai bayaran? Alih-alih raut lega dan bahagia karena berhasil menolaknya mentah-mentah?

"Anda baik-baik saja?" Lukman yang sedari tadi memperhatikan keheningan tak biasa Andreas sejak mereka meninggalkan villa, tak dapat menahan rasa penasarannya lebih lama.

Ia kembali bertugas menjadi sopir dadakan dengan berinisiatif memberi tumpangan pada lelaki itu, mengingat kondisi Andreas yang tidak terlihat dalam keadaan baik, dan juga beberapa jejak luka serta memar di kedua tangan yang entah lelaki itu dapatkan dari mana. Akan cukup beresiko jika bosnya tersebut terlalu memaksakan diri kembali ke Jakarta dengan menyetir sendiri, sementara Lukman bahkan sangsi bahwa fokus dan konsentrasi sang atasan sedang melekat di kepala.

"Ya," gumam Andreas sepintas lalu. "Dan akan jauh lebih baik kalau kamu memilih diam dan fokus saja menyetir."

Lukman menelan ludah kaku mendengar respon sinis tersebut. Sejak mendengar pernyataan Andreas yang memutuskan untuk batal menginap, dan bagaimana mereka sekarang sudah meluncur kembali ke Jakarta dengan kesunyian canggung semacam ini, ia tahu bahwa ada sesuatu yang salah atau tengah mengganggu pikiran lelaki itu.

Ia menafsirkan hal ini mungkin berhubungan dengan berita sanksi pemberhentian sementara jabatan Andreas sebagai direktur utama yang dilayangkan beberapa anggota direksi maupun komisaris setelah pertemuan konferensi pers minggu lalu. Kabar burung ini memang sudah terdengar dua hari setelah keberangkatan pria itu ke Sulawesi, hanya saja Lukman tidak menyangka bahwa pemberhentian sementara itu juga akan berujung pada permintaan pencopotan jabatan Andreas secara permanen.

Namun mengingat bagaimana sepak terjang Andreas selama ini yang memang cenderung menciptakan banyak musuh di sana-sini, tidak mengejutkan kalau ada orang-orang yang memanfaatkan kejatuhan pria itu dan mengambil keuntungan di dalamnya.

Terlebih saat tanpa sengaja sebelum makan malam tadi, ia sempat melihat nama Mateo Pramoedya beberapa kali berkedip di layar panggilan ponsel lelaki itu, membuat Lukman menyadari bahwa apa yang akan menanti atasannya setelah ini sepertinya tidak akan berjalan mudah.

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang