Bab 8. Mereka yang Ditinggalkan

536 44 0
                                        

Andreas menatap lurus gundukan tanah gembur kemerahan tepat di bawahnya. Matahari yang semakin merangkak naik, belum juga membuat pria itu tergerak beranjak dari tempat semula.

Sekalipun orang-orang yang mengikuti prosesi singkat ibadah pelepasan ini, satu-persatu mulai meninggalkan area pemakaman usai mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga dekat yang ditinggalkan, Andreas rupanya masih memilih bergeming diam di sana. Berdiri tegak menenggelamkan kedua tangan ke saku celana, tanpa melepaskan perhatian sedikitpun dari nama yang terukir pada nisan kayu di depan.

Namira Sanjaya. Kelahiran 14 Februari 1989. Meninggal 7 Juli 2018.

Dari balik kacamata hitam membingkai wajahnya, mata tajam lelaki itu meneliti tiap baris kalimat yang baru saja terpahat rapi di sana.
Sungguh waktu 29 tahun yang teramat singkat dan sia-sia, karena wanita itu justru memilih menutupnya dengan akhir yang begitu tragis dan menyedihkan.

Indikasi kecelakaan yang mengarah pada dugaan bunuh diri dari sang korban, telah memberi Andreas pengertian, bahwa kalimat putus asa yang wanita itu bisikan di sela-sela tidurnya kemarin malam, ternyata adalah bentuk lain dari ucapan selamat tinggal yang merujuk pada makna selamanya.

Ya, Namira Sanjaya sudah memilih akhir penutup dari pertandingan panjang melelahkan yang ia lewati. Dan kematian adalah jawaban terbaik yang ia pilih untuk mengakhiri semua keputusasaannya.

"Dua puluh tiga tahun lalu kamu juga tidak mengeluarkan air mata saat mengantar wanita itu ke peristirahatan terakhirnya." Antonio Pramoedya yang juga masih berdiri di samping pria itu sejak peti putih Namira diturunkan ke liang lahat, berujar pelan menatap ke arah pusara yang sama. "Sekarang kamu berada di posisi serupa, dengan istri kamu yang gantian terbaring di dalam sana. Tapi sekali lagi, kamu bahkan tidak menunjukkan duka sedikitpun untuk ukuran seseorang yang baru saja kehilangan."

Sudut bibir Andreas terulas naik mendengar pertanyaan itu.

"Memang apa gunanya?" lirih Adreas tanpa mengalihkan pandangan. "Lagipula air mata tidak akan membangkitkan orang yang sudah mati."

Antonio menghela napas panjang mendengar kalimat bernada sarkas tersebut. "Setidaknya lakukan hal itu untuk keluarga Sanjaya yang juga sedang ikut berduka, Deas. Sekalipun putri mereka sudah tiada, sampai hari ini juga mereka masih menjadi bagian dari kita sejak tali pernikahan kalian turut mengikat hubungan kedua keluarga. Tunjukkanlah sedikit saja rasa empati kamu pada mereka."

Bersamaan dengan ucapan Antonio itu, sepasang suami istri yang sedari tadi melayani ucapan bela sungkawa para kerabat pelayat yang berpamitan, sudah berpindah dari posisi mereka semula dan terlihat berjalan menghampiri keduanya.

Hendrawan Sanjaya menepuk sekilas bahu Andreas ketika pria itu sudah berada tepat di sampingnya. "Maafkan Namira, Deas. Papa nggak mengerti lagi jalan pikiran dangkalnya sampai-sampai harus memilih tindakan memalukan seperti itu."

"Berita ini pasti sudah menyebar luas ke semua kalangan dan media massa. Memang cukup sulit untuk dibendung dalam waktu dekat, tapi Papa akan berusaha semaksimal mungkin agar semua pemberitaan bisa mereda secepatnya. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan nama baik kamu dan keluarga Pramoedya."

Andreas melirik sekilas pria yang masih tersenyum kecil penuh keyakinan tersebut. Dari pindaian singkat yang Andreas tangkap, tidak banyak sorot duka dan kehilangan yang terpatri di mata sayu bergaris keriput dimakan usia itu. Tak berbeda jauh juga dengan wanita paruh baya bergaun hitam yang berdiri di belakang sang suami, kesedihan yang tergambar di wajah itu rupanya masih belum cukup kuat untuk membuat kematian yang dipilih Namira terbayar lunas oleh penyesalan mereka.

Benar-benar sebuah komedi hidup yang sungguh ironis.

"Daripada sibuk mengkhawatirkan saya, Pak Hendra seharusnya lebih mengkhawatirkan status pencalonan dua bulan ke depan. Kasus kematian putri anda bisa saja menjadi kerikil sandungan untuk masa depan karir berpolitik anda, bukan?"

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang