Bab 46. Sama-sama Buta

348 35 2
                                        

Rena menatap ponselnya yang menampilkan layar kontak Andreas. Ia sedari tadi berkutat bimbang antara kata hati dan ego saling bergantian mempengaruhi isi kepalanya. Banyak pertimbangan yang ia lakukan untuk memantapkan niat menghubungi Andreas. 

Selain ingin membahas masalah cek tunai yang pria itu berikan, di sisi lain ada kekhawatiran diam-diam menggerakan nuraninya untuk memastikan bahwa kondisi tubuh lelaki itu cukup mampu dibawa bekerja setelah demam tinggi semalam. Apalagi Mbok Irma sendiri yang mengatakan bahwa Andreas memang tidak terlihat baik-baik saja sewaktu berangkat dari sini pagi tadi.

Rena berdecak ketika menyadari kebodohan apa yang baru saja ia lakukan. Kenapa pula ia harus memusingkan apa yang bukan menjadi bagiannya? Kesehatan Andreas atau apapun tentang kehidupan pria itu sama sekali tidak ada urusan dengannya. 

Benar, tidak seharusnya Rena dipusingkan oleh sosok asing yang bahkan baru dikenalnya secara pribadi kurang dari satu minggu.

Menyandarkan di ke kursi rotan taman belakang, Rena mengurungkan niat untuk menghubungi pria itu. Menghempas jauh-jauh bentuk empatinya terhadap keadaan Andreas, karena ia merasa tugas dan perannya subuh tadi sudah lebih dari cukup untuk menunaikan panggilan nuraninya serta membayar lunas bakti seorang karyawan terhadap atasan. Dan terkait masalah uang dadakan yang diberikan Andreas, ia akan mengkonfirmasi langsung tujuan sebenarnya lelaki itu ketika nanti mereka bertemu. 

Ya, Rena manggut-manggut meyakinkan diri. Ia tidak perlu repot-repot menghubungi pria itu. Karena memang tidak ada alasan yang mewajibkan mereka saling berkomunikasi. 

Rena yang baru saja berniat menutup layar kontak dan hendak melepaskan ponsel ke atas meja bundar di sampingnya, mendadak tersentak dengan netra membola lebar ketika nama pria yang baru saja menyita perdebatan di kepalanya, muncul di layar gawai bersamaan dengan dering panggilan masuk berbunyi nyaring.

Rena butuh beberapa saat mencerna apa yang baru saja terjadi di depan mata. Karena secara tiba-tiba mendapati seorang Andreas Pramoedya lebih dulu berinisiatif menghubunginya, bahkan ketika ia memutuskan membatalkan keinginan menelepon lelaki itu. Apa jangan-jangan pria itu memiliki semacam indra keenam? Mengabaikan pikiran melantur tersebut, Rena menggeser tanda terima panggilan dengan selintas perasaan ragu.

"Hal---"

"Kamu sudah lihat pesan yang saya tinggalkan?"

Orang ini bahkan tak mau repot-repot membiarkannya memberi salam. Selalu to the point seperti biasa.

"Pesan?" tanya Rena.

"Di meja nakas."

Ah, masalah cek itu.
 
Berdeham kecil, Rena menjawab. "Ya." Ia tampak berpikir sebentar. "Kamu ... tidak bermaksud mengerjai saya, kan?"

Dapat Rena dengar embusan napas berat dari sebelah sana. "Untuk apa saya mengerjai kamu?" 
 
Rena menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar pertanyaan balikan tersebut. "Tentu saja mungkin karena kamu masih dendam?" balas Rena dengan sedikit ragu.

Mempercayai seorang Andreas Pramoedya akan sedermawan itu membayarnya hanya karena sebuah kebajikan yang bahkan tak tuntas ia lakukan, lebih terdengar seperti kemustahilan.
 
"Saya tidak sepicik itu, Serena." Andreas membalikan ucapannya dengan sedikit sarkas. "Bahkan setelah makian yang kamu berikan, Bos kampret seperti saya cukup profesional dalam menunaikan hak-hak asasi karyawannya."

Skakmat. Menyindir secara terang-terangan memang sudah jadi gaya hidup Andreas.

"Bukannya kamu sendiri yang meminta kompensasi? Karena merawat atasan sakit sudah diluar dari jobdesk kamu yang seharusnya? Saya hanya mewujudkan apa yang kamu minta."

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang