Andreas terbangun dengan denyutan kepala yang masih meninggalkan sisa-sisa pening dari demam menggigilnya semalam. Entah sudah berapa lama ia jatuh tertidur, sampai tak menyadari detik dan menit berlalu cukup singkat hingga seberkas cahaya merangsek masuk dari ventilasi tinggi yang tidak terhalang gorden, menunjukkan bahwa waktu sudah menyongsong pagi di luar sana.
Dengkuran halus terdengar cukup dekat di telinga, menyadarkan Andreas tentang apa yang telah ia lewati semalam sehingga berakhir jatuh terlelap di atas sofa dengan posisi duduk, berbantalkan bahu seseorang menjadi sandaran. Bahkan tangan yang masih melingkar mendekap gadis yang tampaknya juga ikut terlelap di sampingnya, masih bertahan pada posisi semula ketika lelaki itu membuka mata.
Mendesah pelan, Andreas menarik diri secara perlahan dari tubuh gadis itu dan mulai beringsut memberi sedikit jeda ruang di antara mereka. Bisa-bisanya ia membiarkan dirinya jatuh cukup mudah pada godaan kantuk hanya karena berbekal tepukan dan senandung pengantar tidur dari sosok yang masih pulas di sampingnya ini. Padahal belum terhitung lama keduanya saling berdebat sengit dan memancing kekesalan Andreas.
Pria itu melirik sepotong kain yang sudah teronggok di atas paha terbungkus celana piyama dari sosok yang sempat ia jadikan guling dan bantal hidup barusan. Matanya menyipit intens, merasa tidak asing dengan bentuk dan motif kain tersebut karena ia pernah melihat Mbok Irma menggunakan benda serupa untuk mengelap meja atau membersihkan lantai.
Jangan bilang kalau gadis itu memang menggunakan kain lap dapur yang sama untuk mengompres demamnya sepanjang malam? Decak Andreas tak habis pikir.
Lalu pandangannya beralih pada nampan di atas meja yang terdapat gelas air masih terisi penuh, sebuah baskom berbahan stainless, serta piring tatakan cangkir memuat satu tablet berwarna putih yang Andreas tebak sebagai obat paracetamol untuk menurunkan panas.
"Jadi ini yang dia maksud dengan bantuan merawat orang sakit?" Andreas melirik sinis benda-benda yang justru tak berfungsi sebagaimana mestinya karena si perawat dadakan yang membawa mereka ke mari justru lebih dulu dikalahkan rasa kantuk dan berakhir jatuh mendengkur, sebelum ia sendiri sempat melakukan tugasnya.
Meraih obat yang dibiarkan menganggur selama berjam-jam, Andreas menelan pereda demam itu dalam satu tegukan air. Mengabaikan efek samping yang mungkin akan datang seperti mual atau gangguan lambung lainnya karena mengonsumsi tablet di saat perut sedang kosong. Setelahnya ia kembali menyandarkan diri ke sofa dan mengatur napasnya serileks mungkin.
Kondisi tubuh dan demam yang ia rasakan memang belum berangsur membaik, tapi setidaknya ia tak perlu merasa setersiksa kemarin. Mendapatkan tidur cukup pulas meski hanya kurang dari 4 jam, lebih dari mampu memberi sedikit kelegaan yang ia butuhkan. Mungkin di sepanjang 27 tahun hidupnya, tidur singkat beberapa jam lalu adalah istirahat yang terasa paling melegakan. Bahkan setelah mimpi mengerikan apa yang baru saja menjebaknya di alam bawah sadar sana.
Andreas menoleh ke sisi kanan, tempat di mana gadis yang masih nyenyak dalam tidurnya berada. Cahaya keemasan matahari pagi dari pantulan jendela maupun celah ventilasi terbuka, menyusup masuk ikut menaungi beberapa bagian sisi wajah gadis itu, membuat raut lelapnya makin terlihat damai.
Andreas bertanya-tanya sendiri, apa cuma dia di sini yang nyaris lupa bagaimana rasanya terlelap dengan wajah sedamai itu?
"Sepertinya mantra penangkal mimpi buruk kamu cukup manjur." Andreas berujar sayup pada sosok yang masih berbaring senyap di sebelahnya. "Wanita itu bahkan tidak muncul lagi setelah pengusiran yang kamu lakukan. Tidak mengherankan. Mengingat seberapa bar-barnya kamu."
Seberkas senyum kecil terbit di bibirnya. "Apa aku bisa menyewa jasa penangkal mimpi buruk itu lagi kalau dibutuhkan? Mungkin sedikit kenaikan gaji dan bonus tahunan bisa jadi kompensasi."
Andreas melabuhkan pandangan berlama-lama menatap seraut pulas dari perempuan itu. Ia mencoba merangkai mundur awal pertemuan di antara mereka sampai berujung pada titik seperti sekarang. Sosok asing yang tak pernah terpikirkan sedikitpun akan menelusup begitu jauh ke dalam kehidupan pribadinya, terlebih dengan cara cukup konyol dan tak terduga.
Lelaki itu mengganti posisi duduknya. Bertopang menyanggah pipi dengan siku bertumpu pada punggung sofa, memandang lekat gadis yang sekarang berganti posisi berada di depannya. Ini adalah kali kedua ia dapat menelusuri figur wajah itu dari jarak dekat seperti sekarang.
Alis berwarna coklat kehitaman dan bulu mata lentik yang membingkai wajah, ditambah hidung bangir serta bibir tipis merah muda alami, mengingatkan sejenak Andreas pada potret istrinya, Namira. Yang juga memiliki kontur wajah serupa jika melepas riasan yang selalu wanita itu kenakan. Bahkan rambut ikal bergelombang keduanya terlihat cukup mirip selain perbedaan warna hitam dan coklat, atau panjang helainya.
Namun berbanding terbalik dengan Namira yang cenderung berperilaku anggun dan juga tertutup, gadis ini justru terlalu pembangkang, atau Andreas mungkin lebih mengkategorikannya dalam sebutan bar-bar. Pengalaman yang cukup mengejutkan bagi Andreas, karena untuk pertama kalinya ia bertemu seseorang yang kerap seimbang dan sama keras kepalanya tiap kali mereka saling terlibat ke dalam perdebatan. Meski hanya menyangkut hal-hal kecil tak penting sekalipun.
"Den...."
Entah berapa lama ia terdiam mengamati sosok itu, sampai tak menyadari kehadiran Mbok Irma sudah berdiri di ambang tangga lantai dua, menatap ragu-ragu ke arahnya.
"Maaf, Mbok cuma mau permisi matiin lampu dan buka gorden di ruangan ini. Sekaligus bersih-bersih sedikit."
Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Andreas, lengkap dengan kemoceng dan sapu di kedua tangannya. Kebiasaan setiap pagi Mbok Irma membereskan rumah, memang tak pernah absen dilakukan mulai dari lantai bawah hingga atas. Sekalipun di pukul setengah tujuh pagi sedini sekarang.
Ketika sesaat berada dekat dengan sofa yang diduduki Andreas, ia cukup terkejut karena baru menyadari bahwa ada sosok lain ternyata sedang terduduk lelap di samping lelaki itu.
"Lho, Neng Rena kenapa bisa tidur di sini, Den?" tanya Mbok Irma dengan kening mengerut. "Lehernya pasti nanti sakit kalau semalaman tidur dengan posisi begitu. Apa sebaiknya nggak dibangunkan aja biar bisa pindah ke kam---"
Andreas menyentuhkan telunjuknya ke bibir, sebagai isyarat agar Mbok Irma sedikit memelankan suara, apalagi melihat bagaimana gadis itu mulai menggeliat dalam tidur ketika suara Mbok Irma menggema dengan tiba-tiba.
"Biar saya saja. Jangan dibangunkan." Andreas menahan niat Mbok Irma yang ingin membangunkan Rena dari tidur pulasnya.
Lelaki itu pun berdiri dari sofa, kemudian tanpa diminta, menyusupkan kedua tangan pada punggung dan tungkai kaki Rena, membawanya dalam dekapan. Dengan langkah pelan dan hati-hati, menuju tempat di mana kamar gadis itu berada.
Sebuah gerakan spontanitas yang tak luput sedikitpun dari pengamatan Mbok Irma. Hingga sukses membuat wanita paruh baya itu tertegun diam tanpa kata.
Sesampainya di kamar, Andreas langsung merebahkan perempuan dalam gendongannya ke atas kasur. Menaikan selimut yang tergeletak di bawah kaki hingga sebatas dada. Dari posisi tersebut pula netranya sempat menangkap bekas kemerahan pada pergelangan kanan dari tangan gadis itu yang tak tertutup kain. Jejak yang ia tinggalkan beberapa saat lalu.
Terpaku sejenak, ia kemudian memutuskan membalik badan, berjalan ke luar dari kamar. Tak sampai 10 menit berselang, lelaki itu kembali masuk dengan membawa kotak obat yang ia ambil di lantai bawah.
Berjongkok di sisi ranjang tempat gadis tersebut berbaring, Andreas menyentuh pergelangan yang masih menampilkan bekas kemerahan itu. Mengoleskan salep pereda memar secara perlahan di sana. Cukup teliti dan hati-hati.
Ia melirik ke arah gadis itu sekali lagi. Dengan usapan ibu jari pada punggung tangan yang berada dalam genggamannya, Andreas berkata lirih. "Maaf ... dan terima kasih."
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romansa[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...
