Rena menatap sayang lauk-pauk melimpah tersaji di hadapannya. Meja makan terlihat penuh itu seolah tampak kontras dengan jumlah ketiga penghuni yang belum tentu mampu menghabiskan jatah makanan sebanyak itu.
Pukul sepuluh memang terlalu larut untuk disebut makan malam. Berterima kasihlah pada seseorang yang harus membuat mereka menunggu tanpa kepastian hanya untuk sekedar mengisi perut.
"Apa sebaiknya Mbok telepon saja?" tanya Rena pada Mbok Irma karena wanita paruh baya itu beserta suaminya tetap bersikukuh menunggu kedatangan Andreas meski waktu sudah menunjuk jam-jam suntuk. Benar-benar bentuk loyalitas yang tak mampu dimengerti oleh Rena sendiri. Terutama jika loyalitas itu ditujukan pada sosok tanpa hati nurani seperti Andreas.
Mbok Irma menggeleng pelan. "Neng Rena nggak apa-apa kalau memang mau makan lebih dulu. Mbok sama suami bisa nyusul sebentar lagi. Nggak perlu merasa sungkan, Neng. Mbok nyiapin makanan ini buat Neng Rena juga, Kok."
Pak Umar yang duduk di samping istrinya ikut mengangguk, turut mempersilakan.
Ya ampun. Mana bisa Rena tega merasa santai meraup nasi dan lauk begitu saja tanpa memperdulikan orang lain yang berbagi meja dengannya harus menderita menahan lapar. Tak peduli meskipun lambungnya sedari tadi mulai mengajak tawuran, Rena akan tetap berpegang teguh pada hati nuraninya.
Lagipula yang merepotkan di sini, kan, si Andreas itu, kenapa pula harus mereka bertiga yang kebagian menahan siksa?Sadar memaksa pun tak ada gunanya, karena Mbok Irma masih berkeras pada keputusan semula, Rena terpaksa mengambil inisiatif sendiri untuk memperjelas akhir penantian dari rasa lapar menyengsarakan ini.
"Neng Rena mau ke mana?" Mbok Irma terlihat bingung saat mendapati gadis itu mulai beranjak dari kursinya. "Mbok dan suami nggak apa-apa kalau Neng Rena mau ambil makan duluan. Jadi nggak perlu ikutan nunggu Den Andreas kayak Mbok juga."
Rena tersenyum sungkan. Mereka pasti berpikir niatnya beranjak pergi dari meja makan ini adalah bentuk kekesalan karena merasa bosan dibuat menunggu selama berjam-jam. Padahal ia hanya berusaha mencari solusi lain karena tak tega melihat raut kuyu dua pasangan suami istri itu yang sedari pagi bekerja, harus ikut menahan lapar hanya karena si tuan rumah belum kunjung ada di tempatnya. Yang bahkan tanda-tanda kedatangannya saja tak tercium sampai sekarang.
"Saya ada urusan pekerjaan bentar, Mbok." Rena mengangkat sekilas ponselnya, demi menunjukkan bahwa ia memang memiliki urusan lain lewat benda pipih itu sehingga membutuhkan waktu pribadi. "Berhubung Pak Andreas belum datang, saya pamit ke belakang sebentar dulu, ya?"
Daripada nanti Rena terus dipaksa Mbok Irma makan sendirian karena tak tega melihat muka kelaparannya, ia memilih untuk melipir sebentar ke teras belakang mengandalkan alasan pekerjaan, yang tentunya tidak lebih dari bualannya saja.
Astaga. Ia tidak tahu sejak kapan dirinya menjadi pembohong terlatih seperti ini. Ternyata terlalu lama berada di sekitar Andreas, membuatnya ikut tertular semua sikap jelek dan negatif pria itu.
Mendaratkan diri ke kursi rotan teras belakang, Rena menimbang-nimbang saat jemarinya sudah menampilkan nama kontak seseorang di layar datar.
Sejujurnya Rena juga tidak yakin kalau panggilan teleponnya nanti akan mendapat jawaban seperti yang diharapkan. Karena Mbok Irma sendiri pernah mengatakan bahwa pria itu tidak suka diusik kalau bukan untuk sesuatu yang penting dan mendesak, meski hanya lewat panggilan telepon sekalipun.Tapi situasi mereka saat ini memang mendesak, kan? Apalagi ini menyangkut masalah hidup dan mati karena asam lambungnya bisa saja naik kambuh sewaktu-waktu.
Tak ingin terlalu banyak berpikir, Rena pun memutuskan menghubungi nomor kontak yang sedari tadi bergelut menjadi pertimbangannya.Ia beranjak menuju pinggiran teras berbatasan langsung dengan jalan setapak berbatu koral putih, jalur yang menjadi akses menuju kolam ikan yang terletak beberapa langkah di depan sana.
Seraya masih berkutat pada panggilan dengan ponsel mengapit telinga, Rena menyenderkan diri pada tiang penyangga beranda. Menyorot pemandangan yang disajikan keremangan malam dengan kedua matanya.
Namun nada sambung panjang yang sedari tadi terdengar, belum juga memberikannya tanggapan berarti. Bahkan tak berselang lama kemudian bunyi terputus karena terlalu lama tak mendapat respon dari si penerima, membuat Rena ikut berdecak menahan kesal.
Seperti dugaannya, menghubungi Andreas Pramoedya ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Hampir saja ia berpikir untuk menyerah karena tiga panggilan berturut-turut sebelumnya berujung nihil, hingga akhirnya sebuah suara yang tiba-tiba menyahut dari seberang, berhasil mengurungkan niat Rena untuk menutup panggilan."Saya pikir kamu tidak tertarik mengajukan pinjaman online atau asuransi apapun yang saya tawarkan."
Rena mendengus mendapati sindiran telak itu meluncur dari mulut Andreas. Mengacu pada balasan pesannya tadi pagi yang berpura-pura menganggap lelaki itu sebagai agen pinjaman online.
Ia tidak menyangka bahwa Andreas akan kembali mengungkit hal tersebut sebagai obrolan pembuka di antara mereka. Alih-alih mengatakan salam atau sejenisnya.
Mengabaikan sindiran Andreas barusan, Rena memilih mengatakan apa yang mendasari alasannya menghubungi pria itu. "Mbok Irma udah nyiapin banyak makan malam buat Pak Andreas dan Pak Lukman, karena beliau pikir kalian mungkin akan kembali ke villa malam ini."
"Lalu?"
Rena nyaris mengutuk pelan saat mendengar pertanyaan santai sarat ketidakpedulian dari lelaki itu. Tidak bisakah ia berpura-pura peka sedikit saja?
"Sayangnya Mbok Irma dan suaminya menolak makan sebelum memastikan Bapak benar-benar akan datang atau tidak. Tapi terlalu segan menanyakan langsung lewat telepon karena merasa sungkan dan nggak ingin mengganggu."
Intinya mereka terlalu loyal pada sosok tak berperikemanusiaan seperti Andreas. Bahkan Rena yakin kalau tidak mempertimbangkan kehadirannya yang terlihat menahan lapar, kedua Pasutri itu mungkin akan menunggu kedatangan Andreas sampai pagi jika diperlukan.
Rena sempat menangkap jeda hening di sebelah sana, sebelum akhirnya Andreas kembali bersuara. "Saya dan Lukman sudah makan di luar. Mereka tidak perlu repot-repot."
Rena terdiam sejenak. Walaupun ia cukup senang karena tak perlu terlibat makan malam bersama Andreas yang teramat ingin dihindarinya itu, tapi di satu sisi, Rena juga tak tega pada Mbok Irma yang sudah susah payah memasak cukup banyak, dan justru hidangannya tak terjamah oleh sosok yang ditunggu-tunggunya sedari tadi.
"O-oh." Akhirnya hanya jawaban singkat itu yang mampu Rena berikan. Karena ia juga tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah mendengarnya.
"Hm." balas Andreas tak kalah singkatnya. Lalu selanjutnya yang Rena dengar adalah bunyi sambungan ditutup secara sepihak oleh pria itu.
Mata Rena spontan membola nyalang.
Apa-apaan itu?
"Dasar Bos Kampret!" Rena terpancing mengumpat karena tingkah seenaknya Andreas yang langsung mengakhiri sambungan tanpa peringatan. Lebih-lebih saat ia belum selesai berbicara.Mendelik pada ponsel yang sudah bergeming hening dalam genggaman, Rena kembali mencibir tak terima.
"Udah nggak punya sopan santun, angkuhnya setinggi Pluto, suka semena-mena, hidup bernapas pula!" cerocos Rena dengan lantang, menyalurkan semua kekesalan yang ada.Meskipun berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, ia tahu bahwa sikap menyebalkan Andreas memang sudah begitu mendarah daging, tapi tetap saja diperlakukan seperti tadi akan membuat manusia sepengertian apapun menjadi kesal dan tersinggung.
Mengembus napas kuat-kuat melampiaskan rasa sebal, Rena pun menghentak langkah hendak berbalik masuk ke dalam. Namun detik selanjutnya gadis itu nyaris memekik kencang di tempat, saat mendapati sosok yang ia umpat habis-habisan barusan ternyata sudah bertengger tak jauh beberapa langkah dari posisinya berpijak.
Sembari menyender pada kusen pintu dengan tangan bersedekap, pria itu menatap lurus-lurus ke arahnya.
"Kenapa berhenti?" tanya Andreas dengan sebelah alis terangkat. "Kamu bisa lanjut mengumpati saya dengan lantang seperti tadi."
"Saya tidak keberatan mendengarkannya sampai akhir."
Sial! Rena langsung merutuki kebodohan tak tahu tempatnya itu dalam hati. Sepertinya kali ini ia benar-benar akan dipecat dan berakhir menjadi pengangguran.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...