Suasana divisi pemasaran yang selalu ramai mendekati jam makan siang, kini tampak lebih riuh dari biasa saat beberapa karyawan wanita terlihat sibuk berkumpul membentuk setengah lingkaran, mengerubungi meja kubikel seseorang yang sedang menampilkan portal berita di laman mesin pencarian. Termasuk di sana ada Mala yang dikenal Rena sebagai teman sebelah kubikelnya, terlihat juga sedang ikut bergabung di antara kerumunan.
Mala yang baru menyadari kehadiran Rena ketika wanita itu melangkah memasuki ruang divisi dengan kernyitan heran, tanpa menunggu lama pun segera beralih dari tempatnya, menghampiri Rena dengan pekikan nyaring dan bola mata yang membulat selebar-lebarnya.
"Astaga! Kamu dari mana aja, Ren? Satu divisi kita udah dibuat seheboh ini, tapi kamu malah sibuk keluyuran."
Rena masih mengerut kening kebingungan dengan tingkah berlebihan Mala. Padahal tidak sampai setengah jam ia meninggalkan kursi kerjanya, tapi begitu kembali ke ruangan, orang-orang justru sudah berkumpul heboh entah meributkan apa. Termasuk rekan kerja sebelah mejanya.
"Kamu harus dengar berita gila ini, Ren! Anak-anak divisi kita, bahkan nyaris satu gedung lagi sibuk ikut-ikutan membahasnya. Aku sampai sekarang aja masih belum percaya padahal sudah melihat beritanya berkali-kali. Bahkan kabar ini udah masuk headline news portal berita nasional. Tinggal tunggu waktu sampai media tv juga ikut mengangkatnya."
Rena hendak menolak untuk meladeni apapun yang menarik perhatian Mala hingga membuatnya sehisteris itu, atau topik mengejutkan manapun yang lagi hangat diperbincangkan oleh rekan-rekannya yang lain. Namun Mala sepertinya tak ingin melepaskan Rena begitu saja, sehingga dengan sekuat tenaga ia berusaha menyeret perempuan itu agar mengikuti langkahnya bergabung dengan kumpulan orang banyak tersebut.
"Jadi ini beneran kecelakaan tunggal?" Suara Mas Tian, salah satu senior copywriter di mana merupakan satu-satunya lelaki yang bergabung di sana, terdengar tak ketinggalan menimpali obrolan.
"Kecelakaan tunggal yang disengaja mungkin, Mas. Lihat aja, bagian depan mobilnya bahkan hancur lebur begitu pas nabrak pembatas tol. Kecepatannya sebelum tabrakan pasti di atas rata-rata kalau sampai berhasil membuat bumper depannya penyok nggak berbentuk," sahut suara yang lain.
"Maksudnya dia bunuh diri gitu?" tanya Mas Tian lagi dengan heboh.
"Dugaan lainnya dia mabuk berat pas berkendara. Karena dari berita yang beredar, masih ada aroma alkohol tercium jelas waktu petugas keamanan dan ambulans mindahin dia dari kursi pengemudi."
"Aku masih nggak percaya kalau Namira Sanjaya bisa mabuk-mabukan sampai seteler itu, apalagi sampai ceroboh menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawanya sendiri. Maksud aku, selama ini kan dia selalu menampilkan citra perempuan baik-baik menurut kelasnya. Selain itu dia juga selalu berusaha menjaga nama baik keluarga Sanjaya. Karir dan kehidupan pernikahannya juga terlihat aman-aman aja. Kenapa justru harus berakhir tragis seperti ini?"
Namira Sanjaya. Itulah nama yang tertangkap netra Rena ketika pandangannya menyapu judul berita pada portal media massa di layar depan. Meskipun terbilang jarang mengikuti perkembangan kabar tentang publik figur, selebgram, atau orang terkenal manapun di jagad pertelevisian ataupun dunia maya, tapi entah kenapa nama itu tak begitu asing menyapa pendengarannya.
"Namira Sanjaya?" bisik Rena terlebih seperti gumaman.
Mala yang berdiri di dekatnya, masih dapat menangkap dengan jelas pertanyaan yang terlontar secara spontan dari bibir Rena. Perempuan itu pun mengangguk membenarkan. "Iya, Namira Sanjaya. Putri bungsu dari politikus terkenal Hendrawan Sanjaya, sekaligus menantu satu-satunya Pak Antonio Pramoedya, salah satu komisaris utama dan keluarga pendiri perusahaan kita."
"Jadi perempuan itu istri Pak Andreas Pramoedya? Anak dari Pak Antonio?" gumam Rena lagi.
Mala kembali mengangguk, berbisik lirih di telinganya. "Temen aku yang kerja di lantai atas bilang sendiri di grup chat kantor kalau Pak Andreas nggak kelihatan sejak tadi pagi. Kemungkinan dia sibuk mengurus kematian istrinya. Aku bahkan masih nggak percaya setelah dengar berita ini. Padahal aku juga cukup mengidolakan Namira Sanjaya waktu dia masi aktif-aktifnya di dunia model dan perfilman, sebelum memutuskan pensiun dan jadi menantu keluarga Pramoedya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...