Andreas tak mengerti kenapa ia justru berakhir di hadapan bangunan dua lantai semi Belanda di depannya ini. Daripada memilih terlelap usai hari yang panjang di apartemennya sendiri, ia malah memutuskan menyetir menempuh lebih dari 60 kilometer perjalanan jauh-jauh ke Bogor. Masih lengkap dengan pakaian kerja yang sudah tak serapi tadi pagi karena berbagai kesibukan padat terlewati seharian.
Melonggarkan simpul dasi, Andreas menghempaskan sisa rasa lelahnya bersandar sejenak pada kursi jok pengemudi, membiarkan kesunyian ruang menjadi temannya untuk berbagi penat. Karena pertemuannya dua jam lalu dengan keluarga Sanjaya, benar-benar menjadi penutup hari yang buruk untuknya.
Andreas masih memandang lurus pemandangan beranda villa lengang di depan sana. Rasanya lucu sekali saat menyadari ia sudah dua kali menempuh jarak Jakarta-Bogor hanya dalam selang waktu dua hari, demi kembali berada di tempat yang sedari dulu selalu enggan untuk ia pijaki. Yang bahkan dalam lima tahun terakhir ini hanya dikunjunginya dalam hitungan jari.Sampai sekarang pun ia jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya ia lakukan di sini?
Ketukan pelan dari luar kaca jendela, membuat Andreas sontak menoleh. Mendapati Pak Umar ternyata sudah berdiri di samping mobilnya, tersenyum begitu sopan setelah menyadari kedatangannya.
"Baru sampai, Den?" tanya Pak Umar ketika Andreas membuka pintu dan segera turun dari dalam sana. Yang hanya dijawab melalui anggukan singkat oleh lelaki itu.
Mbok Irma yang buru-buru menghampiri saat kakinya sudah menginjak ruang tamu, langsung segera menawarkan makan malam dan teh hangat untuk membantu meredakan kepenatan pria itu setelah perjalanan jauh.
Andreas pun hanya menerima tawaran teh hangat yang ia butuhkan, namun menolak halus ajakan makan malam yang ditawarkan. Karena ia memang tidak sedang dalam kondisi berselera menyantap makanan apapun untuk sekarang ini. Ia lebih tertarik menghabiskan satu dua batang nikotin di sela waktu istirahatnya.
Melangkah menuju teras belakang, tempat yang biasa menjadi lokasinya menyesap asap tembakau tiap kali bertandang, langkah Andreas refleks terhenti di ambang pintu ketika menyadari ternyata sudah ada sosok lain yang rupanya lebih dulu menempati area tersebut.
Wanita itu tampak berdiri membelakangi pintu masuk di mana Andreas berdiri, dengan mengapit ponsel di telinga kirinya menatap ke arah temaram kolam ikan dan pepohonan rindang di depannya.
Andreas hendak berbalik pergi dari sana karena sepertinya keinginan untuk merokok di tempat itu terpaksa harus ia urungkan. Namun ponsel yang tiba-tiba bergetar di tangannya, menghentikan gerakan pria itu saat baru saja berniat melangkah menjauh.
Dahi Andreas mengernyit dalam saat mendapati nama kontak yang tertera pada layar panggilan. Ia melemparkan kembali tatapan ke arah wanita yang kini sudah bersender pada tiang beranda sambil mengapit rapat-rapat ponsel di telinganya.
Alih-alih menjawab panggilan yang masih bergetar dalam genggaman, Andreas justru memilih ikut bersandar pada kusen pintu seraya bersedekap tangan, memperhatikan dengan lekat punggung wanita itu dari belakang dalam bungkam.
Sesekali ia bisa melihat bagaimana wanita itu menyugar rambutnya sembari berdecak kesal saat panggilan yang ia tuju tak kunjung mendapat jawaban. Bahkan Andreas juga bisa menangkap gerutuan samar terlontar dari mulutnya ketika panggilannya masih tak terjawab di sambungan kedua.
Semua itu Andreas perhatikan dalam diam. Tak pernah luput dari atensinya meski sedikit saja. Dan entah kenapa, ia cukup menikmati hal-hal absurd tersebut. Hingga akhirnya di panggilan yang ke empat, Andreas memutuskan untuk menggeser tanda terima yang tertera di layar ponselnya.
"Saya pikir kamu tidak tertarik mengajukan pinjaman online atau asuransi apapun yang saya tawarkan."
Dari sini Andreas dapat melihat gadis itu mendengus setelah mendengar ucapannya. Reaksi spontan yang seketika menarik tipis kedua sudut bibir Andreas.
Lelaki itu berusaha menjaga suaranya agar tidak mudah dijangkau oleh sosok yang hanya beberapa meter berjarak tak jauh di depan sana.
"Mbok Irma udah nyiapin banyak makan malam buat Pak Andreas dan Pak Lukman, karena beliau pikir kalian mungkin akan kembali ke villa malam ini."
"Lalu?" Andreas menjawab tanpa melepaskan tatapan lurusnya. Sekali lagi ia sepertinya berhasil memancing kekesalan lawan bicara di seberang sana. Karena ia bisa melihat bagaimana wanita itu bergerak gelisah menahan geram.
"Sayangnya Mbok Irma dan suaminya menolak makan sebelum memastikan Bapak benar-benar akan datang atau tidak. Tapi terlalu segan menanyakan langsung lewat telepon karena merasa sungkan dan nggak ingin mengganggu."
Andreas mengingat kembali bagaimana sambutan hangat dua pasangan suami istri itu saat mendengar bunyi mesin mobilnya yang terparkir di halaman depan villa. Ia juga sempat menangkap raut kecewa di wajah Mbok Irma karena dirinya menolak ajakan makan malam yang telah disediakan, dan lebih memilih teh hangat untuk mengisi dahaga dan rasa penatnya.
Ia baru tahu kalau kedua orang itu benar-benar menunggu kehadirannya sampai selarut sekarang, terlebih sampai melewati makan malam mereka sendiri.
Apa sebelum-sebelum ini mereka juga sempat melakukan hal demikian setiap kali mendapati kunjungan mendadak tak terduga darinya?
"Saya dan Lukman sudah makan di luar. Mereka tidak perlu repot-repot." Andreas berusaha menepis perasaan terusik begitu mengetahui fakta yang baru saja ia dapatkan. Tak ingin membiarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut menggali sesuatu yang sudah ia kubur mati-matian selama 27 tahun belakangan. Karena hal itu hanya akan menjadikannya lemah dan tak berguna.
Maka ia pun memilih jawaban penolakan yang cukup beralasan.
Meskipun makan malam yang ia maksud bersama Lukman, tidak lebih dari sepiring spaghetti carbonara yang mereka makan bertiga bersama Pak Remond dari divisi perkebunan, saat meeting membahas perluasan bisnis kebun kakao di Sulawesi Selatan sore tadi."O-oh." Hanya jawaban singkat itu yang terdengar sebagai respon dari pernyataan berbalut sedikit kebohongan tersebut.
Andreas pun membalas dengan jawaban sama singkatnya, sebelum memutus sambungan di antara mereka secara sepihak. Hal yang langsung otomatis mengundang segala umpatan serapah dari perempuan itu.
"Dasar Bos Kampret!"
"Udah nggak punya sopan santun, angkuhnya setinggi Pluto, suka semena-mena, hidup bernapas pula!"
Andreas membiarkan makin itu meluncur terang-terangan di depan mukanya. Masih dengan posisi bersedekap, ia turut menyaksikan segala kemarahan dan emosi yang memang ditujukan untuknya secara frontal dan penuh dendam.
Ia membiarkan semuanya. Sampai gadis itu akhirnya jadi capek mengomel sendiri, lalu berbalik hendak masuk kembali ke dalam. Dan di detik yang sama nyaris terpekik di tempat dengan mata melotot lebar, sesaat setelah menyadari kehadirannya.
"Kenapa berhenti?" tanya Andreas dengan sebelah alis terangkat. "Kamu bisa lanjut mengumpati saya dengan lantang seperti tadi."
Mengurai sedekapnya, Andreas melangkah menghampiri wajah yang sudah terlihat pucat pasi tersebut.
Dengan seulas seringai tipis, ia kembali menambahkan. "Saya tidak keberatan mendengarkannya sampai akhir."Melihat bagaimana bola mata secoklat madu itu melebar panik, rona merah di pipi putih pucat itu bersemu salah tingkah bercampur malu, atau bagaimana bibir merah muda alami merekah itu bergetar gugup, Andreas benar-benar menikmati semua itu.
Hingga sebuah kesadaran membuat ia akhirnya tahu, bahwa alasan kedatangannya jauh-jauh ke tempat yang teramat dibencinya ini, mungkin salah satunya adalah kehadiran gadis yang sedang bergeming pias di hadapannya kini.
Ia tak paham kenapa, dan belum juga mendapatkan jawabannya, tapi satu hal yang ia tahu, dirinya ternyata cukup menikmati semua itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romansa[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...