Bab 40. Memori Sembilu

296 30 2
                                    

Jangan lagi. 

Ia berharap takdir keji ini akan berhenti menariknya pada pusaran menyakitkan ini lagi. Namun bunyi bantingan benda pecah belah di luar sana, diikuti hentak teriakan menggema saling merampas bersahutan, membuat ia sepenuhnya sadar, tak ada jalan kembali sebelum melalui kesakitan ini setuntas mungkin. 

Mendekap erat-erat tubuhnya meringkuk di sudut kamar, telinganya makin awas menangkap semua suara serapah menyakitkan yang masih terus memecah keheningan malam. Tak jarang juga rintih kesakitan diikuti gema pukulan atau tamparan, menjadi alunan memekakan menyembilu dada.

Sampai akhirnya gedebum pintu dibanting kasar diiringi makian suara berat seseorang, menjadi akhir penutup dari segala kakacauan yang ada. Kemudian tak lama berselang, deru mesin mobil mulai menjauhi pekarangan adalah satu-satunya hal terakhir yang ia dengar sebelum kungkungan sepi kembali datang meraja.

Tapi hal itu sama sekali tidak membuatnya merasa lega. Karena ia jelas tahu, bahwa setelah ini masih ada neraka lain yang sudah menunggu di depan mata. Neraka yang lebih mengerikan dari semua mimpi buruk yang pernah singgah di tidurnya.

Derap kaki yang perlahan mendekat, kembali memaksanya mengeratkan dekapan. Suara langkah yang sudah sangat dikenalinya, membuat ia memejamkan mata dengan bibir gemetar menahan resah.
Bahkan bekas rasa sakit di sekujur tubuhnya yang masih dipenuhi banyak memar membiru, tak sebanding dengan sesak yang datang menghimpit hingga membuatnya bertambah tersiksa.

Ia terus merapalkan dalam benak bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Ia hanya perlu menahan diri untuk beberapa waktu sebentar saja. Sampai detik menyakitkan ini terlewati dengan sendirinya. Sampai kesakitan ini memudar dengan semestinya.

Tapi semua keyakinan dan keberanian yang ia berusaha pegang mati-matian, nyatanya pupus lekang tak bersisa saat sebuah telapak tangan halus membelai lembut helaian rambut hitam legamnya. Menyapu di sana dengan penuh kehati-hatian. 

"Kamu lihat itu? Bahkan setelah bertingkah menjadi seorang bajingan, yang dilakukannya hanya bisa melarikan diri seperti tadi," ucap suara itu saat menyejajarkan diri berlutut di hadapannya. Tapi ia terlalu takut untuk sekedar mendongak menatap sosok yang hanya berjarak beberapa puluh senti dari wajahnya. "Benar-benar menjijikan, bukan?"

Nada suara itu mengalun begitu lembut. Namun baginya, ada makna jauh lebih mengerikan terkandung di dalamnya. Sesuatu yang membuat debaran dadanya terasa makin menggila. Getar samar yang terlihat dari tubuh kurus ceking itu, menunjukkan bahwa rasa takut terasa begitu erat mencekiknya.

"Kenapa tubuh kamu gemetar?" tanya wanita itu lirih, tapi masih bisa tertangkap oleh telinganya. "Apa kamu takut padaku sekarang?"

Anak itu memilih bungkam. Tak berani bergerak atau berkata sepatah katapun.

"Kenapa harus takut?" lirih suara tersebut kembali. "Bukankah manusia yang paling mengerikan di sini adalah laki-laki itu?"

"Lihat, bahkan bekas tangannya di sini masih sangat terasa." Wanita itu meraih telapak mungil di depannya, mengarahkan menyentuh sisi sebelah kanan bawah matanya, menelusur terus turun pada lengkungan bibirnya yang membengkak. Tapi si anak tak berani mengangkat muka untuk sekadar menatap semua goresan luka dan memar yang sempat teraba oleh kulit jemarinya.

"Ayo lihat," pinta wanita itu masih dengan suara lembutnya. "Supaya kamu juga tahu betapa mengerikannya laki-laki itu."

"Supaya kamu tahu betapa hinanya bajingan itu."

"Supaya kamu tahu bahwa sosok yang selama ini selalu kamu bangga-banggakan itu ternyata tidak lebih dari manusia sampah yang bahkan tidak pernah bisa mampu menjaga mulut dan tangannya sendiri."

"Ayo lihat!" 

Anak itu sontak meringis kesakitan saat sebelah tangan wanita itu yang sempat mengusap rambutnya penuh kelembutan, kini beralih menyusupkan jemarinya ke sulur-sulur hitam tersebut, meraup kasar tiap helaian yang mampu ia cengkeram hingga kepala pemiliknya tertarik mendongak paksa dan membawa mereka saling bertatapan.

Di detik pertama pandangan keduanya bersinggungan, rasa takut bercampur kengerian adalah hal mutlak yang anak itu rasakan. Apalagi ketika netranya menelusuri setiap goresan luka dan memar baru yang menghiasi wajah putih pucat di hadapannya. Terlebih melihat bekas darah kental menjejak di sudut bibir yang terluka, semakin menciptakan desir ketakutan menggila di tubuhnya.

"Ma-maaf...." Bibir anak itu makin bergetar hebat. Sebutir air mata lolos jatuh menjejak turun di pipih tirusnya. 

"Ma-maaf...," ulangnya lagi dengan suara nyaris tercekat.

"Kenapa harus minta maaf?" tanya wanita itu, mengatur nada bicaranya hingga kembali terdengar lembut seperti semula. Tapi berbanding terbalik dengan sebelah tangannya yang masih mencengkeram erat helaian rambut di tangannya.

Anak itu menggeleng samar.
Ia tidak tahu. Bahkan tidak paham kenapa. Yang ia tahu, dirinya memang harus meminta maaf. Atau karena ia memang tak pernah punya pilihan lain selain meminta maaf.

"Maaf...." Sekali lagi ia mengutarakan permohonan serupa dengan rintihan tak tertahankan saat cengkeraman itu makin terasa mengencang.
 
"Maaf, Ma ... Deas minta maa---" Ucapan itu sontak terhenti, bersamaan dengan tubuh kurusnya yang sudah terpental kuat menubruk tembok di belakangnya.

Rasa pening serentak memukul anak itu dengan gamblang, sesaat setelah bagian belakang kepalanya terbentur menghantam kerasnya dinding. Tapi ia tak sempat terlarut dalam rasa sakit itu, karena sebuah tangan sudah lebih dulu merambat naik mencengkeram lehernya dengan erat. Mencekiknya di sana dengan tatapan penuh murka dan kebencian.

"Sejak awal, seharusnya kamu tidak pernah ada dan mengacaukan segalanya," desis wanita itu, menyorot nyalang ke arahnya dengan sikap penuh antipati. "Seharusnya hari itu mereka semua membiarkan kamu mati daripada memilih dilahirkan."

Kemudian tawa mencekam dari bibir bergetar oleh amarah itu terdengar meluncur makin menyayat telinga. Tawa yang sarat akan berbagai luka dan amarah. "Bahkan seharusnya sedari awal aku membiarkan biadab itu membusuk saja di penjara. Bukan malah melahirkanmu ke dunia dan jutru berakhir terjebak bersama monster mengerikan pemerkosa itu!"

Tidak! Hentikan! Andreas kecil berusaha memohon di sela helaan napas putus-putusnya. Air mata derasnya kini mengalir turun tiada jeda. Ia ingin menutup telinga dari semua fakta menyakitkan yang kembali takdir sajikan. Tapi sekuat apapun ia memberontak, semua itu berakhir tak ada gunanya.
 
Sekuat tenaga ia berusaha menggapai-gapai tangan yang masih mencekiknya dengan erat di sana. Sembari mencoba berebut udara karena sesak yang menghimpit lajur napasnya makin terasa menyiksa. Namun mendapati sorot hampa dari sosok di hadapannya, Andreas tahu bahwa semua itu hanya akan berujung sia-sia.

Apalagi saat wanita itu mendekat dan berbisik lirih di samping telinganya, tanpa sedikitpun mengendurkan cengkeraman. "Jadi jangan pernah memanggilku Mama atau sebutan menjijikan sejenis itu lagi. Karena kamu hanyalah aib yang terlahir dari nafsu laki-laki bajingan pemerkosa seperti Antonio." 

"Sampai kapanpun, kamu tidak akan pernah layak mendapatkan cinta atau dicintai siapapun. Karena sejak awal, kamu memang tidak pantas mendapatkan semua itu."

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang