Rena melangkah menuju teras depan dengan kotak P3K melekat dalam pelukannya. Ia merasa seperti de javu karena mengulangi hal yang sama meski dengan situasi berbeda. Tapi tindakan spontannya kali ini murni didasari oleh kehendak hati sendiri, tak seperti sebelumnya yang dilatarbelakangi paksaan nurani.
Di undakan tangga beranda, Andreas tampak duduk membelakangi pintu masuk. Tak lupa anak kucing yang sempat ia selamatkan di atas pohon tadi, ikut berbaring malas di sampingnya. Sesekali menyundulkan kepala berbulunya, ketika lelaki itu masih sibuk membersihkan bekas darah pada luka dan sisa-sisa rumput dengan selang dari keran air yang biasa digunakan Mbok Irma menyiram tanaman.
Rena semakin merapatkan jarak. Ia bisa mendengar jelas bagaimana lelaki itu mendesis lirih karena sedikit rasa perih dari luka terbuka terkena sapuan air.
"Apa cukup parah?" tanyanya, begitu sampai dua langkah dari posisi Andreas terduduk.
Suara seseorang yang muncul tiba-tiba dari arah belakang, otomatis membuat lelaki itu berbalik menoleh. Raut tanya tercipta jelas di wajahnya mendapati keberadaan Rena yang sudah berdiri lengkap dengan kotak putih dan handuk kecil dalam dekapan.
Mengabaikan kernyitan keheranan tersebut, Rena berlutut memposisikan diri di dekat Andreas, meletakkan kotak dalam pelukannya ke lantai.
"Luka kamu," ulangnya sembari menelisik tatapan pada setiap goresan lengan telanjang itu. "Apa baik-baik saja?"
Berdeham sekilas, Andreas kembali melanjutkan membasahi lecet di tangannya dengan air mengalir. "Kalau luka yang kamu maksud terjungkal dari ketinggian dua setengah meter, ditambah tiga sengatan lebah di kaki kanan, jawabannya tentu tidak baik-baik saja."
Jika sebelumnya Rena akan selalu dibuat dongkol oleh respon kalimat blak-blakan Andreas, tapi untuk kali ini entah kenapa ia mulai bisa memakluminya. Meskipun tampilan luar dan perkataannya terkesan menyebalkan, tapi Rena tahu, jauh di dalam sana lelaki itu hanya mengutarakan kejujurannya. Sebuah sikap spontan yang baru disadari Rena setelah mengenal cukup dekat kepribadian lelaki itu selama dua minggu berjalan ini.
"Harusnya kamu bersyukur cuma berakhir lecet dan disengat lebah, bukan berujung patah tulang." Rena mengeluarkan kapas bersih, betadine, dan perlengkapan seadanya dari dalam kotak. Ia kemudian mengangsurkan handuk kering ke arah pria itu. "Kalau sudah selesai, kamu bisa berikan tangan kamu untuk diobati."
Andreas menatap kain bersih yang terulur ke arahnya. "Terakhir kali saya membiarkan kamu merawat saya, butuh dua puluh lima juta uang yang harus saya rogoh untuk menjadi kompensasi."
"Yang ini gratis," decak Rena. "Dan sebelum-sebelumnya juga memang begitu. Kamu sendiri saja yang suka menyimpulkan bayaran tak masuk akal tanpa mengkonfirmasi lebih dulu."
Gadis itu memperhatikan Andreas yang tengah mengeringkan tangan dengan handuk bersih yang tadi ia sodorkan. Ia kembali berkata. "Lagipula saya juga berniat mengembalikan uang itu kalau kamu kembali ke sini."
Gerakan Andreas terhenti. Tanpa menatap Rena, ia berujar pelan."Simpan saja."
"Saya tidak pernah mengambil kembali apa yang sudah saya berikan."
"Tapi saya juga tidak pernah menerima pemberian seseorang dari bantuan yang saya berikan," balas Rena tegas. Cek tunai yang dibayarkan Andreas masih terasa konyol untuk dirinya pahami.
"Terserah." Andreas membalas tak acuh. "Kamu bisa buang ke tempat sampah kalau memang ingin menolak."
"Kamu gila?!" Rena tanpa sadar memekik kesal. "Itu lembar isinya duit yang bahkan bisa dipakai sewa kontrakan setahun, bukan bungkusan nasi uduk atau koran bekas gorengan!"
"Kalau begitu ambil saja. Beres, kan?"
Rena menggeram. Ia meralat ucapannya tadi yang mulai memaklumi mulut blak-blakan Andreas. Lelaki ini sungguh mengesalkan---ah tidak, bahkan luar biasa mengesalkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...