Bab 13. Siapa yang Paling Hancur

363 29 0
                                    

Rena mendongak saat mendengar derit pintu kamar terbuka dari arah koridor tak jauh di depan, sosok Andreas yang baru saja keluar dari dalam sana menyita kembali atensinya. Pria itu sudah tak lagi mengenakan setelan formal kemeja dan celana bahan yang tadi dipakainya di perayaan ulang tahun perusahaan, tapi sudah berganti kaos polo berkerah dan celana hitam berbahan katun sebagai pakaian santainya. 

Rambut yang masih basah dan aroma sampo yang menguar di baliknya, menunjukkan bahwa Andreas secara total membersihkan seluruh badannya dari kepenatan. Berjalan santai, lelaki itu menghampiri sofa tempat Rena masih duduk membungkam. Sebelah tangannya menenteng seprai bercorak garis dan sepasang piyama berwarna biru tua. Yang kemudian diletakkan ke atas meja bundar, tepat di hadapan Rena.

"Ada selimut tambahan di lemari gantung kamar tamu yang bisa dipakai kalau kamu memang berniat tidur di sana. Dan untuk pakaian ganti, kamu bisa pakai piyama Namira."

Rena melirik kain lembut berbahan sutra yang langsung menarik perhatiannya. Melihat sekilas dari bahan dan jahitannya, ia tahu kalau harga pakaian itu pasti nyaris setengah dari harga gaji pokoknya. Tapi bukan itu alasan yang membuat Rena masih terpaku enggan menyentuh setelan pakaian tidur di hadapannya.

"Kamu...." Rena menerawang piyama itu lekat. "Memberikan piyama istri kamu pada perempuan asing?"

"Kenapa? Itu hanya baju." Jawaban ringan Andreas, entah kenapa seketika ingin membuat Rena tertawa miris di tempat.

"Istri kamu bahkan baru dikuburkan siang tadi," imbuhnya masih mencoba mempertahankan sikap penuh kesabaran. "Dan kamu nggak merasa bersalah sedikitpun memberi barang-barang miliknya pada perempuan lain? Apalagi sampai mengundang perempuan itu ke kediaman kalian di hari yang sama di mana seharusnya kamu berkabung?"

Rena melabuhkan pandangannya pada bingkai besar tergantung di atas bufet TV tak jauh di depan. Potret yang terpatri di dalamnya, menunjukkan sepasang pengantin yang sedang bertukar cincin mengikrarkan janji pernikahan mereka di atas altar. Sekali lagi, Rena mendapati binar dan senyuman yang sama dari wanita itu setiap kali ada momen kebersamaannya bersama sang suami diabadikan ke dalam gambar.

Untuk kesekian kali, Rena tak mampu menyembunyikan iba dan perasaan tercubit di hati. "Dan lebih parahnya lagi, kamu bahkan mencium wanita lain di hari kematian istri kamu sendiri. Tanpa ada rasa berdosa dan penyesalan sama sekali."

"Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya hati seorang Andreas Pramoedya itu terbuat dari apa? Bahkan untuk memiliki empati karena kehilangan besar terhadap seseorang yang berbagi hidup dan waktu dengannya pun, dia terlalu mati rasa untuk peduli."

Rena kembali mengalihkan tatapan pada Andreas yang masih berdiri menjulang, membalasnya dengan sorot intens yang sama. 

"Bagaimana rasanya hidup bertahun-tahun tanpa hati nurani seperti itu?"

Andreas mengulas senyum tipis mendengar nada menusuk yang ditujukkan terang-terangan kepadanya. Ia tak menduga wanita di depannya ini akan bersikap cukup lancang menyindirnya dengan kalimat-kalimat sarat akan penghakiman. Dan hal itu justru terlihat semakin menarik di mata Andreas. Wanita itu salah kalau berpikir Andreas akan mudah terbawa konfrontasi.

Dengan ketenangan yang luar biasa, ia mendudukan diri pada sofa single yang berhadapan langsung dengan wanita itu. Bersedekap tangan, menatap lurus-lurus sang lawan bicara.

"Tidak terlalu sulit," jawab Andreas lugas. "Karena saya sudah terbiasa melakukannya bertahun-tahun, hidup tanpa hati nurani yang kamu sebutkan itu."

Rena menyipit menyaksikan gelagat pria yang tak terlihat segan menunjukkan rasa minim empatinya.

"Lagipula saya pantang menangisi orang-orang yang memang sengaja memilih untuk pergi. Menghabiskan tenaga dan air mata pada mereka yang enggan berada lebih lama di sisi kita, bukankah justru hanya buang-buang waktu?" timpal Andreas kembali.

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang