Bab 20. Pilihan

426 31 0
                                        

Apa yang dia lakukan di sini? Rena ingin sekali menertawakan pertanyaan Andreas yang lebih terdengar seperti lelucon konyol di telinganya. Memangnya apa yang bajingan itu pikir sedang ia lakukan berada di depan pintu ini kalau bukan karena semua kekacauan yang telah lelaki itu sebabkan.

"Seharusnya itu yang jadi pertanyaan saya. Memangnya apa yang kamu pikir sedang kamu lakukan?"

Sekalipun terlihat menyedihkan dengan wajah sendu kentara sehabis menangis, Rena tak akan dengan mudah membiarkan dirinya terintimidasi begitu saja. Termasuk oleh sikap dingin menguar dari tatapan tajam seorang Andreas Pramoedya.

Toh, lagipula sebentar lagi ia juga akan berakhir keluar dari tempat ini dengan pemecatan tidak terhormat. Mempertahankan sopan santun pada sang atasan, juga tidak akan ada gunanya. Termasuk pada sosok yang menjadi biang keladi kemungkinan kehancuran mimpi dan karirnya.

Andreas tampak menarik napas panjang dengan kernyitan dahi yang tak segan ia tunjukkan. Ia hampir saja lupa bahwa gadis keras kepala yang saat ini sedang dihadapinya jauh lebih kepala batu dari orang kebanyakan. 

"Sebaiknya kamu kembali sekarang," cetus Andreas memperingatkan. Ia tidak ingin memperkeruh suasana yang nyatanya sudah rumit di antara mereka. Alasan apapun kedatangan gadis ini ke ruangan Antonio, diyakininya tidak akan berujung baik jika dibiarkan.

Rena menyungging lengkungan sarkas. "Sayangnya Pak Andreas, saya tidak bisa kembali ke mana pun sekarang sekalipun saya ingin. Terima kasih pada sikap bijaksana seseorang karena secara dermawan berhasil menyeret saya ke dalam skandal luar biasa yang telah mengguncang satu Indonesia."

Tanpa melunturkan nada sinisnya, Rena menambahkan. "Dan Bapak tahu bagian apa yang paling utama dari drama menggelikan ini?"

Matanya menyipit tajam. "Saya juga akan berakhir menjadi pengangguran dalam sekejap mata. Syukur-syukur kalau dapat pesangon yang sepadan. Tapi melihat situasi sekarang, tidak diusir dengan makian dari tempat kerja saja mungkin terdengar sedikit lumayan." 

Rena pikir keberaniannya segila ini dalam menantang atasan, hanya berlaku ketika berada di bawah kendali alkohol seperti malam itu. Nyatanya kepribadian Andreas yang kerap mengundang decak kesal akan ulah pria itu yang seenaknya memerintah dan bersikap, sanggup memanggil sisi lancang Rena saat berada dalam kondisi kesadaran penuh sekalipun.

Andreas maju selangkah, sedikit memangkas jarak tercipta di antara mereka. "Saya bilang kembali sekarang."

"Sayang sekali Pak Andreas, perintah anda tidak lagi berlaku karena sebentar lagi saya juga akan pensiun menjadi bawahan anda."

"Kembali. Sekarang." Andreas mendikte kata-katanya sejelas mungkin.

"Saya sudah bilang percuma saja---"

"Andreas!" Suara Antonio yang terdengar dari dalam berusaha membuka pintu yang ditahan paksa Andreas dari luar, menyelinap di antara ketegangan kedua orang itu.

"Andreas! Dasar anak keparat, apa-apaan kamu! Papa belum selesai bicara!"

Andreas berdecak keras mendengar suara teriakan berisik Antonio dan gedoran-gedoran tak sabaran pria paruh baya itu dari balik pintu. Namun alih-alih melonggarkan pegangan pada daun pintu setelah sumpah serapah yang dikeluarkan Antonio, Andreas justru semakin mengencangkan cengkeramannya.

"Saya hanya beri kamu dua pilihan," tegas Andreas pada perempuan di hadapannya. Netranya melirik sekilas id card yang menggantung di leher perempuan itu. "Kembali sendiri ke divisi kamu, atau saya yang akan mengantar paksa kamu kembali ke sana."

Mata Rena hampir melotot keluar menerima ancaman serius tak terduga tersebut. Dasar sinting! Kenapa pula lelaki ini harus repot-repot dengan pertemuan dirinya bersama Antonio. 

Head Over HeelsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang