Rena terbangun dengan keadaan ruang terlampau gelap. Ia tidak yakin selama apa dirinya jatuh tertidur sampai baru kembali terjaga saat langit di luar telah menghitam menyongsong malam. Beringsut bangun, hal pertama yang ia lakukan adalah meraba dinding dan mencari saklar untuk mendapatkan penerangan. Kemudian dengan perlahan membawa tubuhnya menuju kamar mandi membersihkan diri.
Langkah Rena terhenti di depan cermin dinding berukuran sedang, menggantung di atas wastafel berhadapan langsung dengan pintu kamar mandi. Netranya terpancang pada jejak lembab dari bayangan wajah yang dipantulkan di depannya. Seulas senyum miris naik terukir membingkai raut yang memang sudah tampak kacau dan menyedihkan itu.
Ah, rupanya tanpa sadar ia bahkan larut menangis dalam tidur.
Bertumpu pada pinggiran wastafel, Rena memejam mata berusaha meluruhkan kembali gejolak sesak tersisa. Sejujurnya, ia mulai membenci diri sendiri. Perasaan lemahnya dan ketidakberdayaan dalam memegang pendirian yang susah payah ia bangun.
Semua keputusan yang diambilnya adalah pilihan paling waras agar hidupnya tidak lebih kacau dari yang sudah-sudah. Ia harusnya tak punya alasan untuk menyesali apapun. Ya, memang sudah sepatutnya begitu. Termasuk bagaimana ia berusaha mendorong laki-laki itu menjauh pergi.
Rena tak punya waktu bermain-main dalam fantasi dongeng dengan terlalu percaya diri menerima kehadiran Andreas. Mengizinkan pria itu menerobos benteng asing yang kokoh tercipta di antara mereka, menelusup jauh ke dalam hidupnya. Karena ia sadar, keputusan itu hanya akan membawa keduanya berakhir pada kejatuhan yang mungkin jauh lebih buruk. Selagi segalanya belum cukup terlambat, Rena mengupayakan kemungkinan apapun untuk mencegah petaka serupa datang singgah kembali. Sekalipun pilihan itu turut menjadi boomerang menyakitkan yang meninggalkan sesak dan kegetiran.
Karena setelah semua yang terjadi, bahkan setelah apa yang mereka lakukan beberapa waktu tadi, Rena tahu, ia tak akan pernah bisa memandang Andreas dengan cara yang sama lagi. Maka memilih mundur sedari awal ketika debar perasaan terhadap pria itu baru merekah tumbuh, menjadi pilihan terbaik bagi Rena melindungi dirinya dari rasa sakit jauh lebih besar di kemudian hari. Karena sosok seperti Andreas Pramoedya, nyatanya adalah bentuk kemustahilan yang tak akan pernah menjadi mungkin, bahkan dalam mimpinya sekalipun.
Gadis itu melepas helai kain tersisa dari badan, sebelum melangkah ke bawah shower dan menyalakannya. Memilih mendinginkan tubuh dan kepala carut-marutnya dengan air mengalir di sana. Menjernihkan pikiran dan akal sehat agar kembali berporos pada tempat semula.
Butuh hampir setengah jam ketika ia selesai melakukan aktivitas membersihkan diri serta berganti pakaian. Jam di layar ponsel pun sudah menunjukkan waktu makan malam bertepatan dengan ketukan pintu yang sudah bisa ia tebak dari siapa.
Menarik napas panjang, Rena berusaha memasang senyum lepas ketika menyambut kedatangan wanita paruh baya itu di balik pintu.
"Maaf, Neng, Mbok nggak bermaksud mengganggu. Soalnya Mbok khawatir dari tadi siang Neng Rena nggak sempat keluar ikut gabung di meja makan. Sudah Mbok panggil-panggil, tapi nggak ada yang nyahut dari dalam." Mbok Irma balas tersenyum sungkan melihat Rena yang keluar dengan rambut basah dililiti handuk. "Makanya Mbok datang ngecek lagi, sekalian mau ngajak buat turun makan malam."
"Maaf, saya tadi ketiduran." Rena menjawab jujur. Ada rasa bersalah menggelayut benaknya mendapati raut khawatir di wajah Mbok Irma.
"Oalah, pantas," balas wanita itu. "Mbok khawatir jangan-jangan Neng Rena lagi sakit. Makanya ngurung diri seharian di kamar."
Rena merasa tersentil mendengar ucapan tersebut. Ia memang merasa sedikit sakit, tapi bukan sesuatu yang bersinggungan dengan fisik.
"Sebentar lagi saya menyusul turun, Mbok. Mau keringin rambut dulu. Terima kasih," jawabnya sopan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...