Hal pertama yang Rena lakukan setelah kakinya menginjak lantai dapur, adalah menjatuhkan dirinya ke atas kursi dengan kedua lutut lemas yang masih bergetar samar.
Meskipun berusaha menyembunyikan segala kegugupan dan rasa takutnya dengan bersikap sepercaya diri itu dalam menentang kekeras kepalaan Andreas, tetap saja jiwa pecundangnya yang sudah terbentuk secara lahiriah akan langsung muncul ke permukaan begitu penyesalan datang menyapa.
Apalagi setelah menyadari kebodohan macam apa yang baru saja ia ciptakan barusan. Astaga.
Padahal baru terhitung beberapa belas menit lalu ia dibuat gemetar nyaris kehabisan napas, dan hampir berakhir kehilangan sebelah tangan karena mendapati kemurkaan Andreas akibat sikap lancangnya karena berani mengusik tidur lelaki itu. Walaupun ia sendiri benar-benar tak mengerti alasan apa yang memantik kemarahan Andreas sampai sebegitu besarnya hanya karena satu kesalahan kecil yang tak sengaja Rena buat.
Dan sekarang hati nurani tak tahu tempatnya ini justru kembali menjerumuskannya ke masalah lain, lebih-lebih belum genap sehari dari waktu mulut lancangnya berbuat ulah.
Gadis itu menepuk-nepuk jidatnya sendiri seraya merutuki semua kebodohannya karena terlalu berani, atau mungkin sebut saja gegabah melemparkan diri pada petaka baru dengan menentang sosok seperti Andreas Pramoedya.
Ia bahkan dengan percaya diri mengatakan akan menerima perhitungan pria itu demi menghentikan perdebatan keduanya karena sikap penolakan Andreas yang tak ingin menerima bantuannya.
Tentu saja hal yang langsung disesalinya mati-matian, karena ia tahu persis manusia macam apa seorang Andreas itu. Perhitungan yang akan orang seperti Andreas berikan, tentu saja bukan sesuatu yang dapat ia entengkan. Dan firasatnya juga mengakui bahwa semua itu memang tak akan mudah.
"Dasar sinting!" serapah Rena sekali lagi meratapi kebodohannya.
Tapi meskipun begitu, Rena tahu bahwa ia sudah tak memiliki jalan lain untuk mundur. Selain tetap berjalan maju mempertahankan sikap kepala batunya dalam menghadapi Andreas. Sudah terlanjur basah, kenapa tidak menyebur saja sekalian?
Beranjak dari kursi usai menetralkan ragam kemelut di kepalanya, Rena menyeret langkah lesu menuju rak piring tempat di mana ia bisa menemukan baskom yang dibutuhkan. Kemudian mengisi wadah berbahan dasar stainless itu dengan air mengalir secukupnya.
Untuk beberapa saat, ia tampak kesusahan mencari handuk bersih berukuran kecil di sekitar dapur sebagai kain untuk dipakai mengompres. Membangunkan Mbok Irma atau Pak Umar di pertengahan subuh untuk bertanya pun rasanya bukan pilihan bijak.
Ujung-ujungnya, hanya beberapa lembar kain lap bersih bermotif flanel yang bisa Rena temukan pada kabinet paling bawah dari semua lemari penyimpanan. Hasil akhir pencarian yang membuatnya berdecak kesal.
Gadis itu tampak menimbang-nimbang sejenak, berpikir keras apakah ia perlu menggunakan lap meja di tangannya sebagai alternatif lain untuk mengompres dahi Andreas, karena tak adanya handuk sebagai pilihan. Atau memutuskan naik kembali ke lantai atas menuju kamarnya mengambil handuk bersih berukuran sedang yang sempat ia temukan di lemari gantung kamar mandi.
Tapi begitu menyadari ia harus melewati Andreas yang kini berada di area ruang santai untuk akses menuju ke sana, Rena secara otomatis langsung menghapus opsi kedua tersebut.
Oke, mari gunakan saja kain lap ini sebagai pilihan, putus Rena akhirnya. Toh, lelaki itu juga pasti tidak akan tahu atau mungkin peduli sekalipun ia menggunakan keset kaki untuk mengompres. Mengingat Andreas yang mungkin akan kembali sibuk mendebat atau menolaknya terlebih dulu daripada mengamati satu persatu hal yang ia bawa demi meredakan demam pria itu.
Setelah meletakkan kain, baskom, serta segelas air mineral ke atas baki berukuran besar, Rena pun melangkahkan kaki menuju ruang keluarga untuk mengambil kotak obat yang biasa diletakkan Mbok Irma di laci bufet TV. Lalu setelahnya gadis itu kembali menaiki undakan tangga menyambangi lantai dua, tempat di mana sosok Andreas berada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...
