"Wow, pantas aja kamu kelihatan betah melarikan diri. Aku juga kalau disuruh semedi berhari-hari di villa mewah model asri begini juga nggak akan protes banyak---"
Rena tak membiarkan Mala menyelesaikan ucapannya, dan lebih dulu menerjang bertubi-tubi gadis itu dengan pelukan erat. Astaga, padahal mereka tidak pernah absen saling bertukar kabar lewat sambungan telepon, tapi melihat kehadiran Mala secara nyata ada di hadapannya sekarang, benar-benar membuat perpisahan mereka terasa seperti berabad-abad.
Melepaskan dekapan, Rena tersenyum kian lebar. "Aku janji akan traktir kamu makan apapun setelah gajian nanti," janjinya karena Mala sudah mau bersedia ia usik akhir pekannya dengan jauh-jauh menjemputnya kemari.
Mala mendengus geli. "Traktiran yang kamu maksud pasti juga nggak akan jauh-jauh dari street food dan makanan murah lain. Kalau mau balas budi, sekali-kali yang levelnya setara Amuz atau Grand Hyatt biar lebih kerasa."
Rena terkekeh pelan seraya menggandeng lengan gadis itu menuruni tangga beranda. "Kamu tahu aku nggak setajir itu. Namanya juga budak korporat level bawah, Mal, makan di sana bisa buat biaya kebutuhan pangan aku selama sebulan."
Keduanya kini sudah duduk dengan nyaman di jok mobil milik Mala. Jujur saja, Rena merasa tak enak hati membiarkan teman kerjanya menyetir bolak-balik seperti ini. Seandainya ia punya kemampuan cukup untuk mengemudi, ia tidak akan berpikir dua kali menggantikan tugas gadis itu.
Mungkin lebih baik di perjalanan nanti mereka perlu mengambil jeda perhentian di beberapa tempat, supaya Mala tidak kewalahan berlebih menempuh jarak selama berjam-jam. Meski resikonya mereka harus tiba di kontrakan nanti sedikit larut.
Ia juga sadar tidak cukup mengenal seluk-beluk daerah Bogor dengan baik, dan terlalu enggan merepotkan Mbok Irma maupun Pak Umar untuk mengantarnya ke stasiun KRL jauh di pusat kota sana untuk kembali ke Jakarta. Satu-satunya sosok yang bisa ia andalkan saat ini hanyalah Mala seorang. Apalagi gadis itu sudah berkali-kali mengutarakan rasa keponya tentang tempat pelarian dan persembunyian dua minggu Rena. Jadi sewaktu Rena meminta bantuannya, Mala tanpa pikir dua kali ikut mengiyakan.
"Oh, ya, sebenarnya ini villa milik siapa, sih?" komentar Mala saat ia menarik persneling mobil dan memutar kemudi menjauh dari halaman villa. Tak lupa juga bunyi klakson ia sematkan saat melihat kehadiran Mbok Irma yang ternyata turut mengantar kepergian mereka dari beranda.
"Bukan siapa-siapa." Rena melempar pandangan ke luar jendela. "Hanya kebetulan tempat yang dipilih karena lokasinya cukup aman." Ia enggan membahas pertanyaan Mala lebih lanjut, karena tak ingin membuat gadis itu heboh sendiri nanti. Demi apapun, Rena belum siap kalau harus ditodong rasa penasaran beruntun Mala kalau sampai tahu bahwa Bos mereka lah pemilik asli villa ini, dan bagaimana beberapa kali lelaki itu menghabiskan malam di bawah atap yang sama dengannya. Tidak. Rena tidak cukup siap kalau rahasia kecilnya itu sampai terbongkar.
Tapi Mala sepertinya tak akan membiarkan kebohongan Rena berujung mudah. "Tapi kenapa alphard hitam depan villa tadi kelihatan familiar, ya? Nggak kerasa asing aja, Ren. Kayak pernah lihat---"
"Jadi apa aja yang terjadi di kantor selama aku nggak ada?" Rena dengan refleks memotong ucapan Mala saat temannya itu mulai menyinggung alphard milik Andreas yang lelaki itu tinggalkan sejak kemarin. Sungguh, sudah Rena bilang, kan, kalau rasa penasaran dan kekeraskepalaan Mala adalah kombinasi yang merepotkan.
Mendengar pertanyaan Rena, Mala justru mengernyit heran. "Tumben, bukannya kamu selama ini nggak terlalu pusing soal urusan kantor, ya? Apalagi buat diajak bergosip."
Rena menelan ludah salah tingkah. Pertanyaan itu hanya random ia keluarkan akibat serangan panik karena Mala terus menggali informasi tentang villa kediamannya tinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...
