"Kay udah bilang kemarin-kemarin, untuk kali ini biar jadwal cuci darah Ibu jadi tanggung jawab Kay dulu. Mbak Rena nggak perlu memaksakan diri kalau memang sedang kosong. Uangnya mungkin hanya cukup untuk dua sesi hemodialisis, tapi setidaknya bisa sedikit berguna daripada nggak sama sekali, kan? Nanti untuk pengobatan Ibu berikutnya, baru kita pikirkan kembali dengan cara lain."
Rena meneruskan langkah menyusuri trotoar dari perhentian bus yang dinaikinya, seraya mengapit ponsel yang terhubung dengan sang adik erat-erat di telinga. "Mbak cuma merasa gagal sebagai kakak kalau membiarkan kamu bertanggung jawab pada apa yang belum seharusnya jadi bagian kamu."
"Sejak kapan berbakti pada orang tua harus terkotakkan menjadi bagian siapa yang boleh dan enggak? Lagian Kay bukan lagi anak kecil, Mbak. Pekerjaan sampingan yang Kay ikuti punya penghasilan lumayan untuk membantu tanpa membuat Kay merasa terbebani, apalagi sampai mangkrak dari kewajiban kuliah kalau itu hal yang Mbak khawatirkan."
"Lagipula dengan mengizinkan Kay ikut membantu keadaan sulit keluarga kita seperti ini, nggak akan membuat Mbak Rena kehilangan harga diri di mata Kay sedikitpun. Apa yang udah Mbak lakukan selama bertahun-tahun demi keluarga kita, sudah lebih dari cukup untuk Kay dan Ibu syukuri."
"Jadi kali ini aja, Mbak. Jangan terlalu memaksa ingin memikul beban sendirian. Berbagi masalah dengan orang lain sesekali bukan sebuah dosa. Bukannya itu salah satu fungsi keluarga?"
Rena berhenti di dekat lampu penyeberangan. Berselang dua detik sebelum tanda izin bagi pejalan kaki membiarkannya lewat. Masih terhubung dengan panggilan kontak bersama Kayla, Rena mendesah pelan.
"Maaf, mungkin Mbak selama ini terlalu keras hati. Tapi menganggap kamu sebagai anak kecil yang belum bisa diberi tanggung jawab, nggak pernah terpikirkan sedikitpun. Alasan satu-satunya Mbak melarang kamu semata-mata karena---"
"Iya, Kay tahu. Karena Mbak sangat sayang sama Kay," potong Kayla. "Dan sekarang biarkan Kay juga menunjukkan rasa sayang yang sama dengan meringankan beban yang ada di pundak Mbak Rena, ya?"
Rena tak bisa menyembunyikan perasaan haru membuncah di dada mendengar ketulusan itu. Meskipun jarang bertatap muka secara langsung dan menghabiskan waktu bersama, karena semenjak lulus sekolah Rena lebih sering terfokus mencari nafkah di luar sana, hubungan keakrabannya dengan Kayla sampai sekarang tak pernah luntur oleh jarak dan waktu.
Bahkan setelah tujuh tahun kepergiannya merantau ke ibukota, dan hanya pulang sesekali ke Semarang di akhir tahun, Kayla masih saja memperlakukannya dengan karib tanpa jarak apapun. Alasannya, karena Kay juga menyayanginya sebesar ia menyayangi gadis itu.
Setelah pembicaraan singkat penuh makna bersama Kayla, Rena akhirnya memutuskan sambungan berbarengan dengan kedua kakinya yang sudah sampai di depan area lobi dari tower tempat perusahaan ia bekerja.
Rena tahu dirinya mungkin tak punya banyak pilihan tersisa selain mengiyakan saran Kayla untuk turut membantu pengobatan ibu mereka minggu ini. Kondisinya di saat sekarang juga bahkan jauh dari kata baik untuk berkeras hati pada keputusannya tetap mandiri menanggung beban keluarga seorang diri.
Belum lagi masalah lain yang semalam suntuk berhasil membuat ia terjaga hingga pukul 4 pagi, dan harus berakhir ke kantor dengan wajah sembab sehabis menangis disertai kantung mata panda akibat insomnia yang panjang, menjadikan tawaran kebaikan Kayla seperti angin surga yang memberi ruang kelegaan meringankan ganjalan di benaknya.
Meremas erat tali tas selempang yang menggayut di bahu kirinya, Rena mengulang-ngulang kata semangat dengan suara cukup lantang, untuk memberinya kekuatan memulai hari ini dengan ketegaran yang lebih dari sebelumnya.
Biar saja orang-orang yang berpapasan keluar masuk dari pintu lobi ini menganggapnya gila atau apa. Yang jelas, Rena butuh suntikan motivasi lebih agar tetap waras dalam menghadapi masalah pelik yang mungkin saja sudah menantinya mulai hari ini.
***
"Setelah rapat evaluasi kinerja, jam 10 nanti kita punya janji temu dengan para klien dari program kemitraan kedai kopi Robusta untuk kerjasama yang dimulai tiga bulan depan. Dilanjutkan dengan makan siang bersama kolega dari perusahaan agribisnis kelapa sawit yang ingin mengajukan proposal merger dengan anak perusahaan distribusi kita di Tangerang."
"Setelah itu kesibukan terakhir anda hanya mengevaluasi ulang strategi bisnis peluncuran brand makanan ringan yang diajukan divisi pemasaran, dan juga menyusun laporan berkala untuk pemegang saham di jadwal RUPS nanti."
Andreas masih memusatkan fokus pada roda kemudi dan jalanan di depan, sembari membiarkan Lukman---personal asistennya membacakan beberapa jadwal kegiatan penting yang harus dilewatinya sepanjang hari ini.
Sudah menjadi rutinitas bagi Andreas mendengar suara Lukman di seberang panggilan mengisi setiap perjalanan paginya menuju kantor. Hal ini dilakukan agar ia bisa menjalankan tugas tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan dengan lebih terstruktur.
Andreas sangat membenci ketidakteraturan atau hal semrawut jenis lainnya yang berpotensi mengacaukan ritme kerja lelaki itu. Dengan meminta Lukman membacakan jadwal dan memastikan tidak ada jam kegiatan yang bentrok satu sama lain, adalah salah satu upaya Andreas menjalankan alur kerja yang teratur.
"Saya akan sampai sebentar lagi. Siapkan agenda pembahasan pencapaian penjualan bulan ini dari semua divisi, jangan lupa juga beserta laporan keuangan mereka masing-masing."
"Baik, Pak."
Lalu panggilan diakhiri, sehingga mengembalikan perhatian utama Andreas pada antrian lampu lalu lintas yang mulai berganti merah. Mengetuk-ngetuk jemarinya di atas setir, Andreas membuang pandangan keluar jendela untuk mengusir suntuk dari jeda menunggu singkat ini.
Awalnya tidak banyak hal yang cukup menarik atensi lelaki itu selain hanya himpitan kendaraan beroda empat dan roda dua di samping kiri dan kanan mobilnya, atau para pejalan kaki di trotoar yang hendak menuju zebra cross penyebrangan. Sampai ketika ia melabuhkan pandangan tak sengaja ke arah tiang lampu lalu lintas, sosok wanita asing yang semalam sempat mengusik kepalanya karena amarah bercampur air mata yang diperlihatkan wanita itu, kini sudah menyita seluruh sudut penglihatannya.
Andreas memperhatikan dalam diam wanita berkemeja putih kerah dan balutan celana kulot hitam tak jauh dari posisi mobilnya berhenti. Wanita itu tampak fokus larut dalam pembicaraan dari panggilan tersambung pada gawai yang sedang ia lekatkan ke telinga.
Meskipun tidak bisa mendengar apapun selain hanya mengikuti gerak bibir si wanita dari dalam ruang tertutup ini, Andreas masih terus memilih menjatuhkan tatapan matanya pada objek yang sama.
Mencari-cari jejak kesenduan tersisa dari amarah perempuan itu semalam karena ulah kelancangannya. Yang kini sudah ia temukan jawabannya dari muka sembab dengan kantung mata hitam yang menghiasi wajah putih tirus tersebut.
Jujur saja, jika tidak dipertemukan kembali dalam situasi tidak sengaja seperti ini, ditambah konfrontasi Antonio di tengah sarapan paginya, mungkin Andreas sudah nyaris melupakan tentang sosok yang sempat menimbulkan perasaan terganggu di benak pria itu semalam.
Tapi rupanya kebetulan ingin kembali menghadirkan wanita itu ke jangkauan pandangan Andreas sekali lagi, meski kali ini bukan dari rentang jarak dekat. Membuat ia merasa bahwa takdir begitu lucu memainkan perannya. Hingga tanpa sadar, netra Andreas justru masih terpaut mengikuti setiap gerak-gerik wanita itu bahkan sampai sosok tersebut memasuki area tower dari perusahaan manufaktur tempat yang sama di mana ia bekerja.
Bahkan alih-alih turun dari kendaraan usai memarkirkan Alphard hitam miliknya di area khusus perhentian para eksekutif penting, Andreas masih saja mendudukan diri di belakang kemudi, memperhatikan wanita itu yang kini berdiri mengapit ponsel di depan pintu masuk. Ya, semua itu tak luput dari atensi Andreas.
Jarak parkiran jajaran direksi dan komisaris yang menghadap langsung ke pintu utama, membuat Andreas dapat dengan mudah menyaksikan apa yang tengah dilakukan oleh objek pengamatannya. Semenjak panggilan telepon cukup panjang wanita itu, yang Andreas ikuti sejak di lampu penyebrangan beberapa puluh meter dari gedung kantor hingga ke depan pintu lobi, tatapan lekat Andreas tak pernah beranjak terlepas sedikitpun.
Lalu begitu melihat aksi tiba-tiba wanita itu yang spontan mengepalkan kedua tangannya naik turun ke udara seraya melafalkan kata semangat dengan cukup lantang, tanpa memperhatikan kernyitan dan tatapan heran orang-orang yang berseliweran memasuki area lobi, entah kenapa Andreas tak dapat menghentikan seulas senyum samar yang diam-diam terbentuk di bibirnya.
Ya, dunia sekarang memang penuh dengan manusia-manusia aneh. Termasuk wanita asing tak jauh di depannya ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Roman d'amour[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...