Rena memang selalu gampang dibuat terbangun oleh riuh hujan yang berlomba-lomba mencumbu atap. Ditambah gemuruh angin dan sesekali gelegak petir di luar sana yang mengusik lelapnya, seketika akan membuat ia kembali terjaga. Bahkan tak sering juga berakhir tertahan dari rasa kantuk sepanjang malam.
Seperti sekarang ini.
Padahal baru terhitung kurang dari tiga jam lalu ia tertidur setelah melakukan pekerjaan melelahkan seharian. Tapi udara menipis khas perbukitan yang lebih dingin dari kemarin malam, membuat matanya sulit diajak bekerjasama untuk kembali beristirahat.
Setiap kali terjebak pada kondisi menyebalkan ini, Rena akan memilih mengisi waktu begadangnya dengan menyelesaikan pekerjaan kantor tersisa. Namun berhubung saat ini ia sedang dalam misi pelarian, tidak banyak tambahan deadline yang perlu ia selesaikan dalam rentang waktu dekat. Selain strategi promosi pengembangan Kopi Robusta yang sudah dibereskannya sore tadi.
Rena melirik jam ponsel yang menunjuk pukul dua pagi. Benar-benar waktu terlalu larut untuk mencari aktivitas apapun agar bisa membantunya terlepas dari rasa bosan. Lagipula manusia mana yang sibuk berkegiatan di penghujung malam atau bahkan sudah menyentuh dini hari seperti sekarang? Tapi memaksa berbaring pun, ia tahu tak akan ada gunanya.
Bangkit dari kasur, Rena merapatkan selimut tipis melingkupi tubuhnya supaya tetap hangat. Beruntung, baju rajut tebal berbahan wol yang dibelikan Andreas bersamaan dengan pakaian lain disodorkan lelaki itu kemarin, sangat membantu Rena terhindar dari rasa menggigil. Gadis itu mengayun langkah menuju pintu balkon dan membukanya. Membiarkan angin malam seketika berembus menerpa wajah.
Balkon ini memiliki dua kursi kayu beralas lebar tersedia masing-masing di bawah kedua jendela panjang yang mengapit pintu. Berhadapan dengan terali pembatas yang hanya setinggi dada orang dewasa. Sehingga pemandangan yang tersaji di depan sana mudah dinikmati sekalipun dalam posisi duduk bersantai.
Ya, walaupun untuk saat ini, dirinya tak bisa melihat pemandangan apapun selain pepohonan berkabut serta hujan yang dibawa oleh mendung menggantung di atas langit.
Namun, Rena tetap memutuskan untuk menghabiskan sisa malamnya dengan duduk sejenak di kursi itu, mungkin ditemani secangkir minuman hangat seraya berselancar mencari bacaan di pustaka elektronik atau menonton streaming film yang bisa ditemukannya dari gawai. Apa saja akan ia lakukan demi mengusir rasa bosan. Dan jika sedikit beruntung, ia berharap rasa kantuk bisa segera kembali menjemputnya.
Melepaskan selimut ke atas kursi, Rena beranjak dari area balkon menuju pintu kamar untuk bergegas turun ke lantai bawah, menyeduh minuman hangat yang ia butuhkan. Seingatnya juga Mbok Irma masih menyimpan sepiring kue Lupis yang tidak habis di kabinet dapur. Mengonsumsi kudapan manis, mungkin saja bisa sedikit membantu Rena mengundang kantuk.
Gadis itu berusaha berjalan mengatur langkah sepelan mungkin karena tak ingin membangunkan penghuni villa yang lain. Mengingat derap kakinya cukup berisik kalau harus menghentak langkah terlalu kuat di malam selarut dan sesunyi ini. Apalagi saat ia harus melewati kamar tertutup yang terletak di area bersantai menuju tangga.
Rena melirik sekilas pintu kamar tepat berada di sisi kiri tubuhnya. Tempat di mana lelaki menyebalkan yang sempat memancing emosinya beberapa waktu lalu mungkin sedang terlelap. Dari celah ventilasi di atas pintu yang tidak menunjukkan cahaya lampu kamar apapun, meyakinkan Rena bahwa memang cuma ia seorang di sini satu-satunya penghuni lantai dua yang masih terjaga.
Setidaknya ia cukup merasa lega karena tak perlu berpapasan lagi dengan sosok mengesalkan seperti Andreas di waktu sekarang.
Rena kembali mengayun langkah menuju undakan tangga yang akan membawanya turun. Tapi ketika kakinya menjejak ambang lantai dua, niat itu langsung terurungkan saat kedua manik coklatnya tak sengaja menangkap siluet seseorang sedang berbaring terlelap di atas sofa ruang santai. Beberapa langkah dari tempatnya berpijak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Head Over Heels
Romance[On going] Andreas Pramoedya tak pernah membiarkan siapapun mengusik ranah pribadinya. Sikap dingin dan tertutup pria itu makin tak tersentuh saat Namira istrinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan tragis. Kematian Namira yang penuh tragedi, s...
