Bab 36. Kata Hati

297 35 0
                                    

Meskipun sedari berjam-jam lalu perutnya dilanda rasa lapar, selera makan Rena justru lenyap entah ke mana begitu ia kembali mendudukkan diri di meja makan setelah semua hal memalukan yang baru terlewati.

Bahkan Pak Umar yang menanyakan perihal wajah piasnya sekembali dirinya dari teras belakang, hanya dibalas Rena dengan sunggingan sungkan dan kalimat ia baik-baik saja untuk menutupi rasa malu yang tengah dirasakan.

Belum lagi berselang beberapa menit kemudian, kedatangan Mbok Irma yang sudah menyusul masuk dan ikut bergabung ke meja makan semakin membuat perut Rena melilit tak karuan. Walaupun wanita paruh baya itu berusaha bersikap seramah biasa dan tersenyum sopan ketika tanpa sengaja mereka bertukar tatap, tetap saja Rena tak dapat menyembunyikan kecanggungan dan sikap salah tingkahnya.

Ia benar-benar takut berasumsi tentang apapun yang ada di kepala Mbok Irma sekarang, setelah apa yang tidak sengaja wanita itu saksikan di teras belakang tadi. Sehingga mungkin saja akan menimbulkan prasangka tidak-tidak di benaknya tentang hubungan antara ia dan Andreas. 

Demi Tuhan, Rena bahkan belum genap dua hari dituduh satu negara sebagai pelakor penghancur rumah tangga keluarga tersohor sekelas Pramoedya dan Sanjaya. Dipandang serupa oleh Mbok Irma yang sudah memperlakukannya dengan layak dan baik selama ia menetap di sini, adalah hal terakhir yang Rena inginkan.
 
Jika pandangan buruk itu diterimanya dari orang lain yang memang membencinya atau bahkan tidak mengenalnya sama sekali, Rena mungkin masih bisa mencoba menutup mata dan telinga. Tapi jika hal itu harus datang dari sosok Mbok Irma yang sudah ia anggap sebagai orangtua kedua di pertemuan singkat ini, Rena tak dapat memungkiri semua rasa sungkan dan gusarnya. 
Apalagi mengingat mereka masih akan berbagi satu atap yang sama dalam jangka beberapa waktu ke depan. 

"Den Andreas beneran nggak jadi ikut makan malam, Buk?"
 
Tanpa mengangkat wajah, Rena masih bisa mendengar percakapan kedua pasangan suami istri yang duduk berseberangan dengannya. Ia juga memaksa menelan satu suapan nasi serta sayur lodeh yang mulai terasa hambar di lidah karena selera makannya telah menyusut sedari tadi.

"Katanya sudah terlanjur makan di luar sebelum ke sini waktu Ibuk tawarkan. Jadi cuma minta dibuatkan teh hangat saja. Si Aden kayaknya juga lagi sibuk pengen ngerokok di luar, nggak ingin diganggu." 
 
Pak Umar kembali berujar. "Sayang sekali, padahal Ibuk udah masak banyak makanan kesukaan dia."

"Ya kalau memang nggak lapar, mana bisa dipaksa atuh, Pak."

Rena mengangkat wajah dan langsung menemukan raut sedikit sendu dari dua orang di depannya. Walau tidak ditunjukkan secara kentara, Rena tahu bahwa Mbok Irma dan Pak Umar sangat menantikan kedatangan Andreas malam ini untuk ikut bergabung makan malam bersama, seperti apa yang mereka harapkan. Sayangnya, hal itu hanya sebatas angan karena penolakan halus yang baru saja lelaki itu berikan.
 
Rena sempat bertanya-tanya alasan apa yang membuat kedua pasangan suami istri seperti Pak Umar dan Mbok Irma tampak memperlakukan Andreas dengan penuh perhatian dan kepedulian. Jika berkaca dari hubungan mereka yang hanya sebatas pemilik dan penjaga rumah villa ini, kehadiran Andreas seharusnya tidak perlu terasa sepenting itu bagi mereka.

Dibandingkan dengan hubungan kekeluargaan antara Andreas dan Antonio yang lebih terlihat seperti orang asing yang saling terlibat perseteruan, sikap penuh kasih Mbok Irma pada lelaki itu jauh lebih terasa sangat intim selayaknya keluarga sedarah. Meskipun Rena tak tahu apa Andreas juga menganggap atau berpikiran serupa.

Rena tahu Pak Umar dan Mbok Irma memang hanya hidup berdua selama usia pernikahan mereka yang sudah nyaris mendekati setengah abad. Tanpa dikaruniai seorang anak untuk semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangga keduanya. 

Berdasarkan cerita yang dibagi Mbok Irma saat ia dan wanita itu bercengkrama seraya memasak di dapur siang tadi, mengurus Andreas kecil selama bertahun-tahun merupakan kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang memang tidak pernah merasakan hal demikian.

Head Over HeelsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang