Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Suasana toko es krim sore itu begitu hidup. Denting bel kecil di pintu berbunyi silih berganti, menandakan kedatangan pelanggan baru. Toko es krim itu dipenuhi anak muda yang berkumpul, tertawa, dan saling bertukar cerita sambil menikmati manisnya hidangan dingin di tangan mereka. Udara di dalam toko terasa segar, berpadu dengan aroma vanila, stroberi, dan cokelat yang menggiurkan. Di belakang etalase kaca, deretan es krim dalam berbagai warna memikat mata: hijau mint yang segar, merah muda stroberi, dan cokelat gelap yang kaya rasa. Setiap wadah diisi dengan varian rasa unik, dari matcha lembut hingga salted caramel yang gurih.
Beberapa kelompok berfoto dengan kerucut es krim mereka yang tinggi, dihiasi taburan rainbow sprinkles dan susu karamel yang menetes perlahan. Suara tawa riang dan obrolan hangat memenuhi ruangan, sementara lagu pop upbeat mengalun dari speaker kecil di sudut ruangan.
"Satu es krim chocolate mint buat Mbak, dan oreo buat Mas." Seorang karyawan toko itu memberikan dua buah es krim yang diwadahi kerucut kepada dua siswa SMA itu secara hati-hati.
Dengan segera Kia mengambil salah satunya, dan langsung memberikan uang kertas satu lembar berwarna hijau sambil memberikan senyuman ramah pada karyawan itu. "Pas ya, Teh."
Kedua bola mata Satria tertuju pada secarik uang tersebut yang berpindah tangan secara cepat. Bersamaan dengan itu, dahi Satria yang mengerut, lalu ia memiringkan kepala agar mengarah pada gadis di sampingnya. "Pas banget tuh duit? Gak yang gedean dikit apa?"
Kia balik menatap Satria dengan tatapan heran. "Memangnya kenapa?"
"Ya... sekalian punya gue bayarin juga lah."
"Oh... " Kia manggut-manggut, lalu ia kembali mengambil uang yang berada pada saku kemejanya, "ini sekalian ya Teh, punya dia juga."
"Terima kasih, ditunggu kunjungannya kembali," kata pegawai wanita itu dengan ramah sambil mengatupkan kedua tangan dengan sedikit membungkuk.
"Tergantung, kalau enak pasti balik lagi," celetuk Satria yang langsung berbalik badan dan berjalan sambil menyantap es krim miliknya.
Kia yang terkejut lantas membulatkan mata, lalu menoleh ke arah pegawai toko itu dengan raut wajah penuh penyesalan. "Maaf ya Teh, dia orangnya emang suka ngasal bicaranya. Permisi." Gadis itu langsung berjalan mengikuti ke mana Satria pergi setelah sebelumnya berpamitan dan memastikan bahwa pegawai itu tersenyum tanpa merasa tersinggung akan ucapan Satria yang asal-asalan itu.
"Heh!” tegur Kia. “Maneh ulah ngasal ngomong! Memangnya gak bisa bicara sopan sama pegawai tadi? Gimana kalau mereka kesinggung?" Gadis itu berusaha melangkah dengan cepat untuk dapat mengimbangi posisi berjalannya dengan Satria yang memiliki kaki yang lebih jenjang.