Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Satria tetap berdiri di tempat. Tetepannya kosong menembus hamparan rumput, namun pikirannya bergemuruh seperti badai yang enggan reda. Tubuhnya mungkin diam, tapi di dalam sana, hatinya berteriak, campuran amarah, putus asa, dan kesedihan yang menggumpal tak tahu harus dikeluarkan lewat apa. tangannya terkepal, namun tak tahu hendak memukul apa. dunia seperti ikut mengejeknya, ketika satu-satunya orang yang paling ingin ia peluk justru menolaknya mentah-mentah.
"Kak Satria?" Ucap Kiara yang muncul sambil memegang bahu Satria.
Pria itu mengangkat kepala seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Sekarang lo tahu kondisi nyokap gue kayak gimana. Selain lo, empat anggota Alaska juga udah tahu kondisi nyokap gue, tapi mereka belum pernah gue ajak kesini buat ketemu langsung sama Mama. Lo pasti paham, kenapa gue rahasiakan Mama dari semua orang."
"Aku ngerti," jawab Kia. Ia menjatuhkan pandangannya ke bawah. "Maaf ya, Kak, aku terkesan penasaran sama kondisi mamanya Kak Satria. Padahal Kak Satria pasti sedih dengan keadaan mamanya seperti ini."
Satria hanya menarik sedikit garis bibirnya tanpa menyahuti ucapan Kia, pandangannya tetap lurus ke depan melihat kondisi mamanya yang terlihat lebih tenang setelah mendapat kalimat nasehat dari sang perawat.
"Apa rencana yang aku buat itu bukan ide yang bagus, ya? Kita batalin itu semua dan cari cara lain aja." Kia menatap Satria dengan tatapan sendu.
"Gak usah Kia, kita jalanin rencana yang lo punya, itu udah bagus kok. Lagian Papa juga cuma pura-pura, dan Mama gak akan tahu soal ini."
"Beneran nih... Kakak gak merasa keberatan?" Sekali lagi Kia memastikan, dan Satria hanya mengangguk perlahan.
Satria menoleh ke arah Kia dengan raut wajahnya yang datar. "Yang penting lo bisa mencapai misi lo. Dan yang terpenting Om Anton bisa pergi dengan tenang karena kebenaran terungkap, juga pelaku sesungguhnya mendapatkan ganjaran setimpal."
"Oke, makasih ya, Kak."
Seorang perawat menyela obrolan mereka.
"Mohon maaf Mas Satria, sepertinya saya harus bawa ibu ke kamar, karena kondisi psikisnya masih belum stabil. Saya juga akan berikan obat penenang dan membiarkan ibu istirahat," papar perawat itu sambil memegangi tubuh Rena dan membantunya berjalan, sedangkan Rena terus menunduk dengan masih menunjukkan kesedihannya.