Bab 29 - Les matematika

86 26 1
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Di koridor yang suasananya sedang ramai, Kia dan Kiran berjalan santai setelah keluar dari kelas. Mereka berjalan tidak terburu-buru menuju gerbang karena hal itu akan semakin menguras tenaga yang sudah hampir melemah setelah mereka menyelesaikan jam pelajaran terakhir, yaitu olahraga lari estafet dalam materi pelajaran pendidikan jasmani.

"Sumpah ya, gak ngerti banget gue sama sistem pembagian mata pelajaran yang tiba-tiba diubah buat kelas kita. Masa penjas jadwalnya di jam terakhir sih, udah mah semangat belajar makin menipis, mana siang bolong, panas banget, gila... ah... Sia-sia 'kan gue skincare-an mahal-mahal kalau gini caranya," gerutu Kiran sambil mengibas-ngibaskan kipas lipat merah muda miliknya. "Kayaknya besok gue harus protes deh ke wakasek kurikulum, atau bila perlu ke kepsek-nya aja deh sekalian, biar langsung di-ACC."

"Ngapain sih repot-repot?" sahut Kia dengan suara rendah, dan tatapan lurus ke depan. "Gak ada salahnya juga kok materi penjas ke bagian si akhir, jadi setelah jam pelajaran selesai langsung pulang, bisa ngadem lewat angin sepoi-sepoi dijalan sambil motoran. Beda kalau penjas di jam pelajaran pertama, yang ada nanti gak nyaman pas masuk pelajaran kedua dan seterusnya karena kelasnya bau keringat."

"Gak ada lah kocak! Mana ada siswa Wiramandala bau keringat. Yang ada bau duit semua."

"Ya... kan maksud aku teh gak apa-apa lah gak usah protes segala. Mungkin sistem pembagian mata pelajarannya diacak. Atau mungkin di hari senin guru mata pelajaran penjas ada waktu kosongnya pas jam pelajaran terakhir aja. Udah lah terima aja mau gimana lagi."

"Iya sih... " Kiran mengembuskan napas kasar sambil menjatuhkan pandangan ke bawah, kemudian saat pandangannya bergerak perlahan ke depan, ia langsung mengerjap kala melihat Rey sedang berdiri sambil tersenyum ke arahnya, seolah ia sedang menanti kedatangan Kiran.

"Kak Rey?" kata Kiran, mempercepat langkahnya hingga semakin dekat dengan pria itu.

"Hai!" sapa Rey sambil melambaikan tangan pelan, "mau pulang bareng gak?"

"Hah?" respons Kiran. Dia tidak tuli, hanya tidak menyangka. Kelopak Kiran melebar seraya menaikkan alis tinggi. Bagaimanapun ia sangat terkejut akan penawaran yang pria idamannya beri padanya.

Berulang kali Kiran memastikan, berulang kali Kiran menepuk pipinya agar benar saat ini ia tidak sedang berada dalam alam mimpi.

Dan...

“Aww... sakit.”

Kiran sibuk mengusap-usap pipi yang sudah menjadi korban tamparannya berulang kali, hal itu membuat Rey tak kuasa menahan senyumannya dengan dahi yang mengerut. Sedangkan Kia yang berdiri di belakang, hanya geleng-geleng kepala saat menyaksikan tingkah konyol temannya.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang