Bab 36 - penolakan mister Loki

73 16 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Kriing! Kriing! Kriing!

Suara alarm berbunyi keras di pagi hari yang bersuara dari sebuah jam berbentuk karakter kelinci putih di atas nakas samping tempat tidur. Kebisingannya berulang-ulang, sehingga membangunkan Kiran dari tidur nyenyaknya. Gadis itu bangkit dan meraih jam beker itu agar lekas membisu, lalu ia menggeliat dan mengucek mata yang masih terasa berat.

Saat Kiran menoleh ke arah sampingnya, ia melihat Kia masih terlelap dengan posisi tidur telungkup dengan satu tangan yang ia letakkan di atas ponselnya. Barangkali aktivitas semalam menguras energi Kia, sehingga ia tertidur begitu dalam. Sampai-sampai jerit beker barusan tidak membuat Kia membuka mata.

Kiran hanya menggeleng kepala pelan, memaklumi kondisi temannya yang untungnya hari ini adalah hari libur sekolah.

Sesaat Kiran jadi teringat ponselnya, lalu ia berusaha mencari yang ternyata terletak di bawah bantal tempatnya tidur. Saat ia membuka layar ponselnya, ia melihat sebuah pesan dari Rey pada pukul dua belas malam.

Kita sudah dapat rekaman CCTV nyokapnya Lea yang lagi menelepon orang misterius itu, nanti lo kasih tahu Kia besok pagi setelah dia bangun, dan kita ketemu di Mora Cafe jam sembilan buat bahas ini bareng-bareng. Satria gak langsung kabari Kia semalam karena takut ganggu istirahatnya, makanya mending gue aja yang kasih tahu lo karena sekarang mungkin lo udah tidur.

Kiran tersenyum lega sekaligus bangga setelah mendapat pesan tersebut dari Rey, sang pujaan hati. Lalu ia mengalihkan senyumannya ke arah Kia yang masih terlelap, karena ia sangat senang bahwa ada sosok yang memedulikan sahabatnya, yaitu Satria. Kiran menyimpulkan bahwa pria yang dikenal arogan di sekolah rupanya tidak ingin mengganggu istirahat Kia dengan pesan berisi informasi yang nantinya bisa membebani isi kepala gadis Sunda tersebut.

"Gue gak nyangka, ternyata Kak Satria seperhatian itu sama lo. Gue makin yakin dia ada rasa sama lo," bisik Kiran bermonolog.

Tangan Kiran bergerak menyentuh bahu Kia, lalu ia menepuk hingga menggoyangkannya pelan sebagai upaya untuk membangunkan Kia dari tidur lelapnya.

"Kia, bangun! Udah jam tujuh!" seru Kiran.

Kia mengedip-ngedipkan mata, memandangi langit-langit beberapa detik, lalu mulutnya terbuka lebar untuk menangkap oksigen.

"Oh, udah siang ya?" katanya.

"Iya, kita di suruh ke Mora Cafe, katanya buat lanjutin diskusi," terang Kiran.

"Hah?" Kia langsung bangkit, ia meraih kacamata dari atas nakas lalu mengenakannya sambil membuka sebuah pesan yang baru saja muncul dari Satria.

Jam sembilan ke Mora Cafe ya, kita lanjut bahas misi selanjutnya.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang