Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sesaat keheningan terjadi kala Dewa sedang menikmati makanannya, sedangkan Kia tiba-tiba saja menjelma menjadi seorang gadis pendiam tanpa banyak bicara. Padahal saat ini ia sedang bersama pria yang semula ia sukai sejak pandangan pertama, namun nyatanya perasaan itu perlahan memudar sejak Kia mencurigai Dewa sebagai salah satu sosok yang terlibat dalam kasus pembunuhan ayahnya.
"Pizza kamu masih banyak, kamu kurang suka? Atau mau aku pesanin menu lain?" ucap Dewa lembut.
Kia sedikit terhenyak. Dia mengerjap sekali, lalu sedikit menarik garis bibirnya. "Gak usah kak, aku suka kok," balasnya, dengan segera gadis itu langsung kembali menyantap makanannya dan bersikap biasa saja agar pria itu tak menaruh curiga bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang berat dalam otaknya.
"Oh iya, tumben hari ini kamu gak bawa motor?" tanya Dewa basa-basi.
"Gak apa-apa kak, aku teh lagi males aja berkendara sendiri, jadi tadi berangkat sekolah naik taksi online."
"Besok pagi aku jemput kamu, boleh?"
"Hah?" Sontak mata Kia melebar dengan alis yang terangkat tinggi, "b-boleh, kak," ucapnya setelah sedikit menimbang-nimbang keputusan tersebut.
Dewa tersenyum lega setelah mendapat persetujuan dari Kia. Ia terus saja menebar senyuman hangat yang sepertinya memang sangat tulus timbul dari hatinya, bukan sebuah sandiwara yang selama ini ia tunjukan sebagai upaya untuk menyembunyikan identitas aslinya.
Tiba-tiba saja sebuah ponsel berbunyi, ternyata itu muncul dari dalam saku almamater Dewa, langsung saja pria itu segera mengambil dan melihat sebuah nama kontak yang saat ini menghubunginya.
"Sebentar ya Kia, aku Terima telepon dulu," ujarnya sambil berdiri dan hendak pergi.
"Iya Kak, silakan," jawab Kia dengan raut wajah penuh tanda tanya. Pasalnya ponsel yang saat ini Dewa gunakan berbeda dengan ponsel yang kemarin sempat terjatuh akibat bertabrakan dengannya. Apa mungkin ponsel itu rusak? Atau bisa jadi Dewa menggunakan dua ponsel?
"Bener-bener mencurigakan ini mah," batin Kia.
Saat Kia melihat keberadaan Dewa di luar lewat pantulan kaca restoran, tiba-tiba saja sebuah ide muncul yang menjadi kesempatan emas untuknya. Kesempatan untuk mencari sesuatu untuk menggali jawaban atas kecurigaannya. Ia kembali melirik ke arah Dewa yang sedang di luar, memastikan lelaki itu tidak melihatnya. Sehingga dengan segera ia mendekat, kemudian menjamahi ransel milik Dewa.
Dengan gerakan cepat Kia membuka resleting. Sesekali ia menoleh, berjaga-jaga. Tangannya bergerak lincah, matanya tetap mengawasi ke dua arah. Dan...