Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Suasana kantin saat ini cukup ramai, karena ada beberapa siswa yang menjadi sorotan utama, membuat siswa lainnya memilih makan siang pada kantin lantai atas.
Biasanya Satria beserta teman-temannya selalu mengisi waktu istirahat sekolah untuk makan di warung makan yang berada di luar lingkungan SMA Wirawandala, kini mereka memilih kantin karena Satria harus tetap mengawasi kedekatan Kia dengan Dewa yang ia khawatirkan akan terjadi sesuatu di luar dugaannya.
Begitu pula dengan Lea dan teman-temannya. Biasanya mereka berlima makan siang di sebuah kafe dekat lokasi sekolah, kini mereka memilih kantin dan ikut berbaur dengan banyaknya siswa Wiramandala yang lebih banyak memilih kantin lantai atas karena memiliki menu makanan yang cukup banyak pilihan.
Bukan tanpa alasan, tentunya keberadaan Lea di kantin untuk kembali berusaha menarik perhatian Satria agar pria itu dapat membuka hati untuknya, walaupun butuh waktu lama. Meskipun cukup sulit, namun kali ini Lea tidak akan mudah menyerah dan bahkan usahanya akan lebih keras dari biasanya.
Begitu radarnya tertangkap, Satria yang tengah duduk sendiri, senyum secerah pagi langsung terlukis di wajah Lea. Lea mendekati Satria dengan langkah yang santai, tenang, dan hati-hati. Tanpa permisi ia duduk di sebelah pria yang sedang menyantap makanannya itu.
"Hai!" sapa Lea.
Satria hanya melirik sebentar, kemudian ia kembali memalingkan wajahnya dan kembali mengintai Kia yang sedang makan bersama Dewa diiringi obrolan seru dan penuh tawa.
Lea mengambil satu lembar kertas kecil dari dalam sakunya, lalu ia menyodorkan benda itu, "lusa ulang tahun Mami, seperti biasa kamu dan Om Haris pasti datang, kan?"
Satria melirik sebentar ke arah surat undangan itu, tanpa ada rasa ingin menjamahinya barang setitik. Lalu ia kembali memalingkan wajah ke arah dua sejoli yang sedang ia pantau.
Lalu Lea menegakkan tubuh, tanpa menunggu respons atau pun mencari topik lain, ia memutuskan untuk kembali ke meja tempat teman-temannya berkumpul tanpa berlama-lama di situ karena ia tahu mungkin Satria akan merasa terganggu.
"Jangan lupa datang, ya," pamitnya sebelum ia berlalu.
Satria mengerutkan dahi, tatapannya bergerak mengikuti Lea yang pergi. Ini ada apa? Mengapa gadis itu kini terlihat lebih tenang, santai dan tidak bersikap menyebalkan seperti biasanya? Apa mungkin gadis barusan bukan Lea? Apa mungkin Satria hanya sedang banyak pikiran?
Namun Satria kembali memastikan bahwa ia memang Lea, seorang gadis yang selama ini gencar mendekatinya dengan cara yang membuatnya tidak nyaman, kini malah menjelma menjadi sosok gadis yang menyimpan teka-teki. Dengan kata lain, kali ini Satria percaya bahwa Lea memang memiliki ikatan saudara dengan Kia.