Bab 56 - kehancuran Lea

48 4 3
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Dengan wajah masih diselimuti sisa-sisa lotion dan hati yang telah dikoyak kecemasan, Vanya dan Lea akhirnya meninggalkan ruang spa yang telah menjadi tempat perlindungan mereka. Suasana tenang itu kini berganti menjadi dingin dan menegangkan. Turun melalui tangga marmer yang mewah, setiap langkah mereka bergema dalam kesunyian rumah yang tiba-tiba terasa sangat besar dan kosong. Perbedaan reaksi mereka terlihat jelas.

Lea berjalan dengan langkah terburu-buru, nyaris menyusuri anak tangga. Rasa ingin tahunya membara, mendorongnya untuk segera menemukan jawaban. Matanya sudah mencari-cari ke arah bawah, ingin segera bertemu dengan sumber gangguan itu.

Sebaliknya, Vanya berjalan bagai tertambat. Langkahnya berat dan terukur, seolah setiap injakannya di anak tangga adalah sebuah beban. Dadanya sesak oleh bayangan-bayangan terburuk. Wajahnya, yang tadi dipersiapkan untuk memancarkan kecantikan dan keyakinan, kini pucat dan dipenuhi keraguan.

Saat akhirnya mereka tiba di lobi, pandangan mereka langsung tertuju kepada siluet beberapa anggota polisi yang berdiri kaku.

Lea tanpa ragu melangkah maju. Posturnya tegap, tatapannya tajam dan menantang, seolah membakar setiap detail seragam cokelat yang berdiri di hadapannya. Dia siap menghadapi apa pun.

Vanya, justru sebaliknya. Refleksnya adalah menunduk. Kepalanya menunduk sesaat, menghindari kontak mata, seolah mencari perlindungan dari lantai marmer yang dingin. Sebuah isyarat kecil yang berbicara sangat lantang tentang rasa takut dan rasa bersalah yang mungkin menggerogoti dirinya.

"Ada apa ini?" tanya Lea, suaranya memotong ketegangan di lobi yang megah.

"Kami mau menangkap Saudari Vanya Aurelia atas kasus pembunuhan berencana yang menewaskan Saudara Antonio Bagaskara beberapa bulan lalu," papar salah satu polisi itu dengan suara datar dan formal. Tangannya mengacungkan selembar kertas perintah penangkapan, sebuah dokumen resmi yang terasa seperti pisau di tengah kemewahan ini.

Lea membelalak, "maksudnya apa ini? Kenapa mami saya yang ditangkap? Bukannya pelakunya sudah dipenjara?"

"Karena beliau yang sudah memerintah para pelaku untuk melakukan aksi kejahatan itu."

Dunia di sekitar Lea seolah runtuh. Dadanya terasa sesak seolah jantungnya berdetak terlalu kencang, "Mih?" Lea menoleh ke arah Vanya dengan suara yang rendah, parau, dan dipenuhi rasa tidak percaya.

Vanya hanya mengangkat wajah. Daripada ketakutan, yang terpancar justru kemarahan yang dingin. Matanya menyipit, menatap petugas kepolisian dengan tajam, "mana mungkin saya yang suruh mereka buat bunuh suami saya sendiri? Itu gak mungkin, Pak!" kilah Vanya, suaranya meninggi dan penuh tantangan.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang