Bab 42 - Peluang besar Lea

59 16 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

"Menu makan siang hari ini nasi Padang, ya? Lidah gue berasa kangen sama bumbu medok khas Uda Faisal yang sedapnya bikin gagal move on sampe seribu tahun," kata Edo.

Ketika lima anggota Alaska itu keluar dari pintu kelas mereka setelah bel pertanda jam istirahat sekolah berbunyi.

"Gue setuju!" sahut Juan sambil mengacungkan telunjuk ke arah Edo, "karena barusan di FYP Tiktok gue ada konten resep gulai tunjang, gue jadi ngiler."

Riko menoleh dengan dahi yang mengerut. Agak aneh rasanya, jika beranda media sosial seorang lelaki diisi oleh resep makan. Kalau perempuan wajar. Ini laki-laki?

"Lah? FYP Tiktok lo resep-resep masakan? Gak salah lo?" tanya Riko heran.

"Oh, itu... emak gue semalem minjem HP. Dia cari-cari resep makanan, resep makanan khas Padang. Alhasil, konten-konten yang seliweran di beranda gue sekarang malah resep masakan mulu." Juan menjelaskan, sesekali menatap jalan, sesekali menoleh ke arah lawan bicaranya.

"Nyokap lo mau masak rendang sapi? Wih, boleh nih balik sekolah mampir ke rumah lo," kata Edo dengan antusias.

"Buat minggu depan lebaran Idul Adha, katanya siapa tahu dapet daging qurban lumayan banyak."

"Yaelah... mau punya daging yang belum pasti aja udah repot bener nyari resep dari sekarang." Edo yang geram langsung mendorong bahu Juan dengan pelan.

"Ya kan biar besok bisa siapin bahan-bahannya dulu, seperti biasa Sabtu pagi gue jadi ojek pribadinya dulu buat ke pasar... padahal gue males banget weekend bangun pagi."

Riko mendekat, lengannya ia kaitkan pada leher Juan. "Cuy, baik-baik sama emak lo! Kalau enggak... itu kebon sawit yang luasnya dua hektare diwarisin ke abang lo semua lagi."

"Iya sih, mana sekarang dia mau lanjut S2 lagi. Bisa-bisa duit emak gue habis buat dia semua lagi, gue gak boleh diem aja buat caper sama nyokap."

"Itu lo tahu."

Satria menyela obrolan mereka. Ia g berjalan menuju ke arah lain.

"Kalian duluan aja ya, gue mau ke toilet dulu, nanti nyusul," ucapnya.

"Tapi lo beneran nyusul ya. Awas aja kalau kabur!" suruh Edo dengan sedikit berteriak sambil terus berjalan mundur ke arah luar gedung sekolah.

"Iya!"

"Takut amat ATM berjalan lo nggak ada," ucap Riko sinis.

"Ya... kalian tahu sendiri porsi makan gue gak sebanding sama duit jajan gue sehari. Emangnya lo pada mau bayarin gue?"

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang