Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Suasana di dalam ruangan interogasi terasa pekat, layaknya udara sesaat sebelum hujan turun deras. Ruangan itu sempit, pengap, dan hanya diterangi oleh sinar neon putih yang menyilaukan dari lampu di langit-langit, memantulkan bayangan pucat pada dinding beton yang kosong. Bau kopi basi, keringat, dan aroma kertas usang menyatu menjadi satu, menjadi wewangian yang khas dari keletihan dan ketegangan.
Di tengah ruangan, sebuah meja kayu tua menjadi pusat dari segala drama. Permukaannya penuh dengan goresan dan noda yang menyimpan cerita-cerita suram yang mungkin pernah diungkap di atasnya. Seberkas cahaya dari lampu bender yang dapat digerakkan menyorot langsung ke wajah seorang lelaki yang duduk di salah satu sisi meja. Dia, sang pelaku, tampak menciut di kursinya. Matanya merah, berkaca-kaca, dan pandangannya kerap melayang ke lantai atau ke dinding kosong, menghindari kontak mata. Jari-jemarinya yang kotor meremas-remas ujung bajunya yang kusut, mengungkapkan gelisah yang tak terbendung.
Di seberangnya, dua anggota polisi duduk dengan posisi tegap. Seragam mereka yang khaki tampak sedikit kusut setelah berjam-jam bekerja, tetapi sorot mata mereka tajam dan penuh perhitungan. Yang satu, yang lebih muda, mencatat dengan cepat di sebuah notepad, suara gesekan pulpen di atas kertas terdengar nyaring dalam kesunyian yang mencekam. Yang satunya lagi, penyidik senior, hanya duduk menyandar. Tangannya terlipat di dada, matanya mengawasi setiap kedipan, setiap gerakan canggung sang pelaku seperti elang mengawasi mangsanya.
"Balas dendam," gumam sang pelaku, suaranya parau dan hampir seperti bisikan, mencoba mempertahankan cerita untuk ke sekian kalinya.
Penyidik senior itu mendesah pelan, lalu bersuara. Suaranya rendah, datar, namun penuh dengan otoritas yang tidak bisa ditawar. "Dendam apa yang kamu punya terhadap korban? Mengingat semua saksi mengatakan bahwa kamu dengan korban bahkan jarang berinteraksi di sekolah. Apa karena terlibat cinta segitiga?"
Detak jam dinding di ruangan itu terdengar seperti detak jantung raksasa, menandai berlalunya waktu dan menekan mental sang pelaku. Setiap detik terasa panjang dan menyiksa. Asap rokok dari ruangan sebelah menyelinap di bawah pintu, menambah lapisan kabut pada suasana yang sudah begitu berat. Ini adalah ruang tanpa waktu, tempat di mana kebohongan dikikis perlahan dengan kebenaran, betapa pahitnya, pada akhirnya harus terkuak.
Dewa tetap tertunduk, kelopak matanya bergetar, menatap tajam ke arah lantai. Tarikan napasnya tiba-tiba memburu kala ia membayangkan sebuah kejadian kelam yang terburuk awal mula kehancuran hidupnya.
"Saudara Dewangga Aditya!" gertak sangat penyidik dengan nada tegas. Dewa tersentak hingga mengangkat kepala dan tatapannya beralih ke hadapan orang di depannya.