Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Satria berdiri tegak berhadapan dengan Kia, keduanya saling menautkan mata dengan tatapan penuh tanda tanya. Jika Satria merasa heran karena Kia dengan mudahnya mengungkapkan rahasia keluarga terhadapnya, Kiara tak kalah heran karena ekspresi yang terlukis pada wajah Satria sama sekali tidak menunjukkan sebuah keterkejutan. Seakan-akan kebenaran itu bukan sebuah rahasia besar seperti apa yang dirasakan olehnya.
"Kenapa lo kasih tahu rahasia keluarga lo ke gue?" tanya Satria.
Kia mengerutkan dahi dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Dia menjawab, "Kak Satria teh udah tahu soal keluarga aku? Soal keluarga Tante Vanya juga?"
Satria mengangguk pelan. "Gue tahu lo dan Lea itu kakak-adik. Gue tahu lo anaknya Om Anton."
"Sejak kapan?"
"Sejak hari pemakaman Om Anton, gue lihat lo dan ibu lo samperin makan Om Anton pas semua orang pergi. Sorry, waktu itu gue gak sengaja lihat kalian. Dan gue bisa menduga karena sebelumnya Om Anton pernah cerita ke gue soal keluarganya dari Bandung."
"Maksudnya, teh,.. Kak Satria kenal dekat sama Ayah?" Tanya Kia dengan antusias, dan Satria mengangguk pelan.
Mata Kia bergerak menyapu objek sekitarnya, ia mencari keberadaan pria paruh baya yang sebelumnya berdebat dengan Satria. Namun ternyata kini ia sudah tidak ada.
"Lo cari apa?"
Kia mendekatkan wajah ke arah Satria, dengan suara rendah, ia memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mendengar obrolan mereka. "Aku minta tolong sama Kak Satria, dan papanya Kak Satria buat bantu aku pecahin kasus pembunuhan Ayah."
"Maksud lo apa?" Satria mengerutkan dahi.
"Kita ngobrol di dalam aja." Kia menarik tangan Satria dan membawanya masuk ke dalam kafe yang sebelumnya Kia tempati bersama Dion, mereka menempati sebuah kursi yang berada diposisi paling pojok agar jauh dari orang-orang yang kemungkinan akan mendengar obrolan mereka yang bersifat rahasia itu.
"Aku teh gak tahu harus mulai dari mana. Intinya, soal kasus pembunuhan Ayah, aku curiga Tante Vanya ada keterlibatan sama kasus ini."
"Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu?"
Kia menatap Satria dengan tatapan aneh, ia tidak mengerti mengapa reaksi Satria sangat datar? Tidak terlihat ciri-ciri bahwa ia terkejut atau kecewa karena merasa tidak menyangka. Atau mungkin ternyata selama ini Satria memiliki dugaan yang sama seperti Kia?