Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dewa berjalan perlahan mendekat ke area pemakaman yang berada di samping dekat tembok pembatas. Ia bersimpuh, jemarinya telaten menjamahi rerumputan, membersihkan dedaunan yang tanpa izin berserakan di atas tempat peristirahatan terakhir itu.
Di sisi lain, Kia memerhatikan dari kejauhan. Ia lihat, bahwa kondisi makam sederhana itu seperti jarang terawat, dan dapat diperkirakan usianya lebih dari satu tahun. Tapi makam siapakah itu? Mengapa Dewa membersihkannya secara bergantian pada dua makam itu?
Namun sayangnya saat ini Kia tidak dapat membaca nama pemilik makam pada batu nisannya. Karena jaraknya terhadap Dewa cukup jauh bahkan ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang Dewa bicarakan. Dan sialnya, alat penyadap yang menempel pada tas ransel Dewa sudah Kia ambil kembali, sehingga ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa saja yang sedang Dewa ucapkan saat ini.
Tapi yang jelas, ia melihat Dewa semakin tersedu-sedu kala berbicara dengan batu nisan itu, sesekali ia mengusap bahkan memeluk dan mencium batu nisan tersebut. Sepertinya dua orang itu adalah orang yang sangat Dewa sayangi dan sangat berharga dihidupnya. Namun yang jelas Kia tidak dapat mengetahui apa pun yang sedang dilihatnya saat ini.
Tiga puluh menit berlalu, Kia tetap berdiri di balik pohon besar untuk mengamati Dewa, ia melihat saat ini pria itu sudah terlihat sedikit lebih tenang, dan sepertinya sudah bersiap akan pergi kembali meninggalkan tempat itu.
Saat Dewa sudah keluar dari area pemakaman itu, Kia lantas mendekati ke arah dua makam yang Dewa kunjungi. Dari dekat Kia dapat melihat jelas nama yang ada pada batu nisan itu.
Saat Kia mendapati namanya, dahi Kia berkerut dengan mata yang menyipit.
Hermawan, lahir 17 Maret 1980, wafat 25 Mei 2022.
Asti Ananta, lahir 24 Agustus 1985, wafat 25 Mei 2022.
"Sepertinya ini sepasang suami istri, tapi apa hubungannya sama Kak Dewa? Bukannya Kak Dewa masih punya papa yang dia panggil 'Daddy' itu? Tapi dilihat dari usia ibu itu hampir seusia Ibu, mungkin aja itu ibunya Kak Dewa. Tapi satu lagi siapa? Kenapa tanggal wafat mereka sama?"
Kia langsung memotret kedua makam itu untuk ia kabarkan pada anggota investigasinya, barangkali bisa dijadikan sebagai petunjuk. Lalu gadis itu segera pergi meninggalkan tempat itu dan berencana melaporkan hal ini kepada Satria dan teman-teman yang lainnya.
Namun saat Kia mulai masuk ke wilayah padat penduduk itu, langkahnya sempat terhenti bahkan ia bergerak mundur untuk kembali bersembunyi di balik sebuah tembok, karena ia melihat Dewa yang ternyata belum pergi jauh dari tempat ini. Ia melihat Dewa berdiri tegap di depan sebuah bangunan rumah kosong yang sudah tak berpenghuni selama bertahun-tahun. Terlihat dari halamannya yang tumbuh rerumputan tinggi serta kondisi rumah yang sudah tidak pernah dibersihkan.