Bab 28 - Antitesis

89 26 1
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Kia menoleh ke arah Satria. Dia menatap tajam, dan dalam sekejap matanya melebar. Ia tidak menyangka bahwa pria tukang buat onar ini mengeluarkan kalimat yang membuat orang-orang di sekitar terkejut atau mungkin sampai berpikir salah paham. Walaupun ia sadar, bahwa setiap kalimat mengejutkan yang keluar dari mulut pria ini hanya sekedar bualan belaka, tidak bisa dipercaya, karena menurutnya tidak masuk akal. Sedangkan Satria hanya tertawa kecil sambil mengusap wajahnya pelan, lalu ia kembali menatap ke arah Kia tanpa merasa bersalah walaupun jelas terlihat wajah Kia menampakkan sebuah amarah yang disembunyikan.

"Sorry, gue cuma becanda. Gitu doang sewot," tukas Satria dengan gaya sok kegantengannya.

"Gak lucu!" balas Kia tegas. Kedua alis Kia makin menukik, beriringan dengan tubuhnya yang ia bawa melewati Satria yang masih berdiri di tempat. Gadis itu lantas pergi tanpa berniat meladeni ocehan tidak penting Satria karena ia khawatir pria itu akan semakin berucap asal-asalan yang menimbulkan kesalahpahaman bagi teman-temannya.

Di sisi lain, wajah Kiran penuh dengan tanda tanya. Ia menepuk dahi karena menyayangkan tingkah Kia yang berani-beraninya mengabaikan Satria, seseorang yang banyak dikagumi gadis-gadis Wiramandala. Kemudian ia menoleh ke arah Satria dengan tersenyum sambil menyipitkan matanya.

"Maaf ya, Kak. Dia orangnya agak aneh emang," cakap Kiran. Gadis itu lantas berlari mengejar keberadaan temannya, dan memanggil, "Kia... Tunggu!"

Satria menoleh ke belakang sekilas, sambil menarik garis bibir lalu menggeleng kepalanya pelan. Kia yang salah tingkah sungguh menggemaskan. Ia kembali melanjutkan perjalanannya karena berniat akan pergi menuju kantin. Namun, belum genap ia melangkah sejarak satu meter, keempat temannya langsung mencegat dan menahannya agar tetap berdiri di tempat, terutama Edo yang berdiri tepat di hadapannya membuat jalanan yang akan Satria lalui terhalang oleh tubuh besarnya.

"Ets... tunggu dulu!" cegah Edo. Ia menahan tubuh Satria dengan cara meletakkan telapak tangannya pada dada Satria.

Dengan cepat Satria menepis tangan itu secara keras. “Apaan?” katanya gusar.

"Ada yang gak beras nih." Tatapan mata Edo menyipit, penuh selidik.

"Yang bener ‘beres’ dong!" Hardik Juan dan Riko bersamaan.

"Nah iya, maksud gue itu." Edo mengangguk dengan telunjuk mengarah pada keduanya.

"Muka lo tuh yang gak beres," telapak tangan Satria berhasil meremas permukaan wajah Edo.

"Wet... jangan sembarangan. Muka-muka ganteng begini kembarannya Gojo Satoru, jangan kurang aja lo."

"Mana ada Gojo Satoru modelan boneka mampang gini? Yang ada lo itu mirip Choji akamsi."

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang