Bab 30 - pergi dengan aman

81 26 1
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Suasana siang itu begitu tenang. Angin hanya berembus pelan, cukup untuk menggoyangkan tirai tipis di jendela ruang tengah. Rossa duduk tenang di sofa favoritnya, ditemani setumpuk buku tentang ekonomi dan bisnis yang berserakan di meja. Teh hangat mengepul dalam cangkir porselen di genggamannya, sesekali ia menyisakan waktu dari bacaannya untuk menyesapnya perlahan. Ia sedang menunggu Kia, pulang dari sekolah, sebuah rutinitas yang diam-diam ia nikmati, sebagai jeda dari sibuk dan riuhnya hari-hari.

Suara deru motor memecah keheningan siang, berhenti tepat di depan rumah. Rossa tak perlu melihat ke luar untuk menebak siapa yang datang. Ia hafal betul suara motor Kia, putrinya. Namun kali ini terdengar berbeda. Bukan satu, melainkan dua motor yang berhenti hampir bersamaan. Dahi Rossa sedikit berkerut, menandai rasa heran yang muncul sejenak di wajahnya.

Ia bangkit perlahan dari tempat duduknya, meletakkan cangkir teh yang mulai mendingin di meja. Langkahnya menuju beranda dipenuhi rasa ingin tahu. Dan benar saja, di sana Kia berdiri, masih mengenakan pelindung kepala, dan di sampingnya seorang remaja lelaki yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Keduanya langsung berjalan masuk menghampiri Rossa yang berdiri di depan pintu dengan raut wajah penuh tanda tanya.

"Bu, kenalin ini Kak Satria, kakak kelas aku di sekolah," ungkap Kia memperkenalnya, ia tampak ragu karena sebelumnya belum pernah ia melakukan hal seperti ini.

"Selamat siang, Tante. Saya Satria." Pria itu mengenalkan diri. Tak lupa memasang wajah seramah mungkin sambil membungkukkan badan sejenak, lalu ia segera meraih dan mengecup punggung tangan Rossa.

"Satria?" Dahi Rossa mengerut, diiringi sebuah senyuman tipis dibibirnya.

"Emm... aku izin mau keluar sama Kak Satria ya, Bu? Soalnya dia mau belajar matematika sama aku, jadi aku gak makan siang di rumah," ucap Kia sedikit ragu, ia takut meminta izin seperti ini pada ibunya karena ini pengalaman pertama baginya dalam memperkenalkan teman pria pada orang tuanya.

"Oh iya, kamu mandi dulu aja, Siap-siap. Satria tunggu di dalam aja ya sama, Ibu."

"Terima kasih, Tante."

Rossa mengajak Satria dan menyuruhnya duduk pada sofa ruang tengah, tempat sebelumnya ia duduki. Lalu ia segera merapikan buku-buku yang berserakan itu dan meletakkannya pada lemari yang berada di belakang sofa.

"Kamu mau minum apa?” tawar Rossa. Agar tamunya merasa nyaman, tentu ia ingin memberikan yang terbaik. “Teh? Kopi? Atau jus buah?"

"Air putih aja, Tante. Kayaknya gak lama juga," kata Satria dengan sopan.

"Lama kok, anak tante biasa mandi sekalian siap-siap sekitar tiga puluh menitan, masih sempat buat minum kopi. Hot americano, kan? Tante ada loh stoknya. Sebentar ya, tante buatkan," tuturnya, segera membuatkan.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang