Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kaki Kia bergerak pelan di antara rak-rak buku perpustakaan yang menjulang tinggi. Kepalanya tak mau diam, menoleh ke berbagai arah, netranya pun memindai mencari sesuatu yang diperlukannya. Tangannya terjulur, meraih buku paket pelajaran sejarah untuk ia pelajari sebelum mengikuti ulangan harian setelah jam istirahat berakhir.
Saat Kia berhasil menemukan buku itu, ia langsung berbalik untuk menuju kursi agar segera mempelajarinya, namun secara kebetulan seseorang menabrak tubuhnya hingga mereka berdua terjatuh. Bahkan buku yang Kia bawa serta sebuah ponsel milik orang itu ikut terjauh bersamaan.
"Kia, maaf. Aku gak sengaja," ucap seseorang yang suaranya cukup familier.
Kia tak langsung menoleh ke arahnya, karena ponsel itu terlempar ke dekatnya, dan tiba-tiba layar ponsel itu menyala saat ada sebuah pesan masuk. Namun bukan karena pesan itu yang membuat atensi Kia teralihkan, melainkan karena sebuah gambar pada wallpaper ponsel itu yang cukup membuat Kia terkejut.
Sebuah gambar menyerupai simbol berbentuk tengkorak kambing berwarna hitam, dengan tanduk yang besar dan melengkung persis seperti ciri-ciri yang Satria jabarkan dari informasi yang ia dapatkan dari papanya.
Ini adalah...
Simbol Mister Loki.
Tanpa peringatan sang pemilik langsung merampas ponsel itu secepat kilat, hingga Kia mengerjap dan menoleh ke arah pemiliknya dengan mata yang membelalak.
"Kak Dewa?" Kia menaikkan alis tinggi.
"Maaf ya, tadi aku gak fokus jalannya,” kata Dewa ramah. Ia mengulurkan tangan, membantu Kia berdiri. “Kamu gak apa-apa?"
"Gapapa Kak. Aku gapapa kok," balas Kia. Gadis itu mencoba tetap tersenyum agar ekspresi bingungnya tak diketahui oleh Dewa.
"Kamu kenapa?" Pria itu mendekatkan kepalanya pada wajah Kia, dahinya mengerut dengan mata yang sedikit menyipit.
"Aku gak apa-apa, Kak. Benaran gak apa-apa."
"Kamu mau belajar di sini?"
"I-iya. Soalnya habis ini ada ulangan harian IPS, jadi aku perlu pelajari beberapa materi yang belum pernah aku pelajari sebelumnya."
"Boleh aku temenin?" tawarnya, diiringi senyuman manis kesukaan Kia.
"Tapi, Kak..." ucap Kia ragu.
"Salsa?" tebak Dewa, "tenang aja, aku sama dia sekarang udah putus kok, jadi sekarang gak ada yang berhak larang aku deket sama kamu."
"Hah? Putus? Kenapa?" dahi Kia mengerut, sedikit memundurkan kepalanya dari Dewa.
"Ya... Aku ngerasa capek aja hubungan selalu diatur sama dia." Dewa bercerita sambil berjalan menuju tempat duduk, "kita berhak kan menentukan hidup seperti apa dan bersama siapa?"