Bab 54 - ledakan

62 10 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Udara pengap dan bau apek memenuhi ruangan sempit yang nyaris gelap gulita. Kia teronggok di sebuah kursi besi berkarat yang dingin menusuk. Tubuhnya terikat kaku; kedua pergelangan tangannya dibelenggu ke punggung kursi dengan tali yang mencengkeram seperti ular boa, sementara kakinya dipasung ke kaki-kaki kursi. Sehelai kain kotor menyumbat mulutnya dan diikat keras hingga ke belakang kepala, membuatnya sulit bernapas.

Kepala gadis itu tertunduk lesu, tetapi di balik kelopak mata yang berat, sorot matanya tajam dan waspada. Ia sama sekali tidak tertidur.

Ya, Kia masih sadar sepenuhnya. Kecerdikannya menyelamatkannya. Air minum berobat tidur pemberian Dewa itu tidak pernah ditelannya. Dengan risiko tertahan napas, ia hanya menyimpan cairan khianat itu di mulutnya, lalu diam-diam menyemburkannya keluar saat dibaringkan di kursi belakang mobil, persis ketika Dewa lengah dan berjalan menuju pintu depan.

Saat itu Kia benar-benar merasa sangat ketakutan dengan rencana apa yang sedang Dewa rencanakan sampai menjebak dirinya hingga tak sadarkan diri, sehingga sebiasa mungkin ia harus bersandiwara seolah-olah ia sedang berada dalam jebakan agar ia dapat menyaksikan rencana busuk Dewa.

Dengan mata yang tertutup, Kia mendengar shutter sound yang muncul dari kamera ponsel Dewa saat memotret, dan ia yakin pria itu sedang membuat kesepakatan dengan seseorang yang akan menyelamatkannya, mungkinkah itu Satria?

Saat Dewa berjalan menuju ke luar, Kia perlahan membuka kelopak matanya sambil memastikan bahwa Dewa tidak melihat pergerakannya. Ia memindai area sekitarnya banyak sekali peralatan medis yang telah usang. Ruangan itu gelap, dengan hanya sedikit cahaya yang masuk melalui jendela yang pecah. Suara-suara aneh terdengar dari koridor luar, membuat Kia merasa semakin ketakutan.

Gadis itu mencari keberadaan tas kecilnya, berniat untuk mengambil ponsel untuk ia meminta bantuan pada teman-temannya. Namun ternyata benda itu tidak ada di sekitar. Mungkinkah Dewa yang telah menyembunyikannya?

Kia menggesekkan kedua tangan serta kaki yang saling menempel akibat ikatan tali yang sangat kuat, berharap menemukan jalan agar ia terlepas dari jeratan hingga dapat segera melarikan diri dari tempat itu. Tapi sayangnya, sangat sulit. Ia tidak menemukan benda apa pun di sekitarnya yang dapat membantunya melepaskan ikatan tali itu.

Suara hentakan sepatu kembali terdengar semakin mendekat, sepertinya Dewa sudah kembali dan akan memasuki ruangan itu. Kia pun segera membetulkan posisi duduknya agar kembali pada semula dan memejamkan matanya supaya Dewa tidak menyadari bahwa Kia sebetulnya tidak dalam keadaan tertidur.

Pria itu mendekat, semakin dekat.

Lalu ia melepaskan tali pada kaki dan tangan yang mengikat pada kursi, dan kembali mengikatkannya satu sama lain agar Kia tetap ada pada jeratannya. Setelah ia berhasil melepaskan Kia dari kursi itu, ia pun langsung menggendong Kia dan membawa gadis itu keluar dari dalam gedung.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang