Bab 65 - akhir yang menyiksa (End)

88 6 1
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Udara di dalam sel terasa berat dan lembap, berbau karat dan desperasi. Setiap helaan napas mengingatkannya bahwa ini bukan lagi ruang kelas dengan aroma tinta spidol dan parfum mahal teman-temannya, tapi sebuah kuburan besi sebelum waktunya. Dewa, seorang siswa yang seharusnya sibuk memikirkan ujian yang sudah di depan mata, dan kelulusan akan menantinya dengan segudang prestasi yang ia raih, kini terpenjara.

Dua kasus yang membelenggunya: kejahatan siber yang rumit, dia meretas CCTV jalanan tempat kejadian pembunuhan Antonio berlangsung, CCTV rumah sakit saat Renata melakukan pemeriksaan kehamilan tiga tahun lalu, memalsukan identitas pembunuh Anton yang ternyata bukan anak di bawah umur melainkan pria dewasa berusia dua puluh satu tahun, serta membantu menghilangkan jejak para penjahat itu dalam misi pelarian setelah dibebaskan dari penjara atas bantuan kepala Polisi yang ternyata merupakan ayah dari mantan kekasihnya, Salsa. Dan yang lebih kelam, percobaan pembunuhan. Targetnya: Satria. Karena sudah merebut Kia darinya serta mengganggu pekerjaannya dalam menyembunyikan semua bukti kejahatan Vanya yang berhasil ia jaga selama ini.

Hari ini adalah hari kunjungan. Dewa duduk di balik jeruji yang dingin, menatap kosong ke depan. Lalu, muncul beberapa wajah familier dari sekolah: Rey, Edo, Juan, dan Riko. Mereka berjalan mendekat, dengan dada yang membusung serta wajah yang sedikit didongakkan.

"Gimana? Tempat ini cocok kan buat lo?" tanya Rey, suaranya berusaha netral.

Dewa menyeringai. Senyumnya lebar, sinis, penuh ledekan. "Not bad. Apalagi gue pernah tinggal di lingkungan kotor kayak gini, bisa dibilang gue gak perlu kaget juga."

"Ya tuhan... Gue kira setelah lo masuk sini bakalan nyesel, bakalan sedih. Tapi ternyata? Istighfar lu... tobat." Hardik Edo yang mulai geram dengan ekspresi wajah Dewa.

"Tobat?" Dahi Dewa mengerut, "buat apa? Oh... karena gue udah bikin ketua geng lo mati? Gue rasa gak perlu. Ini bukan salah gue, ini salah bokap dia sendiri. Gue cuma mau imbangi rasa kehilangan gue dengan rasa kehilangan manusia biadab itu."

"Sekate-kate lu ya kalo ngomong." Juan melangkah maju, dan melayangkan tangan ke arah Dewa. Namun ketiga temannya berhasil menahan sehingga perbuatannya urung dilakukan.

"Jangan, Ju," seru Rey tenang, "jangan bikin masalah di sini."

"Abisnya... itu orang tengil banget. Bisa-bisanya dia gak ngerasa bersalah setelah jebak Satria dan ledakin bom di sana."

Mendengar nama itu, senyum Dewa semakin melebar. Rasa percaya diri yang membara menguasai dirinya. Dia yakin sekali. Yakin bahwa rencananya sempurna. Ia sengaja menaruh bom itu di lantai tiga dengan lokasi yang cukup jauh dari tangga, dan menentukan waktu mundur bom itu sesingkat mungkin agar segera meledak saat Satria masih ada di dalamnya. Iya sangat yakin bahwa orang itu tidak mungkin selamat.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang