Bab 26 - Misi berjalan lancar

92 31 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Sebuah mobil putih terparkir di bahu jalan, di dalamnya terdapat seorang pria paruh baya dengan setelan jas formal ala pemilik sebuah perusahaan.

Haris menghela napas panjang sebelum ia memainkan ponsel dan menghubungi  Vanya bahwa kini ia telah sampai di depan gerbang rumahnya. Ia melihat ada dua orang pria berbadan kekar yang berdiri di depan gerbang, mungkin saja yang berjaga di sekitar rumah lebih banyak dari ini, karena ia merasa memang keamanan rumah itu cukup ketat dari biasanya.

"Halo... saya sudah sampai di depan rumah kamu," kata Haris. Ia langsung menutup sambungan telepon setelah mendapat persetujuan Vanya. Lalu tak lama seorang satpam berlari ke arahnya sambil mengetuk kaca mobil.

"Dengan Pak Haris, ya?" tanya satpam tersebut.

"Iya," balas Haris singkat.

"Mari, masuk." Pria itu kembali berlari ke arah gerbang dan memberi perintah pada kedua penjaga itu untuk membantunya membuka pintu gerbang. Lalu Haris segera melajukan kembali mobilnya hingga memarkirkannya pada halaman rumah.

Sudah sejak dua tahun lalu Haris sudah tidak pernah berkunjung ke rumah ini lagi, karena sejak kejadian salah paham itu, membuatnya menjaga jarak dengan Vanya, dan ia hanya membahas masalah bisnis dengan Anton saja, dan ia tidak segan-segan menolak sebuah pertemuan penting jika Anton tidak berkenan untuk hadir.

Memang benar, kondisi rumah ini sekarang berbeda dari dua tahun lalu, dulu hanya ada satu orang satpam yang berjaga di pos samping gerbang, tapi kini ada tambahan dua orang menyerupai seorang bodyguard. Bukan hanya itu, ternyata di teras rumahnya juga terdapat dua orang yang berpenampilan sama, dan saat Haris menyapu objek sekitar, ternyata ia juga melihat beberapa orang lagi di sekitar taman dan halaman belakang.

Haris berjalan perlahan menuju pintu utama rumah itu. Namun, sebelum ia sampai ternyata seseorang telah membuka kedua daun pintu itu dengan cukup lebar.

"Halo, Mas Haris..." kata Vanya sedikit meninggikan intonasi suara dengan diakhiri senyuman yang merekah.

Haris membalas dengan senyuman tipis sambil terus melangkah mendekat ke arahnya.

"Akhirnya, kamu mau juga datang ke sini." Tangan Vanya langsung bergerak meraih tangan Haris, "ayo masuk."

Wanita yang sejak satu jam lalu telah mengacak-acak pakaian untuk dikenakannya hari ini dan memakai riasan terbaik agar menarik perhatian pria yang dicintainya itu membawa Haris ke dalam ruangan Keluarga, ia sengaja tidak menempatkan Haris di ruang tamu utama karena jaraknya terlalu dekat dengan pintu keluar sehingga ia khawatir obrolan pribadinya akan dapat di dengar oleh para bodyguard-nya.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang