Bab 41 - Sikap Salsa yang aneh

64 16 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Pagi hari yang cerah membangkitkan semangat Rossa yang sejak pukul enam pagi sibuk memasak di dapur. Ia menolak bantuan dari asisten rumah tangganya, dan lebih menyuruh mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Karena hari ini ia tidak memiliki kegiatan apa pun, termasuk urusan bisnis perhotelan yang sebagian tugasnya ia limpahkan pada Dion, sang sekretaris pribadinya. Sehingga ia sengaja akan membuatkan menu sarapan pagi ini untuk putrinya yang hendak pergi bersekolah.

Berbanding terbalik dengan dirinya, putri semata wayangnya itu malah terlihat seperti tidak bersemangat hari ini. Gadis berseragam SMA itu menikmati sarapan paginya tanpa banyak bicara, dengan tatapan datar di balik kacamatanya membuat Rossa sedikit mengerutkan dahi sambil memperlambat kunyahan makanannya.

"Kunaon, siga teu nafsu dahar kitu? Masakan Ibu gak enak, ya? Atau kamu mau Ibu masakin makanan lain? "

Kia langsung mengerjap, lalu ia menarik sedikit garis bibirnya sambil kembali menyantap makanan itu dengan semangat. "Eh? Enak kok bu. Masakan Ibu kan selalu enak, pang ngenahna sadunia."

Rossa merasa ada yang aneh dari sikap putrinya, ia pun langsung melepaskan sendok dari tangan, lalu melipat kedua lengan di atas meja dan mendekatkan kepala ke arah Kia.

"Kamu teh lagi banyak pikiran ya?" tanya Rossa.

"Eng-nggak, Bu," balas Kia sedikit gugup.

Rossa menilik mata Kia lebih dalam. "Lea jahatin kamu di sekolah?"

"Enggak, Bu. Kak Lea kan gak mau ada orang lain yang tahu tentang hubungan kita. Mana mungkin Kak Lea mau gangguin aku di sekolah, yang ada kita pura-pura saling gak kenal," kata Kia, mencoba terlihat santai.

"Kamu yakin?" sekali lagi Rossa memastikan. Namun saat Kia hanya mengangguk pelan tiba-tiba saja suara klakson motor terdengar cukup keras, sehingga membuat keduanya mengerjap dan menoleh ke arah pintu keluar.

"Pagi-pagi gini siapa yang bertamu ya? Perasaan Ibu gak ngundang siapa-siapa, gak ada pesanan online juga." Rossa segera bangkit dan hendak berjalan ke arah luar.

Sontak Kia melebarkan mata kala teringat Dewa, ia baru tersadar bahwa pria itu telah mengatakan bahwa pagi ini ia akan menjemputnya untuk pergi bersekolah bersama. Dengan segera Kia berlari untuk mendahului sang ibu dan meninggalkan sarapan pagi yang belum tuntas.

"Pagi, Tante," sapa Dewa, ia tersenyum ramah sambil meraih tangan Rossa lalu mengecup punggung tangannya.

"Pa-pagi... " Dahi Rossa mengerut, kepalanya sedikit miring kala seorang pemuda berseragam sekolah persis sepertinya datang menyapa dengan senyuman hangat.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang