Bab 2 - Lingkungan baru

395 88 233
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Seorang gadis berdiri mantap di depan gerbang sekolah yang terbuka. Mata di balik bingkai kacamata terhunus ke depan, memancarkan semangat untuk memulai perjalanan pada lingkungan baru yang telah ia pilih.

Dulu, Kia sempat menolak untuk bersekolah di sini, dengan alasan tidak ingin menimbulkan masalah keluarga jika Lea, kakak tiri dari istri pertama ayahnya mengetahui dan merasa tidak nyaman akan kehadirannya.

Selama ini status Kia serta ibunya sebagai keluarga kedua Antonio Bagaskara telah disembunyikan dari publik. Hal itu atas dasar permintaan Vanya, selaku istri pertamanya yang menolak keras pernikahan kedua Anton, namun pria itu tetap bersikeras dengan keputusannya, sehingga jalan keluar terbaik adalah tidak menampilkan keluarga keduanya di hadapan publik. Alasan lainnya adalah restu kedua orangtua Anton yang selamanya tidak pernah menyetujui putranya menikah dengan seorang gadis desa yatim piatu, apalagi status ekonominya yang berada pada posisi menengah.

Namun hal itu sudah Kia pikirkan secara matang-matang, ia akan menjadi dirinya sendiri tanpa membawa nama besar sang ayah dan tidak mengakui Lea sebagai saudarinya. Ia hanya ingin memenuhi permintaan mendiang ayahnya yang ketika tahun lalu setelah lulus SMP, meminta Kia bersekolah di sini, karena Anton adalah investor terbesar di sekolah swasta ini.

Semangat memulai hari sudah tinggi. Kaki Kia mulai berayun mantap. Namun, belum sempat Kia melintasi gerbang, tiba-tiba muncul segerombolan motor sport yang melaju dengan kecepatan tinggi melewati tubuhnya, hingga Kia tersungkur karena tersenggol oleh salah satu motor milik siswa yang menurut Kia mereka adalah kelompok anak nakal yang sering melanggar ketertiban sekolah.

Kia mengaduh. Lututnya mengeluarkan cairan merah. Kejadian tidak mengenakan ini membuat alisnya jadi bertaut. Setelah membenahi kacamata, Kia berteriak lantang, "STOOOP!"

Semua motor itu tiba-tiba berhenti, dan salah seorang di antara lima pria itu turun. Satria berjalan mendekat ke arah Kia sambil mengulurkan tangannya. "Bangun," katanya dengan nada sok jagoan.

Gadis itu tidak sama sekali menerima uluran tangan Satria, ia coba berdiri sendiri sambil menatap tajam, rahangnya mulai mengeras serta tarikan napasnya panas, "Gak punya mata, ya? Kamu teh bisa bawa motor gak sih? Kalau gak bisa ya gak usah, nambahin polusi aja!"

Satria balik menatap Kia dengan tatapan datar, tangannya merogoh saku celana, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya dan memperlihatkan sebuah kartu tanda kelayakan mengengemudi kendaraan beroda dua di depan wajah Kia, "gue udah punya SIM, jadi gue sudah bisa dipastikan bahwa gue bukan pengendara abal-abal."

"Itu mah pasti hasil instan, kan? Pake cara bayar mahal pihak tertentu gitu, 'nembak'?" Kia masih bertahan dengan tatapan amarahnya.

Pria itu memalingkan wajah dengan memutar matanya malas, sambil kembali meletakkan kartu itu pada tempat semula, ia kembali menatap ke arah Kia dengan tetap berbicara santai, "lagian lo kenapa diem di sini? Mau gantiin Pak Mulyadi jagain gerbang?"

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang