Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Angin sore yang semestinya terasa sejuk, justru menusuk tulang-tulangnya yang rapuh. Lea keluar dari gedung pengadilan yang megah dan berwibawa dengan langkah lesu, bagaikan boneka kayu yang talinya putus. Setiap hentakan kaki di aspal panas terasa seperti mengangkat beban seribu kilogram. Suara keputusan hakim masih bergema di telinganya, menggema dalam ruang hampa yang kini menjadi kepalanya: hukuman pidana seumur hidup.
"Seumur hidup", kalimat itu mengeras menjadi bongkahan es di dadanya. Dunia di sekelilingnya, deru mobil, langit yang berwarna jingga, suara burung, seakan-akan diputar volumenya hingga paling pelan, lalu dimatikan. Yang tersisa hanyalah dering telinganya sendiri dan bayangan wajah malang papinya yang pastinya kesakitan saat di ambang kematian, dan yang lebih buruknya adalah maminya sendiri yang menyusun rencana kejahatan itu.
Lea tersandung pada akar pohon beringin yang teduh di tepi trotoar. Tubuhnya lunglai, dan tanpa kekuatan lagi, ia merosot di bawah naungan daun-daun yang berdesir seolah menyayanginya. Air matanya yang selama berjam-jam ia tahan di ruang sidang yang pengap, akhirnya meledak. Bukan tangisan sedih yang melankolis, melainkan isakan yang menyayat, keluar dari dasar jiwa yang tercabik-cabik. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya, tubuhnya menggigil tak terkendali.
"Papi..." desisnya di antara isakan. "Kenapa... kenapa semuanya harus kayak gini?"
Ia sempat membenci papinya karena telah menghadirkan putri lain di tengah posisinya sebagai putri tunggal, Kia. Tapi, ternyata semua itu hanya kebohongan semata yang dirangkai sendiri kisahnya oleh Vanya untuk mengelabui Lea agar membenci mereka.
Lea dipaksa untuk melihat sisi buruk dari Rossa dan Kia, sebuah kebenaran yang menyatakan bahwa merekalah sumber kehancuran keluarganya.
Namun ternyata semua itu salah. Apa yang papinya katakan dulu itu benar. Beliau tidak pernah pilih kasih. Bahkan jika dibandingkan, kehidupan Lea jauh lebih mewah dibanding Kia, karena baik Kia Maupun Rossa tidak mengharapkan semua harta itu. Mereka pula tidak pernah merebut sosok papi bagi Lea, karena mendiang papinya memang lebih sering meluangkan waktu bersama keluarga pertamanya, bersama Lea. Hanya saja sejak dulu Lea didoktrin oleh maminya agar selalu membenci papinya, sehingga mendiang Antonio tidak pernah diberi ruang untuk mencurahkan kasih sayang terhadap putri pertamanya itu.
Saat kepedihannya mencapai puncak, sebuah suara lembut memanggil namanya.
"Lea," kata seseorang dengan lembut.
Ia mengangkat kepala, matanya yang bengkak dan merah melihat sepasang sepatu flats yang sederhana. Pandangannya naik, mengikuti rok linen yang sopan, hingga sampai pada wajah Rossa. Wajah yang selama ini ia anggap penuh dengan kelicikan dan kepura-puraan. Tapi saat ini, yang ia lihat hanyalah sebuah kelelahan yang dalam, dan yang lebih mengejutkan, adalah belas kasihan yang tulus. Seperti dulu, saat ia masih sangat kecil.