Bab 48 - Pulih

86 13 0
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

"Satria... Mama takut. Mama takut orang jahat itu datangi Mama lagi. Mama takut," kata Rena dengan suara serak. Tangisannya sedikit mereda setelah cukup lama berada dalam pelukan putranya.

Satria mengendurkan pelukannya, perlahan ia bergerak mundur dan menatap wajah sang mama dengan saksama, "maksud Mama apa?" balas Satria heran. Ocehan mamanya sungguh aneh.

"Orang itu... orang yang udah bunuh Sheina."

Satria melebarkan mata, ia sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Renata. Bukan tanpa alasan, selama ini yang ia ketahui bahwa kematian sang adik yang masih berada dalam kandungan mamanya dua tahun silam itu karena terjatuh dari tangga hingga menimbulkan pendarahan. Namun mengapa kini Rena berkata bahwa ada orang lain yang sudah membuat Rena kehilangan bayinya? Apa wanita itu kini sedang berhalusinasi? Atau semacam delusi akibat kesehatan mentalnya yang terganggu?

"Mama jangan pikirin itu ya, mungkin semalam Mama mimpi buruk. Mending sekarang kita makan aja, terus Mama minum obat. Supaya Mama bisa istirahat," saran Satria sambil mengusap lembut kepala bagian belakang Renata.

"Enggak, sayang. Mama gak mimpi, Mama ingat wajah orang itu sekarang. Orang yang udah bikin mama keguguran," ungkap Rena yakin.

Satria mengerutkan dahi, alisnya saling bertaut saat mendengar sebuah fakta mengejutkan yang selama ini tidak ia ketahui, "siapa, Ma?"

"Dokter kandungan yang periksa Mama waktu itu. Yang bilang kandungan Mama tidak sehat dan kasih obat supaya kandungan Mama tetap bertahan, tapi Mama malah tiba-tiba ngerasa kesakitan setelah minum obat itu."

"Dokter kandungan?" Satria memastikan dan Rena mengangguk semangat, "Mama masih ingat wajahnya?"

Rena mengangguk pelan. "Masih."

Satria berbalik badan, menoleh ke arah Kia, "gue pinjem buku dan pulpen lo."

"Iya, Kak. Sebentar." Gadis itu langsung menuruti perintah Satria dan menyerahkan sesuatu yang Satria minta.

Satria segera meraih benda itu dari tangan Kia lalu menyerahkannya pada Rena. Ia tahu kemampuan sang Mama dalam membuat sketsa wajah masih tetap ada, karena selama ini Rena merupakan salah satu desainer ternama yang pastinya memiliki bakat dalam membuat desain pakaian dengan indah dan rapi. Sehingga jika dia harus menggambar sebuah sketsa wajah pun kemungkinan tidak akan sulit, dan hasilnya pasti akan jelas terlihat.

Baik Satria maupun Kia secara saksama memerhatikan gerakan tangan Rena yang dengan lihai membuat goresan indah yang diciptakan dari pulpen milik Kia di atas kertas dalam buku. Tanpa jeda, tangan Rena terus saja bergerak hingga hasilnya dapat terlihat dalam waktu kurang lebih lima menit.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang