Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ketegangan jelas terasa kala Dewa dan Satria saling menautkan mata dengan sorot tajam, juga karena Kia yang sedikit merasa tidak nyaman akan kehadiran Dewa walaupun sebenarnya ia cukup merasa senang karena perasaannya terhadap Dewa belum sepenuhnya pudar.
Dewa kembali menatap ke arah Kia, ia merubah raut wajah dengan memancarkan senyuman merekah. "Aku mau minta maaf soal waktu itu, aku tahu kamu gak seharusnya dapat perlakuan kasar dari Salsa." Tangannya bergerak ke samping, mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. "Ini sebagai permintaan maaf aku," sambungnya. Ia memberikan sebuah coklat batang dengan kacang mede di dalamnya.
Mata Kia membelalak, sedangkan hati dan pikirannya kini sedang saling berseteru. Jika hatinya meminta untuk menerima permintaan maaf beserta cokelat itu, tapi pikirannya jelas menolak keras karena mungkin akan menjadi masalah baru antara dirinya dengan geng Queen Bees.
Satria memahami situasi yang dialami Kia, ia tahu gadis itu tengah berada diambang kebingungan. Lalu ketika tangan Dewa bergerak semakin mendekat ke arah Kia, Satria langsung segera menahannya.
"Kia lagi gak makan coklat, dia takut kalau nanti gemuk," kata Satria. Lalu ia langsung menggenggam tangan Kia dan membawanya berjalan melewati tubuh Dewa.
Spontan Dewa meraih tangan Kia hingga langkah gadis itu tertahan. "Atas dasar apa hak lo ngatur hidup Kia? Ini bukan urusan lo!" ujar Dewa. Ia menautkan kedua alis.
Satria langsung melepaskan tangan Kia seraya mengangkat kedua tangannya ke atas, "Oke, sekarang lo tanya aja sendiri sama Kia, dia mau nerima permintaan maaf lo sepaket dengan coklat itu, atau milih pergi bareng gue!"
Tatapan Dewa kembali beralih pada Kia, walaupun tanpa berkata-kata, matanya seolah meminta keputusan yang keluar dari mulut gadis itu.
Kia menelan ludah, matanya bergerak ke kanan dan kiri untuk menghindari kontak mata dengan Dewa. "Maaf ya, Kak. Sebaiknya jangan bikin Kak Salsa salah paham lagi, permisi." Gadis itu langsung berlalu melewati tubuh Satria yang masih berdiri berhadapan dengan Dewa.
Satria tersenyum penuh kemenangan, dengan tatapan meremehkan, pria itu langsung berlalu menyusul kepergian Kiara. Sedangkan Dewa yang terlanjur dipermalukan di depan Satria yang notabenenya siswa yang tidak ia sukai karena sering membuat masalah di sekolah membuat tangannya mengepal kuat disertai amarah yang tertahankan.