Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Dewa melangkah gontai memasuki rumah. Sepatu yang biasanya ia taruh rapi kini dibiarkan tergeletak sembarangan di depan pintu. Wajahnya muram, sorot matanya kosong, seolah semua semangatnya tertinggal di luar sana. Seharian ini pikirannya berputar tak karuan. Bayangan siang tadi terus menghantui saat ia berdiri kaku di atas rerumputan, menyaksikan gadis yang ia sukai, seseorang yang selama ini ia jaga dalam doa diam-diam, tersenyum hangat sambil memeluk pria lain.
Brakk!
Suara benturan yang tercipta dari tas ransel yang Dewa lemparkan ke arah rak buku jelas cukup keras. Karena lemparan itu bukan sebatas karena rasa lelah, tapi kecewa yang ia terima dari gadis yang untuk pertama kalinya membuat teduh hatinya. Namun siapa sangka, ternyata dia tidak pernah memiliki perasaan lebih terhadapnya apalagi soal ketulusan.
Dewa mengempaskan diri di atas ranjang, dalam kamarnya yang sunyi, tanpa menyalakan lampu. Matanya menatap langit-langit, bibirnya bergetar menahan isak yang enggan keluar. Hari ini, ia merasa dunia mengecil, menyisakan hanya dirinya dan rasa patah hati yang tak bisa ia bagi pada siapa pun. Ia memejamkan mata seraya berusaha menghilangkan semua angan-angan tentang kisah cinta yang ia kira akan berjalan mulus sesuai rencana. Hatinya seakan diremas. Napasnya berat. Ia mencoba meyakinkan diri kalau mungkin itu hanya salah paham, hanya momen biasa. Tapi semakin ia mengingkari, semakin perih luka itu terasa.
Tak perlu lama untuk meratapi nasib buruknya, ia pun kembali membuka mata dan menoleh ke arah samping yang memperlihatkan isi tasnya yang berserakan. Pria itu segera bangkit dan merapikan kembali benda pribadi miliknya: alat tulis, headset, ponsel, serta buku novel. Namun sepertinya ia merasa ada sesuatu yang hilang. Sebuah benda penting yang selalu ia bawa, flashdisk berbentuk kunci yang isi folder di dalamnya terdapat bukti kejahatan Vanya yang merencanakan pembunuhan suaminya sendiri: rekaman suara, rekaman CCTV, bahkan rekaman kamera dashboard mobil Anton yang sengaja ia matikan sebelum kejadian nahas itu terjadi.
Dewa terus saja berusaha mencari benda kecil itu yang ia yakini bahwa masih berada dalam tasnya, ia mengibaskan beberapa buku serta mencari di setiap ruang dalam tasnya. Namun ternyata, nihil.
Benda itu tidak ada. Sudah berkali-kali Dewa cari tetap tidak ditemukan. Akhirnya ia coba mencari ke dalam laci nakas, ke dalam lemari pakaian, lemari buku, bahkan di setiap sudut ruangannya tetap tidak ditemukan.
Dewa kembali menjatuhkan tubuh pada ranjang, ia duduk dengan kepala menunduk, serta tangan yang meremas rambutnya seraya memejamkan mata untuk mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melihat benda berharga itu.
"Restoran pizza..." gumamnya, "Kiara?"
Akhirnya Dewa kembali mengangkat kepala, ia yakin terakhir kali melihat benda berharga itu saat ia makan bersama Kia di sebuah Restoran pizza. Dan setelah ia ingat kembali ternyata ponsel miliknya yang selalu dipakai untuk berbisnis pada saat itu dalam kondisi dimatikan, namun ia baru sadar bahwa setelah itu kondisi ponselnya hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANTITESIS [TAMAT]
Teen FictionDalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan. ****** Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
![ANTITESIS [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/343815248-64-k36320.jpg)