Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
"Halo, om... aku udah sampai di kafe ya... oke, aku tunggu..." pungkas Kia. Ia menutup sambungan teleponnya bersama Dion, asisten pribadi ayahnya. Ia meminta pria itu menemuinya untuk membahas suatu hal yang menyangkut misteri kematian ayahnya, tentang pelaku kejahatan yang ternyata kini sudah bebas menjalani masa tahanannya dengan sangat singkat.
Saat minuman yang dipesannya sudah tiba, dan ia tersenyum ramah ke arah pelayan kafe, tiba-tiba atensinya beralih ke arah luar kaca, ia seperti merasa sedang diperhatikan oleh seseorang, namun nyatanya tidak ada siapa pun yang mencurigakan di luar sana selain orang yang hanya sekadar berlalu-lalang saja.
"Aneh,” gumam Kia. “Tadi siga aya anu merhatikeun."
"Hai, Kia... Maaf om telat ya, karena tadi itu jalanan dari Bandung ke Jakarta lumayan macet juga," sapa Dion yang tiba-tiba muncul, mengagetkan Kia yang tengah sedikit melamun.
"Ibu sudah sampai rumah, Om?" tanya Kia.
"Sudah, tadi Om antarkan ibu kamu dulu, baru ke sini." Dion duduk di seberang Kia.
"Tapi Om gak bilang kan kalau mau ketemuan sama aku di sini?" tanya Kia memastikan. Ia mengerutkan dahi, merasa sedikit khawatir.
"Enggak kok. Bu Rossa tahunya saya langsung pulang ke rumah.” Dion menggeleng pelan. “Memangnya ada perlu apa kamu minta ketemuan sama Om tanpa sepengetahuan ibu kamu?" lanjutnya.
Dion mulai menatap mata Kia dalam-dalam, ia tahu sepertinya gadis itu memiliki sebuah rahasia atau mungkin pertanyaan serius yang melibatkan dirinya dalam mencari bala bantuan.
"Kenapa pelaku yang bunuh Ayah sekarang sudah bebas masa tahanan? Bukannya hukuman dia penjara selama tujuh tahun enam bulan ya? Tapi kenapa belum genap sebulan dia sudah berkeliaran di luar?"
"Maksud kamu apa?" Dion melebarkan mata, nampak jelas raut wajah terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang sedang diucapkan oleh Kiara.
"Aku sudah temui pelaku itu di kantor polisi beberapa hari lalu, dan kemarin aku lihat dia, aku yakin banget dia teh orang yang waktu itu aku temui."
"Kamu ketemu sama dia di mana?"
Sejenak Kia terdiam, ia memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Dion? Apa ia harus mengaku tentang kejadian kemarin yang mengancam keselamatannya? Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa hal itu tidak boleh diketahui oleh siapa pun agar ibunya tidak merasakan khawatir yang berlebihan terhadapnya. Toh, nyatanya dia baik-baik saja dan tidak tidak mendapatkan luka sedikit pun pada tubuhnya.