Bab 14 - Masalah keluarga Satria

180 69 191
                                        

Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.

 Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Suasana ruang kelas XII IPS-1 pagi ini cukup ramai: ada yang menyenderkan kepala pada ujung meja dan tidur dengan pulas, ada juga yang sibuk mengerjakan PR sambil menguap, di sudut lain ada sekumpulan siswa yang bernyanyi keras sambil memukul permukaan meja, serta pada gadis yang saling bergosip mengenai hal unik yang pagi ini mereka temui saat masuk ke dalam gerbang sekolah. Tak lama Edo, Riko, Juan, dan Reyhan muncul, mereka berjalan santai sambil membusungkan dada dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, berlagak menjadi objek sorotan satu sekolah walaupun tanpa keberadaan Satria di depan mereka.

“Halo.... warga-wargaku...” sapa Edo sambil melambaikan tangan, ia berucap dengan meninggikan intonasi yang membuat teman sekelasnya menoleh serentak.

“Gaya lo udah kayak ketua RT aja!” Juan mengusap kasar permukaan wajah Edo.

“Enak aja ketua RT! Kalian lihat aja sepuluh tahun ke depan gue bakalan jadi presiden, dan muka ganteng gue terpampang nyata di sana,” kata Edo. Telunjuknya mengarah pada sebuah foto yang terletak di atas papan tulis kelas.

Riko terbahak-bahak, “hahahaha... muka kayak gini jadi presiden?” Tangannya berhasil memegang kedua pipi Edo. “Eh, ngaca dong! Muka lo aja pas-pasan kayak kembalian ongkos angkot.”

Sontak para siswa di kelas itu ikut terbahak menertawakan Edo. Namun hal itu sudah biasa terjadi selama hidupnya, sehingga tak sedikit pun Edo merasa sakit hati akan ucapan kasar temannya yang memang ia tahu itu hanya candaan konyol yang menjadi identitas anggota geng Alaska, kecuali Satria dan Reyhan yang selalu bertingkah dingin di hadapan orang lain.

“Hei... jangan kurang aja ya lo sama gue,“ cakap Edo. Telunjuknya hampir menempel pada ujung hidung Riko, “muka pas-pasan gini juga nilai ulangan matematika gue kemarin 75, gak kayak kalian 60 semua!” Lalu pria itu menunjuk satu persatu teman-temannya.

“Eh, bener loh.” Lengan Juan bergerak melingkar pada punggung Edo, “difikri-fikri...”

“’Dipikir-pikir’, bego!” sambar Edo.

“Iya... maksudnya itu. Dipikir-pikir kok lo bisa dapetin nilai matematika 75? Tumben lo unggul dari Rey yang cuma dapet nilai 70.”

Edo semakin membusungkan dadanya, dengan tangan yang ia letakkan pada kedua pinggang, ia menebarkan senyuman penuh kemenangan. “Makanya... mikir!” Telunjuk Edo mengetuk-ngetuk kepalanya.

“Pake otak?” tanya Juan.

“Rambut! Hahaha...” Edo kembali terbahak-bahak bersamaan dengan Riko dan Juan, sedangkan Reyhan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan, lalu ia berjalan menuju kursinya yang terletak dibagian belakang.

ANTITESIS [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang